Chapter 7 : Bared Secret

77 18 1
                                        






"Sharoonn!!!oh my Sharonn" teriak Ruby dari ujung lorong membuat Sharon kaget pagi-pagi sudah bikin panas kuping, terlihat Ruby tengah berlari kecil menyusul Sharon, tangannya mengepak seperti ayam mencoba terbang wajahnya sumringah seperti habis memenangkan lotere. Gayanya gak jauh kayak anak kecil abis dibelikan airbanas di pasar malam.

"paan sih, bikin kaget tau. malu tuh diliatin"jawab Sharon judes, matanya melirik sekitar berharap tak ada yang memerhatikan mereka berdua, Sharon pun berlalu meninggalkan Ruby yang masih menari-nari bahagia seperti orang gila.

"ya elah.. gua malah ditinggal, wait me beibeh.. you have to explain something to me" teriaknya sekali lagi dibarengi dengan suara jingkat kakinya yang berlari mengejar Sharon

"apaan apaan??" jeplak Sharon gemash. Sungguh anak berkaca mata ini bikin gemas pengen jontor kepalanya sampek lupa ingatan,udah cerewet SKSDnya beh, minta di siram air keras. Lain dengan Olin yang wataknya santai, kalem dan Easy going, tenang banget bawaannya, adem deh. Apalagi kalo lagi senyum, duh manisnya. Lesung pipinya itu lho bikin imut, rambutnya yang ikal pas banget dengan raut wajahnya yang kalem. Jadi sedep dipandang. Nah kalo yang satu ini, kalo ngomong seenak pantat sejeplaknya dah, keluarnya gak difilter dulu, orang yang ngeliat bakalan mikir kalau Ruby ini anaknya pinter dari kacamatanya,tapi nyatanya nggak, bawaannya tidur terus dikelas. Kalah deh Sharon sama ini anak.

"itu Shaer gue mau Tanya something ke lo, ini emergency shaer" tambahnya sok ke inggris-inggrisan, bahasanya fasihcenderung sumbang kemana-mana. Sharon yakin orang bule sekalipun gak ngerti apa yang dikatakan Ruby karena logat R yang dibuat-buat oleh Ruby.

Sharon hanya diam seolah mendengarkan celotehan Ruby yang nyaris gak jelas, seperti ratu inggris yang lagi sariawan sedang menyampaikan pidato kebesarannya. mata Sharon kini berputar mencari objek lain, objek yang lebih enak dipandang, tangan kirinya berusaha menutup telinganya yang malang, kepalanya ngangguk-ngangguk seolah mendengarkan Ruby.
dirasa Ruby sudah menyelesaikan omongannya, Sharon pun gantian berbicara "gak usah sok inggris deh, ada apa sih?berat neh tas gue"
merekapun berdialog diambang pintu. hari itu masih pagi jadi tidak banyak anak-anak yang berlalu lalang disekitar, dari luar hanya terlihat didit yang sedang mengaca ditempat duduknya dan segerombol gossip girls dipojok yang pada ngomongin apa entah gak jelas. sayup-sayup terdengar percakapan mereka dari balik pintu, telinga seorang anak dibalik itu gatal ingin mendengarkan suara perempuan judes itu yang membuatnya penasaran, tangannya menggeram memegang penghapus papan tulis.

***
[Alga Pov]

"jadi kamu beneran lupa ya shae, huft"dengusnya kesal, matanya kosong menatap tulisan-tulisan yang bagai menari nari diatas buku yang ia baca.tak bisa pikirannya konsentrasi menelaah isi buku karya JK.Rowling itu. Pikirannya berlari-lari mengingat percakapan yang ia dengar pagi tadi, sungguh jawaban perempuan judes itu mantap, memecah kan balok-balok keingin tahuan akan kepastian yang mengambang selapis diatas kepala, andai saja ia lebih tinggi pasti itu dapat ia gapai dengan mudah, hanya saja kakinya malas untuk berjinjit meggapainya, TIDAK, bukan malas, namun keraguan yang mengurungkan kakinya. Kini semua sudah jelas, semacam bebannya terangkat,namun masih menyisakan sedikit,yaitu keraguan. Haruskah ia katakan? atau pendam untuk memulai dari awal saja? tentang cerita mereka. cerita yang mereka bangun sendiri dulu ketika belia. Kembali kalimat perempuan judes itu mengiang di otaknya. Kejadian tadi pagi........

