SUDAH dua hari Aldi tak mengajak Maddie bicara seperti biasa. Bahkan, ketika ditanya, Aldi hanya menjawab singkat dan kadang malah tak menjawab.
Maddie pikir, Aldi marah karena mengira Edward dan dirinya telah berpacaran. Astaga, Maddie bahkan tak lagi membalas pesan Edward ketika menembaknya. Maddie ingin menjelaskannya pada Aldi, namun seperti biasa. Selalu ada rasa gengsi yang membatasinya.
"Gue tau apa yang terjadi," kata Ellen tiba-tiba. Cewek itu kemudian duduk di bangku Aldi, di sebelah Maddie. Aldi sedang main basket di lapangan bersama Kevin dan anak laki-laki lainnya karena sekarang jam pelajaran olahraga.
Maddie mengernyit, "Emang apa yang terjadi?"
"Dua hari yang lalu, gue ke rumah Aldi buat nganter makanan dari nyokap gue. Dan waktu itu Aldi lagi ke toilet, tapi hapenya gak kekunci dan dalam keadaan nyala. Gue 'kan kepo, tuh. Jadi ya udah, gue cek, dan ternyata Aldi lagi ngebuka chat lo berdua," jelas Ellen. Dia yakin inilah masalah yang membuat Aldi menghindari Maddie.
Maddie menghela napas. "Len, gue bahkan nggak ngebales chat dari Edward lagi sejak dia nembak gue."
Tunggu, Ellen merasa ada yang aneh.
"Kok lo nggak mau nerima Ed? Lo kayak ogah-ogahan gitu. Gue pikir lo masih suka dia?"
"Y–ya, ya gue 'kan–"
"NAH!" Ellen sontak berdiri seraya memukul meja. "Lo ... pasti udah ga suka sama Ed, kan? Trus lo suka Aldi, 'kan?" lanjutnya.
"EH, APAAN SIH, LEN?!" pekik Maddie kesal. "Jangan suka menyimpulkan sesuka lo, deh."
Ellen lantas merengut. "Siapa yang nyimpulin sendiri? Orang emang begitu kenyataannya. Udah deh, lo jujur aja sama gue, Di."
Kalau udah terpojokkan gini, Maddie nggak bisa ngeles lagi.
"Sepertinya lo bener, Len. Gue ... memang udah nggak suka Ed. Lo juga bener soal, eh, soal gue suka sama orang itu."
Ellen menghela napas. "Kalo aja lo bilang dari dulu, mungkin Aldi gak bakal salah paham sama lo gini."
***
Maddie mengibas-ngibaskan tangannya, tanda ia kegerahan. Padahal, AC kelasnya sudah menyala, tapi tetap saja rasanya panas. Untungnya, lima menit kemudian bel istirahat berbunyi. Oh iya, hari ini Aldi tidak masuk sekolah dan tak ada yang tahu kenapa. Maddie yakin Aldi bukanlah tipe pembolos, tapi dia juga tidak tahu kenapa Aldi tak sekolah tanpa keterangan.
Baru saja Maddie dan Ellen keluar dari kelas, Edward sudah berada di depannya, dengan senyum yang dahulu selalu menjadi favorit Maddie.
"Mau ke kantin bareng?" tawar Edward dengan senyum yang masih terpatri di wajahnya.
Maddie mengabaikannya dan berlalu begitu saja dengan Ellen di belakangnya.
"Gue suka banget liat player macam dia ditolak langsung," komentar Ellen.
Maddie hanya terkekeh mendengarnya. Setelah sampai di kantin, dia segera memesan makanan. Kali ini Ellen yang memesan minuman, biar adil katanya.
Maddie kembali ke mejanya lebih dulu. Tiba-tiba, seseorang datang dan langsung duduk di depan Maddie.
Edward.
"Ngapain lo?" tanya Maddie ketus.
Dengan santainya Edward menjawab, "Gue mau makan, sekaligus ngapelin lo."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lovely Haters
Teen FictionApa yang kalian pikirkan kalau denger nama Aldian Trevor? Itu lho, cowok ganteng blasteran yang sekarang populer karena debutnya dalam film layar lebar. Tapi dia punya haters. Cowok imut kayak dia, siapa yang bisa benci sih? Nggak percaya? Kenalan...
