"EH, Di," Ellen menahan tangan Maddie.
"Itu... Ed, bukan?" Ellen berbisik sambil menunjuk ke arah gerbang dengan dagunya.
Maddie mencari sosok yang dimaksud Ellen. Ia mematung, matanya terpaku pada sosok itu.
"Kenapa berhenti, sih?" tegur Ellen tidak sabaran.
"Tunggu, Len. Kapan lagi bisa ngeliat Edward duduk anteng di atas motor gini."
Ellen menarik tangan Maddie, karena kalau tidak, dia pasti akan tetap berdiri di situ.
Tiba di gerbang.
Tepat dua langkah dari Edward yang sedang duduk di motornya, berbincang dengan ketiga temannya. Sedetik setelah Maddie menapakkan kakinya di samping pagar, suara Edward mengagetkannya, juga Ellen.
"Hai Maddie. Mau pulang ya?"
Singkat, terdengar sangat klise, tapi mampu membuat tubuh Maddie menegang seketika.
Sadar bahwa sahabatnya diam saja, Ellen menyikut siku Maddie, "Di, ditanyain tuh."
Maddie tersentak. Lalu menoleh ke arah Edward. "Nggak pulang, ke mal dulu sama Ellen."
"Ooh, gitu. Ngomong-ngomong Aldi mana?"
Kok malah nanyain Aldi, sih? pikir Maddie.
"Nggak tau," jawab Maddie dengan sok datar.
"Ya udah, hati-hati ya," tutur Edward sambil tersenyum manis ke arah Maddie. Sungguh, rasanya Maddie ingin meleleh saja sekarang. Ia yakin pipinya mulai memerah, dan itu berarti ia harus segera pergi dari sini sebelum Edward melihatnya.
"Dasar player, Ketos aja digebet," koor teman-teman Edward ketika Maddie telah pergi.
"Iri tanda tak mampu," timpal Edward.
"Masalahnya lo terlalu pede ngajak dia ngobrol. Cowok kayak lo mana bisa dapetin Maddie? Lo liat sendiri 'kan, tadi dia responnya agak tertutup gitu," tambah Bian, salah satu komplotan Edward.
"Astaga," Edward mendecakkan lidahnya, "kalian tuh nggak tau caranya deketin cewek. Gue nggak peduli, mau dia Ketos atau cewek dingin. Pasti gue dapetin, gampang," lanjutnya dengan angkuh.
"Bego!" Vito menoyor kepala Edward, "Jangan bilang lo beneran mau pacarin Maddie?"
"Maunya sih gitu, tapi dia terlalu tertutup, susah dijangkau."
"Jangan lupa Ed, sekarang 'kan ada Aldi. Dia kayaknya suka sama Maddie, akhir-akhir ini selalu ngekorin Maddie terus," Bian mengingatkan Edward.
"Dia nggak ada apa-apanya dibanding gue, kok. Lagian gue denger-denger Maddie benci dia," kata Edward yakin.
"Ya jelas ada apa-apanya lah! Lo dibandingin sama Aldi, di mana-mana juga Aldi yang menang. Dia 'kan blasteran, terkenal, abis itu pinter. Nah elo? Perkalian aja belom tentu hafal," olok Fano yang disambut gelak tawa dari Bian dan Vito.
"Biarpun Maddie benci Aldi, kalau cowok itu terus-terusan deketin Maddie ya, bisa aja lo kecolongan. Udah deh, nggak ada harapan buat lo."
"Liat aja nanti."
"Kalo lo berhasil dapetin Maddie, nanti gue traktir deh. Terserah mau di mana."
"Nah, gue setuju tuh. Kalo gitu, gue doain semoga lo bisa dapetin Maddie."
***
Maddie menaiki eskalator dengan Ellen. Wajahnya masih saja memerah, terlihat jelas karena kulitnya putih pucat.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lovely Haters
JugendliteraturApa yang kalian pikirkan kalau denger nama Aldian Trevor? Itu lho, cowok ganteng blasteran yang sekarang populer karena debutnya dalam film layar lebar. Tapi dia punya haters. Cowok imut kayak dia, siapa yang bisa benci sih? Nggak percaya? Kenalan...