"Alga bersihin gih tuh penghapus, numpuk tuh kapurnya" suara salah satu temanku mengagetkanku, yah selama dua bulan ini aku didaulat menjadi ketua kelas untuk kelas ini, bukannya santai ini malah diberi tugas yang pantasnya dikerjain PU, tapi yasudahlah, nganggur lagian. Tiba-tiba aku mendengar suaranya, terlihat dia sedang berbicara didepan pintu dengan temannya, temanku juga. Aku hapal suara mereka. Bibirku terangkat menggambarkan senyuman ketika mendengar suaranya yang terdengar malas, kebiasaan ini anak, dari kecil judesnya bikin mules. harus tahan deh ngadepinnya. Tapi tunggu, Alga? mereka baru saja menyebut namaku, apa aku salah dengar. Lebih baik kupastikan dengan telingaku sendiri

"ituh gue mau Tanya something ke lo" "ini emergency shaer"

"gak usah sok inggris deh, ada apa sih?berat neh tas gue" aku terkekeh mendengarnya, judesnya ini anak bikin kangen, membuatku ingin menjitak kepalanya

"ok to the point. Kata olin lo tetanggaan ya sama Alga? kok lo gak bilang-bilang sih Shaer? tau gitu kan gue bakalan sering-sering main kerumah lo Shaer, itung-itung lewat depan rumah Alga" tambah perempuan berkacamata yang tampak kegirangan itu, membuatku geli, sepertinya dia menyukaiku. ckckck

"lah terus? gue harus ngapain nih? melompat kegirangan kayak lo gitu? Idiw..malu-maluin" lagi-lagi membuatku terkekeh. membuatku Flashback ketika baru mengenalnya sewaktu TK, sulit sekali mengajakknya berbicara, tapi lama-lama luluh juga itu anak.khkhhkhk

"Lagian juga gue baru tau kemarin, pas jalan bareng olin. mana gue tau kalo itu rumah si Alga, dan gue tekankan sekali lagi yah, rumah gue jauh dari rumah si Alga"tambahnya, kali ini berbeda, tawaku bagai berubah menjadi petir yang menghanguskan hatiku, begitu juga memori-memoriku yang dulu. dia bener-benar lupa rumahku, pasti dia juga melupakanku. Mulutku tercengang, jantungku berdegup kencang, tenggorokanku tecekak. Kaget aku dibuatnya, bukannya melebih-lebihkan, tapi ini masalah hati, mau apa Cuma hati yang tau. Hati itu sendiri yang membuat petir itu turun menghujam hatiku seperti tusukan jarum. Langkahku kendur, berjalan beberapa langkah ke belakang. berharap tak mendengar kelanjutannya. Lebih baik tidak tahu sekalian. hufft.. OK kita bisa mulai dari awal Shae, dan gue bukan Alga yang dulu, Alga yang lo kenal dulu. Gue gak bakal maksa lo buat inget gue, atau kenangan kita dulu, intinya kali ini bakalan beda. Liat aja.

***

"oy ketua kelas!!" suara Sharon membuyarkan lamunan Alga, tangan perempuan itu dikibas-kibaskannya didepan wajah pemimpin kelas yang tengah konsentrasi pada novel karya JK.Rowling itu, berharap teriakannya digubris, Alhasil lamunannya buyar. kejadian tentang tadi pagi
"apaan sih?" jawabnya judes. Sedikit kesal masih membekas dihatinya, andai saja dia bisa menoyor kepala gadis yang tengah duduk didepannya ini, setidaknya agar dia bisa ingat sedikit tentang dirinya

Ewwhhhh gemesss gumamnya

"oyy gue bicara sama lo kali, dengerin napa! set dah" ulang Sharon tanpa ragu, seraya memicingkan matanya karena merasa diabaikan, keringat dinginnya terus mengalir.

"...." bibir Alga tak bergeming, hanya kedua alisnya yang terangkat memberikan isyarat bahwa ia mendengarkan Sharon. matanya tak lepas dari buku yang ia genggam dari tadi, yang dari tadi tak ia baca

"gue mau ngomong sesuatu nih, loe dengerin kan?" pinta Sharon sambil melirik sekitar, takut-takut ada yang mendengarnya, suasananya sepi, kebanyakan dari mereka lebih memilih menghabiskan waktu istirahatnya dikantin atau diluar kelas, termasuk Olin teman sebangku Sharon. Kecuali dua anak itu yang sepertinya tengah sibuk sendiri, menciptakan keheningan diantara mereka, rasa canggung menyelimuti mereka berdua

Masih tak ada jawaban, namun kali ini Alga mengangkat kepalanya dan merapatkan kedua alisnya. Tampaknya tertarik dengan yang akan dikatakan Sharon.ditutup bukunya yang dari tadi tak ia baca, hanya dibolak-balik penuh makna sekedar formalitas. Alga mencoba mereka-reka apa yang akan Sharon ceritakan,apakah ada hubungannya dengan nya atau tidak.dalam hati kecilnya sih berharap. Hatinya bergejolak menunggu kalimat Sharon berikutnya

"hhm gini, kan tinggal lo sendirian nih, nah gue mau minta tolong boleh gak?kepepet sumpah"

kirain apaan..dengus Alga dalam hati

Vote dan komennya jangan lupa ya...

RemindTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang