Alina.
Setiap mendengar pelajaran olahraga mesti sudah kebayang gimana nanti, yah...kayak sekarang ini aku harus muterin jalan yang ditunjuk oleh guru olahraga. Nafasku sudah ngos-ngosan nggak kuat, masa bodoh mau urutan yang keberapa karena sekarang aku cuma ingin istirahat plus ngelurusin kaki yang pasti udah pada kaku semua.
"Aku gak kuat Rish...hhh, Rish.. tunggu"
Ucapku dengan nafas terengah-engah.
"Kenapa Al, baru aja lari satu kilo udah gak kuat.."
Ejek Varisha.
Dasar Varisha, padahal sudah lima tahun dia mengenalku tapi tetap aja dia selalu lupa kalau aku tidak kuat berlari lama. Ia lalu memutar tumitnya menghampiriku. Beberapa detik kemudian Justin tampak berlari menghampiriku, dia pasti sudah menyelesaikan beberapa putaran, walaupun kita beda kelas tapi jadwal olahraga kita sama.
"Justin.. Jus, sini"
Teriak Varisha kepadanya.
Ia menatapku jahil. Sumpah dia mau ngapain manggil Justin segala.
"Justin yang baek dan tidak sombong, laki kece badai dan keren disekolah"
Puji Varisha berlebihan.
Aku yang mendengarnya hanya tapok jidad dan geleng-geleng nggak percaya. Laki kece badai disekolah? Kaca mana kaca, kelihatan banget yang ngomong alaynya mesti udah level akut.
"To the poin aja, gak usah berlebihan"
Ucap Justin datar.
Justin memandang Varisha datar lalu ia menatapku aneh, aku tersenyum kikuk kearahnya.
"Sebagai pacar yang baik, nih tolong Alina. Al sekarang kan ada Justin aku tinggal lari lagi ye"
Ucap Varisha dengan nada yang dibuat-buat layaknya preman pasar.
Varisha lalu berlari sambil menjulurkan lidahnya padaku. Dasar gadis gila. Kabut putih tiba-tiba datang, membawa hawa kecanggungan yang mendalam, apaan deh. Aku lalu beranjak dan menarik nafas dalam, sedangkan Justin masih menatapku dengan pandangan yang sama.
"Kamu kenapa Al? "
Tanya Justin memandangku heran.
"Em...anu..apa.. aduh... udahlah ayo lari lagi"
Jawabku gugup sambil menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatal.
Justin memelankan langkahnya mengikuti kakiku yang dikatakan tidak lari melainkan jalan santai, namum karena nggak enak karena Justin terus-terusan mengikutiku, akhirnya aku memutuskan lari menggunakan sisa-sisa tenaga yang masih aku punya.
"Sumpah aku gak kuat lagi, dasar Varisha gak bantu malah buat dadaku tambah sesak"
Gerutuku pelan.
"Jushh...plis..berhenti akuh..gak kuat"
Kataku terengah-engah.
"Iya.. iya, kamu kenapa ?"
Aku hanya geleng-geleng, rasanya oksigen di bumi ini memang benar-benar habis, untuk menjawab pertanyaan Justin saja nafasku sudah tidak kuat.
"Eh...ambil nafas.. keluarin, ambil nafas lagi keluarin"
Ucap Justin, sambil mengelus punggunku.
Aku mengikuti instruksinya dan lumayan juga nafasku sudah tidak terlalu tersengal-sengal seperti tadi.
"Gimana mendingan ?"
Tanya Justin masih dengan air muka khawatir.
Aku hanya mengangguk. Justin memutuskan untuk jalan menemaniku, padahal aku sudah menyuruhnya untuk lari duluan tapi dia tidak mau, entahlah ini sebenarnya diluar perjanjian, maksudku bersikap normal kalau hanya berdua, tapi Justin terlalu khawatir padaku seperti khawatir kepada kekasihnya.
"Kalian dari mana saja!"
Getak Pak Niko, guru olahraga kami.
Aku hanya diam menunduk. Tak jauh dari letakku berdiri Adresia menatapku dengan tatapan mematikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Same Mistakes
Teen Fiction[COMPLETED] "Kau tak harus bertanya itu, karena kau sudah tahu jawabannya. Semua yang telah kau lakukan, tidak akan membuat kita kembali relevan" Alina Orlin. "Menyakitkan tapi itu perlu. Jika kau hancur maka akulah yang harus memperbaikinya...
