BENAR, 'kan.
Lagi-lagi, Aldi nggak bisa tidur. Lama-lama Aldi bisa gila kalau begini terus. Apa perasaan yang dia miliki terhadap Maddie sebegini rumitnya?
Aldi belum tahu, mengejar keinginan memang sulit. Ia rasa dirinya harus belajar dari Edward tentang bagaimana Edward bisa membuat Maddie menyukainya. Hmm, tapi, kalau menurut Aldi, ia bahkan lebih baik dari Edward.
Basket? Aldi juga bisa. Jago, malah.
Wajah tampan? Ya ampun, nggak usah diragukan lagi.
Pintar? Nggak mungkin Aldi bisa sekelas sama Maddie kalo dia bego.
Baik dan pengertian? Yah, tentu saja Aldi memiliki kedua sifat itu. Buktinya, ia merelakan Maddie makan malam dengan Edward.
Pekerja keras? Pantang menyerah? Nggak mungkin Aldi bisa sesukses ini kalau dia males, nggak mungkin dia bersikukuh mendekati Maddie walau Maddie masih belum bisa ditebak.
Ah, tapi Edward lebih unggul dalam satu hal.
Bahwa cowok itu sudah lebih dulu hadir dan lebih dulu mengisi hati Maddie.
Namun, Aldi merasa ada yang tidak beres mengenai cowok itu. Mungkin suatu saat, Aldi bisa mencari tahu dan mengungkapkannya pada Maddie.
Terus, nanti Maddie sukanya bukan sama Edward lagi, deh. Tapi sama Aldi. Hehe.
Omong-omong, dalam hal percintaan, Aldi termasuk pemula yang berani. Ia mengucapkan "suka" dan "sayang" secara gamblang disaat orang lain harus berpikir milyaran kali untuk melakukannya.
Aldi memang orang yang seperti itu. Yang terang-terangan dan tidak menyembunyikan sesuatu. Ah, tapi ada pengecualian. Ia bisa saja menyembunyikan sesuatu dari seseorang. Bukan karena sengaja, melainkan hal yang ia sembunyikan mungkin dapat menyakiti hati orang itu. Jadi, lebih baik dipendam daripada membuat orang lain terluka. Itu prinsip Aldi.
Namun, memangnya benar Aldi sayang pada Maddie? Benarkah ia cinta pada Maddie? Benarkah? Mengapa semuanya begitu cepat dan tidak terduga? Aldi nggak ngerti. Nggak ngerti kenapa ia bisa jatuh pada Maddie. Kenapa ia bisa takut kehilangan cewek itu. Kenapa ia khawatir Maddie bakal pacaran sama cowok lain. Semuanya begitu tiba-tiba.
Satu hal yang paling Aldi khawatirkan malam ini.
Apa Maddie baik-baik saja?
Dia tidak memikirkan apa yang Maddie dan Edward bicarakan. Yang dia pikirkan hanya Maddie saja.
Sebab apa? Penyebabnya tentu karena sebuah rasa yang tidak hanya cukup dijelaskan dengan kata-kata. Tidak cukup dijabarkan dengan ilmu tertinggi sekalipun. Karena perasaan yang Aldi miliki saat ini memiliki arti berbeda-beda bagi setiap orang.
***
Kafe Phoenix dikunjungi oleh lumayan banyak orang malam ini. Ada yang datang sekeluarga, atau dengan teman, juga dengan pasangan.
Bagi orang-orang yang melihat Edward dan Maddie, mungkin akan mengira mereka sepasang kekasih. Yah, kalau diperhatikan memang mereka nampak seperti itu, sih.
Tadi, Edward menjemput Maddie, lalu mereka ke Kafe Phoenix berdua, menggunakan mobil Edward. Tampak seperti pasangan. Serasi. Cocok.
Tapi sayangnya, tidak saling cinta. Dulu, salah satu diantara mereka memang pernah mencinta. Namun, sekarang rasa itu tak lain hanyalah kagum semata.
Satu kata untuk Edward; terlambat.
Tapi, bagi cowok macam Edward, tak pernah ada kata terlambat baginya. Bahkan, menurutnya ia datang lebih awal untuk mempermainkan. Tepat sekali. Dia hanya tidak tahu kalau Maddie sudah ... berpaling.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lovely Haters
Teen FictionApa yang kalian pikirkan kalau denger nama Aldian Trevor? Itu lho, cowok ganteng blasteran yang sekarang populer karena debutnya dalam film layar lebar. Tapi dia punya haters. Cowok imut kayak dia, siapa yang bisa benci sih? Nggak percaya? Kenalan...
