Mayat Ong Ban-bu juga tidak terluka, tiada noda darah pula, jantungnya tergetar hancur oleh pukulan lunak yang amat dahsyat, itulah penyebab kematiannya.
"Kenapa ia pun dibunuh?" yang bertanya adalah Cia Giok-lun.
Yang menjawab Thian Tin-thian, "Dia memang pantas dibunuh. Orang yang menjadi mata-mata, mengkhianati sahabat, memang beginilah nasibnya."
"Kau kira Bu-cap-sah sengaja membunuhnya supaya rahasia dirinya tidak terbongkar?" tanya Ji Liok.
Ya, memang demikian. Secara langsung pertanyaan itu sudab terjawab, satu-satunya kemungkinan, juga satu-satunya jawaban.
Pertanyaan yang tidak bisa dijawab orang yaitu Bu-cap-sah di mana? Toa-hoan di mana? Dengan cara keji apa Bu-cap-sah akan menyiksa atau mempermainkan Toa-hoan?
Mereka tidak berani memikirkan persoalan ini, menduga pun mereka tidak berani.
------------------------------ooo00ooo-----------------------------
Kentongan berbunyi tiga kali, kentongan ketiga adalah saat yang membuat orang putus jiwa dan melayang sukma.
Mendadak Thiat Tin-thian teringat pada Coat-taysu. Waktu mendengar jeritan kaget Cia Giok-lun tadi, Thiat Tin-thian langsung memburu ke sana, tapi Coat-taysu tetap berada di pinggir kolam di taman belakang.
Padahal ia pun mendengar jeritan itu, pantasnya ia menduga di sini telah terjadi sesuatu yang menakutkan, seharusnya ia pun memburu ke mari. Tapi ia tidak datang, bayangannya tidak kelihatan, entah apa yang sedang dilakukan di sana.
Apa Coat-taysu juga dibunuh seperti Ong Ban-bu? Setelah jiwa melayang, mayatnya disembunyikan di suatu tempat gelap dalam gedung kosong dan menakutkan ini?
Di tangannya juga menggenggam sebutir batu hitam?
Tempat ini mulai dilingkupi suasana seram, bayangan gelap yang sewaktu-waktu siap untuk merenggut jiwa manusia. Setiap orang di antara mereka mungkin menjadi korban berikutnya, disergap dan dibunuh secara keji.
Kakek timpang yang cacat tubuh itu sudah menjadi korban yang pertama, kedua adalah Ong Ban-bu dan ketiga mungkin sekali adalah Coat-taysu, lalu giliran siapa pula selanjutnya?
------------------------------ooo00ooo-----------------------------
Kentongan ketiga baru saja lewat, tabir malam makin kelam. Mungkin sekali korban berikutnya yang akan jatuh menjelang fajar lebih banyak. Pembunuh kejam itu laksana setan gentayangan, siap mengintai jiwa mereka, sedikit lena jiwa bisa melayang. Mungkin sekali dari tempat pcrsembunyiannya pembunuh itu sudah mengincar salah satu korban di antara mereka.
Ma Ji-liong insyaf sekarang sudah tiba saatnya untuk mengambil keputusan tegas. "Kalian lekas pergi saja," demikian katanya.
"Pergi?" teriak Cia Giok-lun. "Pergi ke mana?"
"Terserah kalian mau pergi ke mana, asal lekas meninggalkan tempat ini."
"Kau suruh kami pergi, lalu apa yang akan kau lakukan di sini?" tanya Cia Giok-lun sengit.
"Aku...." tersendat suara Ma Ji-liong.
Mendadak Cia Giok-lun berkata keras, "Aku tahu apa yang akan kau lakukan, kau akan tinggal di sini mencari Toa-hoan. Jika kau tidak menemukan dia, kau pasti tak mau pergi."
Ji-liong memanggut. Katanya, "Apa aku tidak pantas mencarinya?"
"Ya, memang kau pantas mencari dia," jengek Cia Giok-lun. "Tapi kenapa tak kau pikirkan? Apa kau bisa menemukan dia? Kalau ketemu memangnya kenapa? Memangnya kau mampu merebut dia dari tangan Bu-cap-sah? Apa kau kira Bu-cap-sah tak berani membunuhmu?" Makin bicara makin emosi, "Tujuanmu hanya mencari dia. Kecuali Toa-hoan, memangnya kami bukan manusia? Kenapa kau tak memikirkan kepentingan orang lain? Kenapa tak memikirkan keselamatanmu sendiri?" Pada kalimat yang terakhir, air matanya sudah tidak terbendung lagi, ia menangis terisak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Darah Ksatria - Gu Long
AventuraKhu Hong-seng, Toh Ceng-lian, Ma Ji-liong dan Sim Ang-yap adalah empat pesilat muda yang sedang naik daun di dunia persilatan. Mereka berasal dari keluarga persilatan ternama dan kaya-raya. Di tengah hujan salju, mereka berkumpul di Han bwe-kok, seb...
