Justin.
Kemarin aku sangat keterlaluan pada Alina, aku tidak berpikir kenapa aku bisa meninggalkan dia, seharusnya saat dia memintaku untuk pergi aku harus tetap di sana.
Saat aku sedang menuju taman, pandanganku teralihkan oleh sosok gadis yang menyendiri dengan buku ditanganya. Siapa lagi kalau bukan si gadis jenius itu. Saat aku mendekat, ia nampak serius dengan buku novel yang ia baca, wajahanya memancarkan kedamaian.
Saat aku hendak mendekati Alina, pemilik mata almond itu segera membalikan kepala kaget.
"Al aku minta maaf"
Ucapku segera saat ia hendak berdiri.
Dia menoleh dan memberikan senyum simpul padaku. Senyum getir lebih tepatnya.
"Hehhh...emang kamu punya salah apa sama aku Jus ?"
Ucapnya menutup buku dan pergi menjauh dariku.
Aku berjalan lebih cepat menyesuaikan langkah kakiku dengan nya. Dia menatapku sebentar lalu mengalihkan pandangan ke ponsel milik nya, bisa dipastikan pasti dia sudah muak untuk melihatku.
"Soal kemarin, aku ninggalin kamu. Sebenarnya aku nggak bermaksud gitu Al, aku cuman emosi aja"
Jelasku padanya hati-hati.
Ia tidak merespon sama sekali, kedua kakinya masih melangakah pasti diiringi kedua manik mata almond yang sibuk menatap ponsel.
"Santai aja kali Jus. Lagian apa pedulinya kamu ke aku, soal yang kemarin bagiku sudah cukup menjawab pertanyaanku saat ini"
Ucapnya santai diiringi senyum getir yang menghias bibir Alina.
Tanpa ia sadari Ucapannya barusan seperti sayatan pedang buatku, lebih baik aku melihatnya marah atau menamparku dan semua ini bisa usai, dari pada dia terus-menerus bersikap tenang namun perlahan menjauh dariku, dia mempercepat langkahnya dan aku tidak lagi mengikuti Alina, minta maaf ke dia untuk sekarang ini tidak ada gunanya, mungkin lusa atau besok aku akan mencoba lagi.
Ia berlari kesalah satu mobil putih yang terparkir di depan sekolah, terlihat laki-laki memeluk Alina cepat dan menggiring Alina untuk masuk ke mobilnya, entahlah aku tidak tau pasti siapa lelaki itu.
Aku diam merutuki diriku, apa yang bisa kulakukan? Aku akan marah? Tapi apa statusku dengannya, kita hanya menjalankan fake relationship dan itu rencana gila yang bertujuan memamerkan kepada mantanku Aila bahwa aku sudah melupakannya, mungkin Alina menerimanya juga dengan tujuan yang sama yaitu untuk Azka dan Reynan, seharusnya aku berterimakasih pada nya bukan malah seperti ini.
"Jus itu Alina sama siapa?"
Tanya seseorang dibelakang ku.
"Mungkin itu sama saudara atau temannya"
Kataku asal. Karena tidak terlalu jelas wajah lelaki itu.
"Mmm...Lex kalau kamu nanti sore gak sibuk, aku boleh kerumahmu ?"
Tanyaku menghadapnya.
Mungkin jika aku cerita masalah ini ke Alexi, ia bisa membantu, karena Alexi termasuk orang yang dekat dengan Alina, bahkan aku sendiri tau kebiasaan Alexi yang rutin memberikan setangkai mawar kuning untuk Alina, kadang-kadang aku juga bingung, sebenarnya apa hubungan dia dan Alina, bahkan dia yang notabene sebagai teman bisa seromantis itu.
"Sebenarnya nanti sore Alina mengajakku ke toko buku, tapi sepertinya dia sudah ada yang mengantar"
Ucap Alexi memandang mobil putih yang tedi menjemput Alina.
Aku tersenyum lega kearahnya. Tapi apa aku siap jika nanti semua akan terbongkar, termasuk rencana gila ini, entah rasanya terlalu berat jika memberi tahu masalah ini kepada orang lain, tapi nanti akan aku coba.
●•♬●•
Adresia berulang kali memandang foto laki-laki yang tersimpan di galerinya. Ia mencoba memastikan jika laki-laki yang didepannya sekarang memang orang yang ia cari. Perlahan ia mendekatkan jarak antara dia dengan lelaki yang sedang sibuk menyusuri rak kemeja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Same Mistakes
Teen Fiction[COMPLETED] "Kau tak harus bertanya itu, karena kau sudah tahu jawabannya. Semua yang telah kau lakukan, tidak akan membuat kita kembali relevan" Alina Orlin. "Menyakitkan tapi itu perlu. Jika kau hancur maka akulah yang harus memperbaikinya...
