"Tarik Shaer!! ayo tarik!!" Teriak Olin menyemangati Sharon dkk yang tengah mengikuti lomba tarik tambang,kali ini kelas Sharon bertanding dengan kelas 12 ipa 2 yang merupakan sarangnya si ratu ular pantai selatan alias Sasa, nah sekedar info nih.. Sasa ini adalah anak tunggal dari pemilik DG Group, yang jelas kaya bin raya, dia adalah donatur terbesar di sekolah ini, jadi gak ada yang berani macem-macem sama bocah centil ini, Sasa Dean Gumilang ini punya anak buah yang gak kalah gawatnya, Namanya Putri dan Wanda mereka berdua juga kaya raya tapi gak sekaya Sasa, mereka bertiga ini sekelas, jelas karena ayah mereka yang merupakan dewan sekolah, jadi mereka dengan mudahnya memilih mau masuk kelas mana. Mereka bertiga di juluki Ratu ular, ya karena gaya mereka yang nyentrik dan cara bicara mereka yang nyolot dan hobinya nyari masalah sama adek kelas, btw si Sasa ini naksir sama Alga sampe-sampe dia pernah nembak si Alga. WOW kakak kelas cewek nembak adek kelas cowok, udah gitu ditolak, tapi bukan Sasa namanya kalo nyerah. Sasa gak akan berhenti sampe dia dapetin apa yang dia mau.
"Ini udah gua tarik pe'a! " teriak Sharon kesal.
Dengan sekuat tenaga Sharon menarik tambang yang ada ditangannya, dalam sekali tarikan kelas Sharon dapat mengalahkan kelas 12 yang mulai tumbang, merasa tak terima dengan kekalahan, berdirilah si ratu ular itu, ditariknya rambut Sharon yang sama-sama berada di barisan paling depan
"sini lo kampret! Lo sengaja kan mau ngejatuhin gue? Iya!??"
"Lepasin! Lepasin rambut gue! situ jatoh karna situ kalah!" teriak Sharon tak mau kalah, dengan paksa ia melepas cengkraman tangan Sasa yang masih menjambak rambutnya. Suasana semakin panas didukung dengan cuaca yang sedang panas terik, para murid berbondong-bondong berkumpul di tengah lapangan untuk melihat duel tersebut,bukannya melerai mereka malah bersorak, sebagian dari mereka ada yang menyerukan nama Sharon sebagian lagi ada yang menyerukan nama Sasa, persis seperti pertandingan tinju
"nyolot banget nih adek kelas" tambah Putri dan Wanda tak mau kalah
"situ tu yang nyolot,kalo kalah ya terima aja,ngajak ribut sih iya" sanggah Olin tak terima
"sini lo maju!"
"awas sampe gue maju,gausah nyesel loe!" Sharon menghampiri Sasa tanpa rasa ragu, sesungguhnya Sharon tidak se-tidak-sopan itu kepada kakak kelas, namun Sharon merasa bahwa Sasa yang memulai duluan dan tidak menghargainya sebagai adik kelas.
Pertengkaran semakin heboh,wasit pun datang untuk menengahi namun nahas badan wasit yang kurus kering seperti batang singkong itu tidak dapat menghalau adu bacot antara dua kubu tersebut
"mau apa loe?" tantang Sharon tepat didepan muka Sasa tanpa ragu.
"ini bocah nantang banget mukanya" tambah wanda sambil mendorong Sharon
"woles oi" teriak Ruby sambil balik mendorong Wanda. Dan yak adu dorong pun tak dapat dihindari.
Semakin ramailah supporter diantara mereka, malah sebagian ada yang membawa kursi yang mereka ambil dari kelas agar bisa melihat dengan jelas duel tersebut, keadaan semakin tegang ketika Sasa mendorong Sharon dengan keras hingga Sharon terpelanting ke tanah. Tak mau kalah dengan ketuanya, Wanda dan Putri menjambak rambut Olin dan Ruby. Cakar-cakaran pun terjadi
"Berhenti! Berhenti kalian" akhirnya pak joko datang karena mendapat laporan dari anak-anak jika ada pertengkaran di lapangan, tangan kanan yang menggengggam rotan itu dihunuskannya ke langit, sedetik dua detik tak ada respon dari kubu-kubu yang masih panas itu, mereka masih saling adu bacot dan main 'jambak-dorong', tak mau kalah pak Joko datang tidak dengan tangan kosong,kedua tangannya membawa benda kramat yang selalu dihindari anak-anak. Di tangan kanannya ia menggenggam rotan kesayanggannya yang tak pernah lupa ia bawa, tangan kirinya membawa ember penuh dengan air, bisa ditebaklah ember itu buat apa, bukan buat nyiram tanaman lho ya tapi buat
Byuurrr!!! Tanpa komando air tersebut tersiram ke tubuh Sharon dkk dan Sasa cs, posisi mereka yang masih saling jambak tiba-tiba mengendur
"Kalian berenam ke ruangan saya segera!" tambah pak Joko
🍂🍂🍂
"si Sharon tengkar sama si Sasa" "iya jambak-jambakkan" "gara-gara cowok itu mah" sekilas terdengar sayup-sayup percakapan cewek-cewek tukang gossip itu dari dalam ruang BP
"apa lo liat-liat?"
