"Busyet dah.... Itu tugas nyah? tinggal 5 menit palingan juga pr" Juned mengeluh ketika melihat sekretaris menulis tugas dari pak Sony di papan, disitu tertulis sepuluh soal yang apabila dikerjakan bisa menjadi berlembar-lembar, kemudian Juned mengurungkan niatnya untuk menulis karena jengah melihat soalnya lalu merebahkan kepalanya di meja dan memilih untuk tidur
"ayo itu dicatat soalnya, lima menit lagi bel pulang" suara keras pak Sony membangunkan Juned dari peristirahatannya dan dengan reflek Juned merebut bolpen yang dipegang Dimas—teman sebangkunya dan berpura-pura menulis di buku
Setelah selesai menulis tugas dari pak joko, bel pulang pun berbunyi yang disambut dengan sorakan kompak dari anak-anak terutama Juned yang saking senengnya langsung melepas ikat pinggangnya dan memutar-mutarnya persis seperti orang mau tawuran
"kenapa kok pada seneng? Ini dikumpulkan besok di meja bapak sebelum jam tujuh, kalo telat gak bapak terima" ujar pak Sony sembari mengemasi buku-bukunya dan bersiap untuk keluar kelas. Ucapan pak Sony langsung disambut kor sekelas tanda tak terima.
"YYaahahhhhh......"
"minggu depan lah pak...."
"iya pak!!! Besok banyak pr pak"
"jangan besok lah pak"
"besok minggu pak!!" Juned membuat seisi kelas menjadi hening, termasuk pak Sony yang terlihat sedang memikirkan sesuatu
"oiya... sekarang hari sabtu, yasudah kumpulkan hari senin saja" kemudian pak Sony berlalu pergi sambil menggeleng-geleng dan menggaruk-garuk kepalanya yang dirasanya tidak gatal
"Yeee........"
"Makasih bapak"
"Bapak ganteng dech..."
"hidup pak Sony!!!" teriak Juned ketika pak Sony hendak keluar sambil memutar-mutar ikat pinggangnya, "pikun sih... kebanyakan atom jadinya pikun.. hih" lanjut Juned dengan lirih ketika pak Sony sudah benar-benar pergi dan tak terlihat di sekitar kelas
Sharon mengepak buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas kemudian berdiri berjalan menuju pintu
"di jemput Shaer?" Olin ikut berdiri dan mengikuti langkah Sharon keluar
"gak tau, gue ngewhatsapp papa tapi gak di read"
"masuk nggak?" Ruby merebut hape Sharon untuk mengecek pesannya masuk atau tidak
"ya gimana mau di read, orang masuk aja nggak, centang ini Shaer" lanjut Ruby sambil menyodorkan hape Sharon pada Olin
"iya gue tau, kan bener gue itu pesan gak di read, gimana sih" ujar Sharon sewot dan merebut hapenya dari genggaman Ruby
"nebeng Alga lah... satu perum juga" Olin memberi saran
"saran di tolak! Mending gue jalan"
"liat tuh.. mumpung Alga belum pulang" Ruby menunjuk-nunjuk Alga yang tengah berjalan didepan mereka sambil memasang helm
"tapi jangan lo apa-apain bebeb gue" tambah Ruby
"ogah, dibilang ogah juga" Sharon bersikeras tak ingin ikut dengan Alga, Sharon melirik jam tangannya dan ternyata mereka sudah menunggu didepan gerbang sekitar 20 menit, kalau begini Sharon yakin tidak ada yang menjemputnya, tapi ia tak ingin pulang bersama Alga apalagi ada Ruby disitu, ia tak ingin membuat Ruby merasa sedih atau sebagainya, ia tak ingin memecah persahabatannya hanya karena Alga, lebih baik ia mengalah pada perasaannya
"eh mobil siapa nih mepet-mepet, kayak tukang jambret! oy!" Olin berteriak karena sebuah mobil jazz putih berhenti sangat dekat dengan kakinya dan nyaris melindas kakinya, sedetik kemudian kaca mobil tersebut terbuka dan memperlihatkan si supir ugal-ugalan tersebut
"G-geri? Geri ya? " ucap Ruby lirih sambil menyikut Sharon
"iya saya Geri, kenapa sih tiap ketemu saya selalu tanya nama? Gak hapal-hapal ya sama nama saya?" ujar Geri yang kini sudah ada di luar mobil dan duduk di kap mobil, alisnya naik turun menggoda. Geri mah sadar banget kalo dirinya ganteng😂
"kok gak pulang?" lanjut Geri
"ini nih.. Sharon belum di jemput" Ruby kembali menyikut lengan Sharon—yang sedang menatap tanah dan membuat Sharon langsung menoleh kedepan—kearah Geri, kemudian Sharon menggaruk-garuk kepalanya sambil mengangguk-angguk, entah mengapa Sharon selalu menundukkan kepala ketika bertemu Geri, mungkin karena malu.
Sedangkan Olin masih mengagumi ketampanan Geri, matanya masih belum berkedip dari tadi, sungguh Geri merupakan ciptaan tuhan tertampan nomer dua di sekolah ini setelah Alga, batinnya. Jika Alga terlihat lebih tampan dan tegas dari sikapnya dengan bahu yang tinggi dan kulitnya yang cerah, plus mata coklat tua yang sangat dingin dan rambut lurus yang kecoklatan berbeda dengan Geri yang terlihat lebih keren dan badboy dengan tatapan yang hangat dari bola matanya yang hitam plus kulitnya yang kecoklatan dan rambut sedikit ikal dengan ujung yang agak kemerahan, Geri terkesan lebih ramah walaupun gayanya yang terlihat seperti anak bandel tidak seperti Alga yang terlihat dingin dan ketus
KAMU SEDANG MEMBACA
Remind
JugendliteraturSharon bertemu dengan serpihan kecil masa lalunya yang sama sekali tak ia ingat, kenangan tentang Alga sahabatnya selalu menghantuinya, Sharon mencoba merangkai kembali memori yang sudah hilang, tentang sebuah misteri masa kecilnya Alga bertemu deng...
