3. Cewek buluk ini istri kamu!

19.4K 816 9
                                        

=>3. Cewek buluk ini istri kamu!<=

Mulmed: Kenji

Siapa sih cewek yang nggak marah kalau dikatain buluk? Apalagi yang ngomong suami sendiri. Dara jelas mangkel. Dia buluk gitu juga kan gara-gara mengurusi Ken. Dia bahkan nggak pernah mengurus dirinya sendiri dan selalu mengutamakan kebutuhan Ken. Dara kurang berbakti gimana lagi coba?

Karena itu juga Dara nggak peduli, Ken udah makan atau belum, udah mandi atau belum, terserah. Dara juga bisa marah, memang Ken pikir cuma dia yang bisa seenaknya. Dara juga bisa! Sejak tadi dia membiarkan Ken meraung di depan kamar mereka. Bahkan, walau Ken udah salah dia nggak ngomong maaf. Kekesalan dara bertambah berkali lipat!

"Demi Tuhan, Ra! Aku nggak maksud ngomong kaya gitu tadi. Aku nggak suka aja ada orang yang bilang kamu seksi selain aku. Kamu jangan marah dong, tadi itu Cuma salah paham sayang. Kamu nggak kasian sama aku? Aku capek tau, belom mandi juga Ra. Please, buka pintunya dong Ra." Dara memutar bola matanya dengan malas, bibirnya mencebik kesal mendengar bujukan Ken barusan.

"Mandi aja dibawah! Repot amat!" balas Dara marah. Ken pikir Dara bisa dibohongi dengan mudah apa? Palingan nanti setelah masuk kamar, bukannya mandi malah mesum. Pada akhirnya Dara nggak akan jadi marah dan berakhir mendesah di ranjang.

"Baju aku kan di kamar sayang, buka pintunya dong."

"Ogah banget! Biar kamu jadi buluk!!"

"Jangan dong Ra ..., nanti jadi kaya kamu, buluk." Dara mendengus setengah nggak percaya jika Ken bisa mengucapkan hal itu dengan mudah. Ken benar-benar pintar menyakiti perasaan Dara.

"Asal kamu tau ya, Ken! Orang yang kamu sebut buluk ini istri kamu. Istri sah secara agama dan hukum!" teriak Dara emosi.

"Iya, tau Ra. Makanya buka pintunya ya, sayang."

"Nggak akan! Jangan harap aku berlaku baik setelah ini, urus aja diri kamu sendiri!"

"Dara, sayang ..., nanti kita jalan deh. Ke mall gitu, atau mau aku beliin baju baru?"

"Nggak mempan disogok pake baju!"

"Disogok pake punyaku aja gimana? Mau? Udah tegang nih sayang."

"Ya Tuhan, Ken!!" Dara berteriak histeris. Nggak tau lagi kenapa Ken jadi semesum ini. "Otakmu itu dikasih disinfectant dulu sana! Biar virus mesum kamu itu berkurang. Kalau perlu, anumu itu rendem di air garam biar lembek!!"

"Sialan, Ra! Udah dong, buka pintunya dong Ra."

Dara mendengus, lantas menenggelamkan diri di dalam selimut. Nggak tau kenapa, tapi rasanya sesak. Dara merasa hanya menjadi pemuas nafsu saja buat Ken. Ternyata hidup dalam pernikahan, tapi tanpa cinta di dalamnya itu nggak enak.

Dara mulai sesenggukan, dia juga nggak tau kenapa dia jadi super sensitif seperti ini. Ken memang bermulut menyakitkan, Dara udah tau hal itu sejak mereka pacaran. Lantas kenapa sekarang Dara merasa terhina menjadi istri Ken?

"Tau ah! Aku nggak peduli," gumamnya sebelum memaksa kedua kelopak matanya untuk tertutup. Dara berniat untuk tidur sebentar, seharian tadi dia sudah tidak istirahat sama sekali.

Suara raungan Ken juga berhenti, tapi Dara nggak peduli. Dia berniat untuk mulai bodo amat dengan Ken. Walau dia berniat jadi istri patuh, tapi sepatuh-patuhnya istri Dara nggak berniat jadi istri bodoh.

***

Tau apa yang Ken benci dari Dara? Dara itu ribet, tukang ngambek, nggak bisa diajak bercanda, dan kekanakan. Itu menurut pandangan Ken. Padahal, kalau dia melihat bagaimana usaha Dara setiap hari sabar menghadapi kelakuan bejat Ken, harusnya Ken bersyukur punya istri seperti Dara.

