"Ngapain juga lo ngikutin gue terus?"
"gue gak ngikutin lo, gue mau ke kantin" ucap Sahron gelagapan, manik matanya berputar keatas kebawah, Alga berdehem lalu menghela napas panjang
"terus ngapain lo masih disini?" Tanya Alga sambil melirik pintu dihadapannya, di pintu itu tertulis tulisan "GENTLE" dengan font size yang sangat besar
"Ah.. eghm" Sharon tambah gugup, manik matanya berputar-putar mencari objek untuuk mengalihkan pandangannya
"yaudah lanjutin, gue tunggu di kantin ya" lanjut Sharon gelagapan kemudian berlalu meninggalkan Alga dengan kamar mandi yang dingin itu, Sharon melangkah ke kantin kemudian duduk di kursi dengan santai sembari menunggu Alga, karena jarak antara kantin dengan kamar mandi pria tidak begitu jauh, setelah beberapa saat menunggu akhirnya Alga datang menghampiri Sharon lalu duduk di depannya, Sharon tak percaya Alga akan datang ke kantin seperti katanya. Bukan type Alga dengerin terus nurutin kalimat Sharon, Sharon merasa tersanjung bukan main, lebay Sharon mah
Alga masih membaca buku yang ada ditangannya seolah tak menghiraukan Sharon yang duduk memperhatikannya itu
"woy ada orang kali disini, ajak bicara kek" gerutu Sharon dengan sangat lirih, sambil menoleh kekanan--ke kiri agar suaranya tak terdengar oleh Alga dan dibawa angin. Sharon yakin Alga tidak akan mendengarnya
"lo kan yang nyuruh gue kesini, mau ngomong apa?"
Sharon terbelalak mendengar ucapan Alga, sepertinya Alga mendengar gerutunya tadi
"hape Juned gimana? Kasian tauk"
"juned lagi Juned lagi, bahas yang lain kek" Alga tampak sengah mendengar nama Juned, matanya masih menggelinding di buku yang ia baca itu
"ya gimana, gitu-gitu temen kita. Jangan gitu dong. Sama temen sendiri jangan pelit gitu, lagian lo kan ketua kelas kita. Tar kalo lo susah terus gak ada yang bantu gimana? Mau lo pas lagi susah gak ada yang bantu?" Sharon berceramah singkat sambil menakut-nakuti Alga, yang di ceramahi masih diam tak menggubris
"ini ni yang paling gue gak suka, kalo gue lagi ngomong dengerin kek. Males gue jadinya, kenapa sih kalo gue ngomong sulit banget nyantolnya? Kuping lo di kasih filter ya? Sampek-sampek gue ngomong gak pernah nyampek ke kuping lo" Sharon tampak emosi kemudian menarik napas lalu ditahan diperutnya dan melanjutkan kalimatnya lagi
"coba kalo ngomong ke Ruby sama yang lain, 'iwya...ihihihi, ewnggak kowk.. Ahahha adya-adya ajya luw, aphaan syih, gewli tauwk," Sharon mengucapkannya seperti orang mengejek dengan bibir yang di miring-miringkan dan dimonyongkan ditambah dengan matanya yang melirik ke kanan—ke kiri—ke atas—ke bawah, tak lupa dengan penekanan pada kata 'Ruby'
Alga meletakkan bukunya dan mulai mendengarkan Sharon, wajahnya tampak antusias melihat tingkah Sharon yang seperti anak kecil yang sedang iri, tangan kanannya menopang dagunya, kepalnya mengangguk-angguk seolah mengerti, Sharon mulai berhenti berbicara karena Alga memperhatikannya dan mulai mengerem kalimatnya. Seluruh darahnya berdesir ke pipinya, bersemu berwarna merah jambu
"o.. terus? terus?" Alga mengejek sambil mengangguk-angguk
"apaan sih" Sharon meraupi muka Alga dengan tangan kanannya, pipi Sharon merah tak bisa menahan rasa malu. Ada rasa senang campur gugup menggerayahi tubuhnya ketika Alga bisa bercanda seperti itu kepadanya, walaupun sepele entah mengapa hatinya terasa berbunga-bunga
"iya.. iya.. hape Juned gue ambil tapi paling nyokap gue. Pak Syaip kira-kira ngebolehin gak ya?" Alga menanggapi Sharon namun dengan berusaha agar tidak tertawa melihat Sharon yang salting itu, Alga tau bahwa Sharon sedang salting
"pasti ngebolehin, bokap lo di Australi kan?" Sharon bertanya sekedar formalitas
"he'eh" jawab Alga singkat
"terus gimana?"
