Langit malam tampak cerah. Bintang-bintang bertaburan di atas sana. Diva merapatkan jaket denim berwarna biru yang ia kenakan. Diva berjalan ke luar dari rumahnya disusul Bunda yang membawa seloyang brownies yang tampak sedap san hangat lantaran baru dikeluarkan dari oven.
"Diva, itu jaketnya dilepas, dong. Nggak gerah emangnya?" omel Bunda yang risih melihat Diva mengenakan jaket denim.
Diva menggeleng. "Biasa aja, Bun. Bunda suka lebay, deh."
"Meski pun Om Setya nggak kaku, kamu nggak boleh seenaknya, ya?" nasihat Bunda kala ia dan putri semata wayangnya memasuki halaman rumah di sebelahnya.
Diva mengangguk.
"ASSALAMU'ALAIKUM, OM SETYAAA."
Bunda membulatkan matanya. Kemudian mengomel tanpa suara.
Diva menyengir dengan wajah tanpa dosa pada Bundanya yang ia tahu mungkin hampir saja berpikiran untuk menimpuk Diva dengan loyang brownies yang ia bawa.
Terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah, disusul bunyi 'cklek' sebelum pintu terbuka.
Seorang pria paruh baya yang beralis tebal dan berhidung mancung (yang kayaknya menurun pada anaknya) muncul dari balik pintu. Senyuman lebar terpampang di wajahnya. "Eeeh, silahkan masuk Bu Ina, Diva."
Diva menyengir lebar. "Nggak disuruh juga saya bakal masuk, Om."
Melihat tingkah polah anaknya, Bunda ingin menepuk dahi rasanya kalau saja dirinya tidak sedang membawa seloyang brownies.
"Nggak usah repot-repot, Bu Ina. Saya sudah menyiapkan makanan di dalam." Om Setya tersenyum lebar yang dibalas senyuman sama lebarnya oleh Bunda.
"Nggak apa-apa, Pak Setya. Ini oleh-oleh dari tempat terjauh di dunia Pak, alias rumah sebelah, hehehe," jawab Bunda seraya terkekeh.
Seperti biasa, Bunda memang kriuk.
Malam ini, Diva, Bunda dan Om Setya memang mengadakan makan malam bersama. Bukan hanya Bunda dan Diva saja. Om Setya juga mengundang beberapa tetangga lainnya.
"Belum ada yang datang?" tanya Bunda begitu melihat ruang makan yang sudah tertata rapi namun tak seorang pun berada di sana.
"Belum, Bu Ina."
Bunda ber-oh ria. "Ini saya taruh di sini, ya?" tanya Bunda, meletakkan brownies di atas meja makan.
Om Setya mengangguk.
Diva menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan.
Dekorasi ruang tengah dan ruang makan yang berampingan itu agak berubah. Barangkali Om Setya memang ingin ganti suasana.
"Om, aku boleh ke atas, nggak? Ke ... kamarnya Dimas? Hehehe," pinta Diva seraya tersenyum canggung. Aneh nggak sih kalau Diva tiba-tiba pengin ke atas?
Om Setya menoleh pada Diva dan mengangguk ramah. "Iya, nggak apa-apa. Anggap saja rumah sendiri."
Diva menaiki tangga menuju lantai 2 sementara Om Setya dan Bunda mengobrol di meja makan. Menunggu tetangga yang lain datang.
Diva menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru lantai 2 yang teramat sepi. Bagaimana tidak? Kamar Om Setya sendiri berada di lantai 1 dan yang biasa menghuni lantai 2 ini sedang pindah.
Harusnya Diva takut karena ada beberapa sudut gelap yang tak terjangkau cahaya. Namun kenyataannya Diva biasa saja.
Diva menekan saklar agar seluruh lampu di lantai 2 menyala. Begitu lampu menyala semua, lantai 2 rumah itu menjadi terang benderang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Consciente
JugendliteraturIni kisah tentang Diva dan Divo yang saling menarik ulur meskipun Divo sudah memiliki pacar. Tentang Dimas dan eksistensinya yang serupa cokelat hangat di musim hujan dan es krim pasca patah hati. Tentang Dave yang menjatuhkan hatinya pada Diva yang...
