(20) Sensitive Aldi

4.5K 209 19
                                        

TEMPAT duduk Maddie masih kosong, tapi sudah ada Aldi yang duduk manis sambil bersidekap dikursinya. Ia memanyunkan bibirnya ketika Maddie mendekat ke arahnya. Dibelakangnya sudah ada Kevin dan Ellen.

"Minggir," ucap Maddie cepat.

Aldi berdiri dari bangkunya, namun tangannya masih bersidekap.

"Kenapa lo?" tanya Maddie ketika Aldi masih saja cemberut. Aduh, imutnya.

Astaga, apa yang baru saja Maddie pikirkan? Kenapa pula dia bertanya apa penyebab bibir Aldi mengerucut begitu? Hal itu 'kan tidak begitu penting. Maddie harus mengontrol dirinya.

Aldi diam saja. Ia enggan menjawab pertanyaan Maddie. Sebenarnya kalau dia sedang tidak merajuk, pasti pertanyaan dari Maddie akan dia jawab dengan senang hati. Masalahnya, Aldi sedang marah–ralat, sedikit kesal pada teman sebangkunya itu. Masa tanpa masalah apa-apa Aldi disuruh pindah? Ya, dia nggak mau, dong. Tempatnya ini begitu sempurna.

Maddie menghela napas. Sepertinya akhir-akhir ini Maddie jadi terlalu lunak. Hal ini tidak bisa dibiarkan.

"Kalo cuma masalah tempat duduk, jangan harap gue bakal berubah pikiran. Pokoknya, gue tetep duduk sam Ellen."

Aldi masih bungkam.

"Ya udah sih, tinggal gue yang pindah aja," kata Maddie lagi begitu melihat Aldi tak kunjung merespon. Ia berdiri dari bangkunya, lalu menyuruh Kevin pindah ke tempatnya–disamping Aldi.

Aldi pokoknya hanya diam. Ngambek.

Kevin pun pindah dengan pasrah. Maddie mengambil alih tempat duduknya. Ellen berdecak panjang melihat betapa kekanak-kanakannya sahabat dan sepupunya itu. Kalau saja Maddie menjelaskan pada Aldi perigal mengapa ia bersikeras 'berpisah' dengan Aldi, pasti cowok itu akan mengerti dan mencari jalan keluarnya. Mau bagaimanapun, dia juga turut andil dalam masalah ini, karena dia yang mengaku-ngaku berpacaran dengan Maddie. Tapi hal itu nggak mungkin terjadi. Tipikal Maddie, cewek yang gengsian banget.

Aldi juga. Hanya karena tempat duduk, dia jadi sensian begini. Padahal Maddie 'kan hanya dibelakangnya. Tinggal nengok, udah deh, ketemu.

Dasar Aldi.

***

Bel istirahat baru saja berdentang, membuat Maddie spontan tersenyum sumringah. Ia senang karena setelah ia melakukan apa yang penggemar Aldi minta–yang juga menjadi keinginannya sejak dulu–pasti hidupmya akan damai. Maddie mulai muak. Maddie tidak takut. Maddie mengerti saat seorang penggemar cemburu ketika idolanya memiliki pacar.

Maddie cuma nggak habis pikir, bagaimana bisa mereka percaya semudah itu? Ya memang itu langsung diucapkan dari mulut Aldi, sih. Tapi, memang semua yang Aldi ucapkan mereka percaya semudah itu? Apa semuanya mereka anggap benar? Mereka seakan terhipnotis begitu saja.

Maddie bergidik. Dia nggak bisa membayangkan kalau dirinya jadi salah satu penggemar anarkis Aldi. Hih, aneh.

"Lama banget sih, Len," dumel Maddie sambil menatap Ellen yang tengah mengikat tali sepatunya.

"Sabar dong. Kantin nggak akan kemana-mana, kok."

Maddie berjalan duluan, kemudian disusul Ellen sepuluh detik setelahnya.

Seperti biasa, Maddie disapa adik kelas atau teman seangkatannya, atau teman beda jurusannya. Semuanya hanya Maddie balas dengan senyuman tipis.