"kan ada bunda gue, pasti mau dia"
"oo.. baguslah, kalo gini kan keren.. sebagai ketua kelas lo tu harus bisa mengayomi seluruh penduduk kelas, agar aman dan damai"
"siapa yang keren?" Tanya Alga masih menatap Sharon alisnya diangkat sebelah seperti sedang menggoda Sharon, membuat pipinya kembali merah seperti kepiting rebus, Sharon mirip seperti maling tertangkap basah yang ditanya-tanyai dan tak tau harus menjawab apa
"ng.. ng.. " Sharon masih tak bisa menjawab
"udah biasa aja, muka lo itu pucet jadi gampang banget merah pas lagi gugup. udah biasa aja, gue cuman tanya, gak tega gue liat muka lo merah gitu" Alga tertawa tipis-tipis, Sharon hanya tertunduk malu. Sumpah kali ini malunya bukan di mata kaki lagi, tapi di telapak kaki.
***
"Bunda..." Alga memegang tangan bundanya yang sedang memasak itu, persis seperti waktu ia kecil dulu, ketika Alga mengiginkan sesuatu pasti yang ia cari pertama adalah bundanya bukan papanya. Bundanya menoleh kemudian tersenyum kepadanya, hal yang sangat ia rindukan ketika Alga merengek kepadanya seperti anak kecil, hal kecil itu kemudian membawanya ke kejadian 9 tahun lalu
"bunda..." rengek anak laki-laki itu
"Apa sayang?" jawab wanita paruh baya itu
"Bunda..Alga diajak mancing di sawah sama temen-temen, Al boleh pergi gak" bisik anak laki-laki itu sambil melirik kearah pria yang tidak lain adalah papanya itu, tampaknya papanya sedang sibuk dengan laptopnya, waktu yang pas untuk membujuk bundanya
"jangan.. bahaya" ucap wanita paruh baya yang merupakan bundanya itu, bundanya masih sibuk dengan masakkannya dan tak menatap Alga sama sekali
"ayoo bun.. kan ada anak gede, sawahnya gak banjir kok. Ya bun yah.."
"kalo papa ngijinin bunda ngijinin"
"ah bunda... sama aja boong bun, papa gak bakal kasih ijin"
"yaudah berarti gak boleh, main sama Sharon kenapa sih? Gak bahaya kan, Cuma nangkepin capung paling" goda wanita paruh baya itu masih sambil memasak, senyumya tergambar jelas di wajah ayu nya itu
"sekarang gak musim capung bun... ujung-ujungnya juga ke sawah nangkep berudu. Gak asik bun.. masak iya nanti Alga cowok sendiri"
"bagus dong... kamu jadi yang paling ganteng berarti"
"ah bunda... tauk ah, Al mau Tanya papa aja" anak laki-laki itu kemudian melipir dan nempel-nempel ke papanya seperti parasit pada ikan paus, tangannya memijat-mijat bahu papanya
"paa.... Al mau mancing boleh?"
"dimana? Jauh nggak?
"di sawah pa, sama anak-anak komplek, nggak jauh kok"
"sawah belakang komplek?" Mata papanya masih fokus pada laptopnya
"iya gak papa, tapi hati-hati, kalo ada sumur jangan nyemplung! Bahaya" ucap papanya bercanda sambil mengacak-acak rambutnya membuat hati Alga berbunga-bunga, tanpa Babibu Alga langsung melesat seperti sapi yang di beri balsam dipantatnya.
"papa kok di ijinin sih ? kan bahaya" wanita paruh baya itu datang dari dapur
"bunda ih, dia kan anak cowok satu-satunya, kalo disuruh main sama Sharon terus kapan laki nya? Papa dulu juga gitu kok" Ujar lelaki itu masih dengan logat Australi, kalimatnya masih sedikit tebata-bata, bahasa Indonesianya fasih namun masih berlogat Australi, mirip seperti Cinta laura ketika berkata "udah ujan gak ada ojek, becek, becek" kurang lebih seperti itu
"papa ih" wanita paruh baya itu melengos kesal dan kemudian kembali ke dapur
"Ada apa Al?" lamunan bundanya buyar dan kemudian memerhatikan Alga yang masih menggelayut di tangannya itu
"bunda besok bisa ke sekolah nggak?"
(keep reading--keep reading--keep reading^^)
•vote dan comment ya•
KAMU SEDANG MEMBACA
Remind
Teen FictionSharon bertemu dengan serpihan kecil masa lalunya yang sama sekali tak ia ingat, kenangan tentang Alga sahabatnya selalu menghantuinya, Sharon mencoba merangkai kembali memori yang sudah hilang, tentang sebuah misteri masa kecilnya Alga bertemu deng...