Sejak malam itu, Ken merasa Dara nggak pernah lagi perhatian. Ken punya alasan kenapa bisa mengutarakan hal itu dengan mudah. Dara nggak pernah lagi mencucikan bajunya, padahal nyuci baju itu mudah. Tinggal masukin mesin cuci, nggak perlu gosok-gosok, tapi Dara membiarkan baju Ken menumpuk begitu saja di keranjang pakaian kotor. Lagi, Dara nggak pernah masak untuk Ken, nggak pernah beres-beres rumah, kerjaannya hanya main di kamar Hana bahkan jarang menyambut Ken pulang dari kerja.

Mereka hidup satu atap tapi berasa hidup sendiri-sendiri. Perlahan, baju-baju Dara di kamar Ken berpindah ke kamar anaknya, Hana. Ken masih bersabar. Dia mau marah pun percuma karena Dara nggak mau mendengarkan apa yang dia bilang.

Puncaknya, saat kedua orang tuanya berkunjung ke apartment, dan tau apa yang Dara perbuat? Dara melengos begitu saja dari hadapan kedua orang tua Ken. Tanpa menyapa, atau bahkan menghidangkan minuman.

Setelah kedua orang tuanya pulang daru kunjungan tahunan itu, Ken dengan emosi pergi ke kamar anaknya. Membuka pintunya dengan kasar sampai engsel pintu bagian atas copot. Hana yang baru saja tidur langsung menangis.

"Kamu apa-apaan sih?!" marah Dara sambil menggendong Hana.

Ken mendecih, melangkah masuk lalu menghimpit Dara di kasur. "Kamu keterlaluan tau." Ken menatap Dara tajam. "Kamu nggak nyuci, nggak bersih-bersih, bahkan menelantarkan aku dengan nggak kasih makan aku, aku masih bisa sabar. Kamu juga nggak ngasih jatah dan aku nggak marah main solo di kamar mandi."

Ken menjauh, mengepalkan tangannya sampai buku jarinya memutih. Dara bersiap lari kalau-kalau Ken sampai berbuat kekerasan. Tapi, Ken nggak bergerak ke arah Dara. Dia melampiaskan emosinya dengan menendang box bayi milik Hana.

Dara menjerit. Nggak terima. "Kamu edan tau Ken! emang punya duit buat ganti hah?"

Ken nggak menanggapi, masih dalam posisi membelakangi Dara dengan bahu yang terlihat naik turuh. Entah karena emosi atau karena lelah. Dara mendesis, sambil menaruh Hana di kasur. Lantas berjalan mendekati Ken.

"Hiks ..., kakiku kena paku, Ra." Ken berbalik dengan wajah yang banjir air mata. Dia mengangkat sebelah kakinya dan menunjukkannya pada Dara. Darah segar mengucur dari luka di telapak kakinya itu.

Dara melongo. "Ya, ampun!" teriaknya terkejut. Ken bersiap menampilkan wajah yang lebih memelas agar Dara kasihan, tapi sedetik kemudian bukannya panik, Dara malah terbahak.

Dara nggak habis pikir. Ken itu ternyata cengeng, sebelumnya Dara belum pernah melihat Ken mewek sampai seperti saat ini.

"Kenapa ketawa?!" tanya Ken dengan muka nggak enak.

Dara mencoba menahan tawanya, tapi selalu berakhir gagal. "Kamu udah keren gitu marahnya, sampai nendang box bayi segala, tapi malah mewek jadinya hahaha ..." Dara akhirnya kembali tertawa.

Ken masih menangis, asal kalian tau Ken itu nggak tahan sakit. Kakinya berdarah dan lukanya cukup dalam, sampai sekarang darah masih mengucur dari lukanya. Dan bukannya segera menolong Ken, Dara malah sibuk ngakak.

"Kamu tau nggak?" Dara bertanya setelah berhasil menahan tawanya. Ken nggak menjawab, nggak menoleh, bahkan melirik ke arah Dara. "Aku nggak tau kelebihan kamu itu apa sampai dulu aku mau pacaran sama kamu, entah kenapa sekarang aku nyesel."

Ken menoleh, terkejut mendengar ucapan dari Dara barusan. "Kamu ngomong apa sih?" lirihnya.

Dara tersenyum."Kayaknya kita nggak cocok jadi partner hidup deh, Ken."

Tbc...

Lovin

Freak AccidentCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang