SORAKAN keluar dari mulut para siswi kala Aldi melintas. Kali ini Aldi tak meladeni mereka. Ia tetap menatap lurus ke depan.
"Tania!" serunya pada Maddie yang tengah bersandar pada sebuah pohon.
Maddie hanya menyipitkan matanya, lalu mengangguk sekilas. Setelah itu, dia memperbaiki posisi berdirinya.
Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil yang berbunyi dua kali, tanda pemilik mobil telah menekan tombol buka kunci pada kunci mobilnya. Tapi, itu bukan mobil Aldi.
Itu mobil Edward.
Tiga detik kemudian, Maddie melihat Edward dan Amy masuk ke dalam mobil. Dadanya panas melihat pasangan itu. Namun dia bisa apa? Karena mengungkapkan perasaan saja, dia tidak berani melakukannya. Berniat saja tidak.
Aldi memperhatikan gerak-gerik Maddie. Ia mengikuti arah tatapan Maddie. Aldi melihat seorang cowok dan cewek yang tidak dia kenal.
Tania suka cowok itu? pikirnya.
Tapi segera ditepisnya jauh-jauh pikiran itu. Kalaupun memang benar Maddie menyukai cowok itu, Aldi harus apa? Dia bukan siapa-siapanya Maddie yang berhak mengatur hidupnya. Yang ada dia hanya akan diomeli Maddie sepanjang hari tanpa henti.
"Tan, ayo," ucap Aldi menyadarkan Maddie dari lamunan.
Maddie terhenyak, lalu masuk ke dalam mobil. Ia duduk di jok depan.
Suasana di dalam mobil selama perjalanan sangat hening. Maddie berkali-kali menarik dan menghela napasnya.
"Gue nyalain radio ya," celetuk Aldi. Ia meminta izin karena takut Maddie terganggu.
Lah, dia yang punya mobil, kenapa izinnya ke gue? Aneh, batin Maddie. Tapi dia membalas dengan anggukan saja.
Aldi menekan tombol on pada radio mobilnya. Pas sekali. Lagu yang terputar adalah salah satu lagu favoritnya. Berjudul Seperti Yang Kau Minta.
Maddie hanya diam, sementara Aldi bersenandung mengikuti irama lagu.
Aku tahu ku takkan bisa
Menjadi seperti yang engkau minta
Namun selama nafas berhembus
Aku 'kan mencoba
Maddie mulai menetralkan perasaannya. Karena emosinya tidak juga membaik setelah melihat Edward dan Amy tadi.
Aku tahu dia yang bisa
Menjadi seperti yang engkau minta
Namun selama aku bernyawa
Aku 'kan mencoba
Sambil bernyanyi, Aldi menyempatkan melirik Maddie.
Menjadi seperti yang kau minta
Maddie masih diam. Dia sempat terkejut mendengar suara Aldi yang ternyata sangat bagus. Maddie suka mendengarnya. Emosinya sekarang sudah membaik. Terimakasih kepada Aldi.
"Eh, udah sampe," ujar Aldi ketika mobil berhenti di depan sebuah rumah.
Aldi turun dari mobil, begitupun Maddie. Mata Maddie tertuju pada bangunan yang Aldi bilang adalah rumahnya.
Rumah Aldi cukup besar. Apalagi rumah ini memiliki pekarangan yang luas. Gaya rumah Aldi juga terkesan tidak ketinggalan jaman, walaupun rumah ini telah dibangun sebelum Aldi lahir.
Ini rumah Aldi. Benar-benar rumahnya. Ia memang pernah tinggal di beberapa daerah, namun itu dikarenakan lokasi syutingnya. Jadi mau tak mau, ia sering berpindah-pindah. Tapi di rumah inilah orang tuanya, beserta kenangannya tinggal.
"Ayo masuk, Tan," ajak Aldi pada Maddie. Maddie menyusul.
"Assalamu'alaikum, Mah," Aldi mengucap salam ketika menjejakkan kakinya di ruang keluarga.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lovely Haters
Teen FictionApa yang kalian pikirkan kalau denger nama Aldian Trevor? Itu lho, cowok ganteng blasteran yang sekarang populer karena debutnya dalam film layar lebar. Tapi dia punya haters. Cowok imut kayak dia, siapa yang bisa benci sih? Nggak percaya? Kenalan...