Meskipun minggu depan dia sudah tidak lagi menjabat sebagai ketua OSIS, berhubung pemilihan pengurus baru akan dilaksanakan. Patut diakui selama Maddie menjabat, OSIS menjadi lebih aktif lagi dan nama Lentera Indonesia semakin dikenal.

Maddie menitip pesanannya pada Ellen yang akan ke warung Bi Nimas, warung andalan mereka. Maddie yang membeli minum. Untung mereka cepat datang, kalau tidak, antrean minuman pasti sudah sangat panjang dan penuh sesak. Maddie bergidik membayangkannya, apalagi kalau harus mengantre bersama cowok-cowok tukang rusuh.

Setelah kurang lebih sepuluh menit mengantri, Maddie akhirnya dapat bernapas dengan lega. Ia segera melangkahkan kakinya ke arah mejanya. Bukan miliknya, namun Ellen sudah ada di sana. Jadi, kita sebut saja itu mejanya.

Maddie melirik sekilas ke antrean warung Bi Nimas, ternyata tidak terlalu ramai dibandingkan antreannya tadi. Pantas Ellen sudah duduk manis.

"Sumpah ya, pegel banget kaki gue ngantri beli minum," keluh Maddie sambil membuka tutup botol air mineralnya. "Kenapa di sekolah kita penjual minumannya cuma satu, sih?!"

Ellen mengangguk setuju. "Itulah kenapa gue nggak mau beli minum."

"Dasar," Maddie mencibir pada Ellen yang sudah mulai menyantap makanannya.

Tanpa basa-basi, Maddie turut menyantap suapan pertamanya. Ia menatap sekeliling, terlihat mencari seseorang. Sepertinya, dia tidak melihat batang hidung orang itu sejak tadi.

Ke mana dia? Kalau Kevin saja ada, kenapa dia tidak? Padahal biasanya Aldi dan Kevin udah kayak perangko. Lengket.

"Nyari siapa lo?" ucap Ellen menyadari gelagat Maddie.

"Nggak ada."

"Oh iya. Lo bawa flashdisk gue gak? Gue mau ngasih ke Pak Ardi."

Maddie mengangguk. "Ada, tapi ditas."

"Kalo gitu, gue ke toilet dulu deh. Nanti lo ambil di kelas. Kita ketemu di OSIS aja

Maddie mengangguk lagi sebagai balasan.

"Btw, Aldi kayaknya nggak rela banget tuh, pisah sama lo."

"Lah, dia emang lebay."

"Coba deh, lo sadar sama hati lo. Jangan buta."

"Buta apaan, deh? Udah berkali-kali lo bilang gitu."

"Tentang Aldi dan hati lo. Kenapa sih, lo selalu ngelak dengan bilang kalo lo benci sama dia?"

"Gue 'kan masih–"

"Don't ever say that you still have that shit feelings for Edward. Gue nggak percaya!"

"Len, gue tau lo pasti pengen sepupu lo bahagia. Tapi nggak dengan cara maksa gue juga. Bukannya rasa itu baru bisa muncul dengan perlahan? Gue hanya ... hanya belum terbiasa dengan orang yang suka sama gue dan menunjukkannya secara terang-terangan kayak gini, apalagi kita sekelas. Gue ngerti pasti nggak enak dicuekin sama orang yang kita suka. Tapi, gue juga nggak bisa bohong, 'kan? Yang ada, gue hanya bikin dia sakit hati."

"Wow, gue nggak nyangka lo berjuang banget ngomong panjang lebar kayak gitu demi menutupi perasaan lo. Lo itu nggak bisa berbohong sama gue, Maddeline. Dan juga, gue nggak maksa lo. Gue cuma mau ngingetin, jangan nyesel ketika Aldi udah berpaling dari lo. Biasanya gitu, 'kan? Karma dateng belakangan and that's why gue ingetin lo dari sekarang. Gue cuma gak mau orang-orang terdekat gue terluka. Lo coba deh, buat lebih terbuka sama Aldi dan nggak bersikap kayak patung gitu. Ketika lo udah terbiasa, lo pasti ... bakal suka juga sama dia."

Kalimat terakhir yang Ellen lontarkan, sepertinya sudah terjadi saat ini.

***

My Lovely HatersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang