Bab 22: Bukan Kabut Bukan Halimun

471 8 0
                                        

Ma Ji-liong mengangkat kepala, sinar mentari menyorot mukanya. Walau wajahnya bukan lagi muka yang gagah dan tampan, bukan wajah yang bisa mempesona para gadis hingga jatuh cinta padanya, tapi siapa pun yang melihatnya, sikapnya pasti hormat dan serius.

Thiat Tin-thian mengawasinya, "Transaksiku tadi sebetulnya cukup baik, boleh sekarang juga teken kontrak, kenapa kau malah tidak setuju?"

"Karena aku juga akan menawarkan transaksi yang lebih baik untuk mereka, kutanggung bila syaratnya sudah kujelaskan, mereka akan menerima dengan senang hati," demikian bantah Ji-liong.

"Transaksi apa?" tanya Coat-taysu. "Ada persoalan apa yang lebih baik daripada transaksi yang ia tawarkan tadi?"

"Mereka mempertaruhkan dua jiwa untuk menebus diriku," demikian ujar Ma Ji-liong tertawa. "Jelas transaksi ini mengundang kerugian, kenapa aku setuju?"

"Lalu bagaimana dengan transaksimu?" tanya Coat-taysu.

"Kebalikannya, yaitu dengan satu jiwa menebus dua jiwa mereka," sahut Ma Ji-liong.

Coat-taysu menyeringai dingin, "Transaksimu tak bisa diterima."

"Lho, kenapa?"

"Tidak ada orang yang dapat menebus jiwa kedua orang ini," sinis nada perkataan Coat-taysu. "Tidak ada jiwa seseorang di dunia ini yang bernilai setinggi itu."

"Ada, hanya seorang saja," seru Ji-liong. "Aku tahu ada seorang yang cukup setimpal untuk menebus jiwa mereka berdua."

"Siapa dia?" tanya Coat-taysu.

"Ma Ji-liong."

Memicing mata Coat-taysu begitu mendengar nama Ma Ji-liong, dahi pun berkerut.

Ma Ji-liong alias Thio Eng-hoat ini juga memicingkan mata. "Aku tahu orang yang ingin kalian cari bukan Thiat Tin-thian, Ma Ji-liong adalah buronan kalian yang utama."

Coat-taysu mengangguk.

"Dengan jiwa Ma Ji-liong, setimpal tidak untuk menebus jiwa mereka?"

"Ya, cukup setimpal," ujar Coat-taysu, jelas sekali perubahan mimik mukanya berusaha menekan emosi. "Sayang sekali siapa pun tidak bisa menemukan jejak Ma Ji-liong."

"Ada orang yang bisa menemukan dan menunjukkan di mana sekarang ia berada," seru Ma Ji-liong lantang. "Paling sedikit ada seorang yang dapat menunjukkannya."

"Siapa yang bisa menunjukkan jejak Ma Ji-liong?"

"Aku!" teriak Ma Ji-liong lantang, jelas ia pun berusaha mengendalikan diri. "Bila kalian membebaskan kedua orang ini, aku tanggung kalian akan menemukan Ma Ji-liong."

Mendadak Thiat Tin-thian bergelak tawa, "Kau memang kawan baik, transaksimu juga bagus sekali, sayang siapa pun takkan mau meneken kontrak yang kau tawarkan itu." Suaranya serak dan tersendat. "Siapa mau percaya obrolanmu."

Coat-taysu diam saja, tidak perduli. Ma Ji-liong juga tidak menghiraukan ocehan Thiat Tin-thian. Dua orang ini berhadapan, bertatap muka, saling pandang, meski mata memicing, tapi sorot mata mereka setajam jarum.

Sepatah demi sepatah Ma Ji-liong berkata, "Kau tentu tahu dan yakin, bahwa apa yang kuucapkan bukan obrolan. Aku tidak membual."

"Ya, aku tahu," sahut Coat-taysu. "Tapi aku tak bisa dan tidak akan membebaskan mereka lebih dulu sebelum memperoleh jaminan atau bukti."

"Kau tidak percaya kepadaku?"

"Bila kau serahkan Ma Ji-liong, mereka segera kubebaskan."

"Aku saksinya," seru Pang Tio-hoan dari samping.

Darah Ksatria - Gu LongCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang