"DIVA!"
Diva menoleh. Seorang cowok dengan sebuah payung berwarna pink dengan motif hello kitty tengah berlari ke arahnya yang sedang berteduh dari derasnya hujan di bawah pos satpam.
"Apa?" sahut Diva, "kok lo bawa-bawa payung gituan, sih?"
Diva menutup mulutnya, menahan tawa. Dave nyengir lebar sebelum menjawab pertanyaan Diva. Diva sendiri terbatuk, menyamarkan tawanya.
Tidak bisa ia bayangkan sebelumnya, cowok ganteng macam Dave memakai payung hello kitty warna pink. Itu amat sangat unyu.
"Ayo gue anter ke depan gang. Lo pasti mau pulang, kan?" tanya Dave masih berdiri di bawah naungan payung imutnya. Ia mengulurkan tangannya pada Diva, hendak mengajaknya ke depan gang menyari angkutan umum karena tahu Diva akan menolak ajakannya pulang bersama. Hujan masih turun deras.
Diva mengangguk. "Nggak usah, Dave. Gue nunggu hujan reda, aja."
Soalnya gue mau ngelihatin Divo dulu, sambung Diva dalam hati. Tapi buru-buru ia lenyapkan niatnya. Move on! Diva menegaskan pada dirinya dalam hati.
Kebetulan saat itu Divo dan Ara sedang berteduh di depan ruang multimedia yang letaknya nyaris berseberangan dengan pos satpam. Sakit sih melihat Divo dengan Ara. Tapi kalau bahagianya Divo cuma sama Ara, lantas Diva bisa apa?
Melihat dia bisa memunculkan 2 rasa berbeda. Senang karena melihatnya dalam jangkauan. Namun sedih juga karena hatinya bukan milik Diva.
"Lo pasti lagi ngelihatin kembaran gue. Ayolah, jangan nyakitin diri lo sendiri terus. Setelah perjuangan lo yang dikacangin sama dia, masa' lo masih bertahan aja, sih." Dave melirik kembarannya sinis.
Kebiasaan Dave kalau sudah menyangkut tentang Diva dan Divo, selalu menyerocos panjang lebar. Diam-diam Diva pernah berharap, hubungan Divo dengannya sedekat Diva dengan Dave. Andai saja Divo sebawel Dave, tentu Diva akan sangat bahagia dan selalu menanggapinya dengan baik.
Tapi sayangnya, itu nggak mungkin terjadi. Dan Diva pun sebenarnya sedang menata hatinya lagi. Tidak mengizinkan dirinya mencintai terlalu dalam lagi.
"Ayo." Sebelum Diva sempat membalas perkataan Dave, Dave sudah terlebih dahulu menarik tangannya. Menembus hujan di bawah naungan payung, berjalan ke depan gang untuk mencari angkutan umum.
"Gue kan udah bilang nggak usah." Diva memutar bola mata, sebal.
"Tapi gue mau nganterin lo ke depan gang, gimana dong? udah terlanjur juga." Dave malah nyengir menyebalkan. Diva jadi kepengin menabok lengan Dave dengan wedges yang biasa Bunda pakai, deh.
Diva mengedarkan pandangannya. Kakinya bergerak-gerak gelisah menunggu angkutan umum untuk segera datang, karena kalau tidak, selama itu pula ia harus berada di bawah payung yang sama dengan Dave yang menyebalkan dan sok akrab itu.
Diva tidak sebal pada Dave sebenarnya, sungguh. Hanya saja, dia selalu terbayang-bayang wajah Divo saat sedang bersama Dave. Oh, itu jelas. Karena mereka berdua kembar, otomatis wajah mereka pun serupa. Tapi Diva masih bisa membedakan yang mana Dave dan Divo, kok. Hanya saja, terkadang Diva suka tertukar antara Dave dan Divo saat ia sedang panik atau sesang kurang fokus.
Tiba-tiba ekor mata Diva melihat Dimas yang baru saja keluar dari minimarket dengan sebotol soda di tangannya. Hujan tak dihiraukannya. Tampaknya Dimas pun menyadari keberadaannya, sehingga langsung melempar cengiran pada Diva.
Diva membalas cengiran Dimas dengan cengiran yang sama lebarnya. Dimas sangat manis kalau sedang nyengir. Kedua lesungnya langsung terlihat. Oh, Diva baru sadar Dimas punya sepasang lesung yang manis. Eh, memuji ciptaan Tuhan itu wajar, kan?

KAMU SEDANG MEMBACA
Consciente
Fiksi RemajaIni kisah tentang Diva dan Divo yang saling menarik ulur meskipun Divo sudah memiliki pacar. Tentang Dimas dan eksistensinya yang serupa cokelat hangat di musim hujan dan es krim pasca patah hati. Tentang Dave yang menjatuhkan hatinya pada Diva yang...