"Tsah! ngajak ribut bener ini bocah" teriak Sasa tak terima,tangan kirinya hampir mendarat di pipi Sharon namun diurungkannya segera ketika pak Joko datang ke mejanya
"diam!" teriak pak joko menggebrak meja, matanya merah kumisnya bergetar,tampaknya sudah tak bisa mengatasi dua anak bandel ini, ditariknya napas panjang-panjang lalu dihembuskannya penuh emosi
"kalian kurang kapok ya kalau cuma disiram air? Mau kalian bapak jemur? "
"enggak pak" jawab Sharon dan Sasa kompak, mereka pun saling berpandangan dengan ekspresi jijik dengan bibir komat-kamit saling menyumpahi
"saya maafkan kali ini, tapi kalo besok masih diulangi saya panggil orang tua kalian, terutama kamu Sasa! Kamu sudah kelas 12 fokus sekolah lebih baik! Yasudah sana!"
"tapi bukan saya pak yang mulai duluan, dia tuh pak dorong saya" Sasa tidak terima karena di salahkan, dagunya menunjuk-nunjuk Sharon sambil melipat kedua tangannya di dada
"sudah sudah sudah, bapak bilang pergi sana, jangan sampai bapak berubah pikiran terus hukum kalian"
"iya Pak" jawab Sasa pasrah
"makasih pak" jawab mereka berdua masih berbarengan,kali ini tanpa saling berpandangan. Sharon berjalan didepan mendahului Sasa, Sharon tidak ingin mencari masalah lagi kepada Sasa dan tidak ingin memperpanjang masalah
"tunggu pembalasan gue!" bisik Sasa dibelakang telingan Sharon sembari berlalu menanbrak pundak Sharon yang tingginya sejajar dengannya
"Tcih" jawab Sharon malas
🍂🍂🍂
"Gausah emosi beb gausah emosi...Take a deep breathe terus tahan jangan keluarin kalo perlu" hibur Wanda sambil mengipasi Sasa yang tampak emosi di kafe sekolah itu
"apa?!" mata Sasa terbelalak
"canda beb,udahlah bocah ingusan gausah diladenin" ucap Wanda meremehkan seakan-akan mereka bukan bocah ingusan juga
"bener tuh Wanda, mending kita nyalon aja kuy di salon biaa...." Ucapan Putri menggantung matanya terpana oleh sesosok laki-laki yang berjalan berlalu didepan mereka
"sa...Sa..Sa...Sasa...jodoh lu lewat tuh sa..noh noh noh" sambung Putri untuk kalimatnya yang belum tuntas, matanya menunjuk-nunjuk Alga yang berjalan dengan santainya seakan-akan tak ada manusia yang sedang mengamatinya
"eghm,Alga!" panggil Sasa dengan centil, gayung bersambut Alga menoleh mencari sumber suara
"iya! Disini!" tambah Sasa sambil melambaikan tangan agar Alga tau darimana sumber suara gaib tersebut, Alga hanya mengangkat alis meminta penjelasan atas dipanggilnya namanya
"Umm.. sini gabung aja sama kita" tambah Sasa seakan mengerti dengan ekspresi Alga
"saya lagi keburu, sorry lain kali aja" jawab Alga sopan dengan senyum yang manis tak lupa ia tampakkan dari wajahnya yang tegas itu
"okey" jawab Sasa malas, matanya melengos, Sasa membayangkan sudah berapa kali Alga menolaknya walau hanya sekedar jalan atau ke kantin bareng
"makin cuek makin manis ya sa.... Eh btw Alga kasih gue dong....." rengek putri dengan mata yang dikedip-kedipkan
"yeee enak aja,Alga itu hanya milik ratu Sasa seorang, kalian gak liat apa tadi Alga senyum ke gue?tandanya dia sebenernya mau gabung..yhaa mungkin karena dia sibuk jadi dia pending dulu makan bareng inces Sasa..khkhkh" respon Sasa dengan penuh percaya diri, diangkatnya cermin genggam yang dari tadi ia pegang, dilihatnya lekat-lekat wajah nya yang ayu itu namun sayang dempul dengan make up, lalu tangan kirinya merogoh sebuah liptint dikantongnya, dibalurkannya tebal-tebal penuh keyakinan dan tak lupa ia tambahkan sedikit bedak, ralat bukan sedikit tapi banyak, bibirnya tersenyum penuh bangga, hatinya bergumam "gue cantik gini kok...pasti baby Al berpaling kapadaku..aw" geramnya gemas
"kenapa senyum-senyum sendiri Sa?" Tanya putri polos
"akh gapapah...yuk ahh cabut... incess kepanasan nih"
•apresiasi ceritaku ya... Dengan cara memberi vote dan comment^^•
KAMU SEDANG MEMBACA
Remind
Novela JuvenilSharon bertemu dengan serpihan kecil masa lalunya yang sama sekali tak ia ingat, kenangan tentang Alga sahabatnya selalu menghantuinya, Sharon mencoba merangkai kembali memori yang sudah hilang, tentang sebuah misteri masa kecilnya Alga bertemu deng...
