Setelah berjam-jam diperjalanan akhirnya mobil mewah yang Zahra naiki tadi berhenti disebuah rumah elit yang begitu megahnya, Zahra langsung menyeka air matanya mengedarkan pandangannya di sekeliling luar rumah Alvano dari kaca mobil, tak henti-hentinya ia berdecak takjub dengan rumah Alvano.
Terlihat garasi yang terbuka tampak berisi beberapa mobil dan motor mewah terparkir disana, halamannya begitu luas dengan beberapa tanaman mahal yang tampak asri tumbuh di beberapa sudut.
"Ayo keluar.. Kita sudah sampai." Ajak Alvano pada Zahra. Zahra hanya pasrah mengikuti dan ternyata pak supir, panggil saja Pak Tedjo sudah membawakan barang-barangnya kedalam rumah bak istana ini.
Saat masuk kedalam rumah beberapa pelayan tengah berbaris menyambut kedatangan Alvano dan Zahra, dari kejauhan terlihat beberapa orang lagi berdiri juga menyambut Alvano kecuali seorang wanita paruhbaya yang sedang duduk dikursi sofa, terlihat begitu menatap tidak suka pada kedatangan Zahra.
'Ayah, kenapa tega menjodohkan Zahra dengan teman Ayah yang sudah tua dan memiliki istri?!' rutuk Zahra, meratapi dirinya yang begitu malang.
"Akhirnya sampai juga, Papa". Seorang lelaki muda yang menggendong anak perempuan berumur sekitar 1 tahunan,tampak begitu antusias menyambut kedatangan Alvano.
"Ohh iya.. Kenalin ini dia yang namanya Zahra." Alvano mengenalkan Zahra ke seluruh anggota keluarganya, dengan kikuk dan penuh kebingungan Zahra menyalami mereka satu-persatu sambil memperkenalkan diri.
Zahra bingung kenapa anak-anak Alvano begitu antusias menyambutnya, apakah mereka senang jika Ayah mereka menikah lagi, sedangkan Ibu mereka saja terlihat menatap Zahra dengan tatapan mata yang tajam.
"Gibran.." ucap lelaki yang menggendong anak perempuan tadi, memperkenalkan diri.
"Zahra."
"Ratna, istrinya Gibran." lanjut seorang perempuan muda, cantik berdiri disebelah Gibran sambil tersenyum dan membalas uluran tangan Zahra.
"Zahra."
"Raka." lelaki bertubuh tegap tak kalah tampan dari Gibran, dia adiknya Gibran karena postur tubuhnya sedikit lebih pendek dan terlihat lebih muda, muka Gibran dan Raka memiliki kemiripan.
"Zahra."
"Clara, istrinya Raka" ucap perempuan cantik, bertubuh langsing yang berdiri disamping sambil menggandeng tangan Raka.
"Haii.. Aku Ray.. Kamu yang bakalan jadi tante baruku ya?." Zahra sedikit menunduk agar lebih dekat melihat kepolosan anak laki-laki yang berumur sekitar 5 tahunan yang sejak tadi menarik-narik bajunya sampai berjinjit-jinjit untuk meraihnya.
"Ahh.. Iya, Aku Zahra." balas Zahra kikuk dengan kebingungannya.
"Dia anak pertamaku." jelas Gibran.
Zahra semakin dibuat bingung, jika Ray anaknya Gibran tetapi kenapa malah memanggilnya tante, kalau dia menikah dengan Alvano harusnya Ray memanggilnya nenek bukan?. Zahra menghela nafasnya lelah karena diusia 17 tahun dirinya bakal menjadi nenek.
"Ayo, kita main tante " ajaknya seraya menarik-narik lengan Zahra.
"Nanti Ray, tantenya biar istirahat dulu ya." kata Ratna.
Zahra kembali berdiri setelah berbasa-basi dengan Ray, lalu memberanikan diri menghampiri wanita paruhbaya yang sejak tadi menatapnya tajam.
"Aku, Zahra..." ucap Zahra sembari tersenyum ramah.
Cukup lama Zahra menangkupkan kedua tangannya sopan dengan maksud memperkenalkan diri kepada perempuan paruhbaya itu, tapi perempuan itu malah memalingkan wajahnya dan tak mau membalas uluran tangan Zahra.
"Mama!! " tegur Alvano dengan penuh penekanan hingga Ray sedikit terkejut dan bersembunyi dibalik kaki Gibran.
"Papa ini apa-apaan sih ?!, Yang benar saja mau menikah-"
"Keputusan Papa sudah bulat, suka tidak suka Mama harus terima!!"
Zahra sadar jika ia memang orang kampung, miskin yang tak pantas bersanding dengan orang kaya seperti mereka, kalau saja tidak karena paksaan Ibunya, dan amanah almarhum Ayahnya mungkin Zahra sudah menolak perjodohan ini dan lebih baik memilih tetap tinggal bersama Ibunya dikampung meskipun dalam kesederhanaan.
..
Zahra membereskan barang-barangnya setelah Kak Ratna mengantarkannya kekamar yang berada dilantai dua, kamar yang begitu besar bahkan ada kamar mandinya juga, mungkin luas rumah Zahra yang dikampung kalah dengan luas kamar ini. Tempat tidur yang berukuran king sangat empuk dan nyaman untuk ditiduri
"Andai Ibu ikut bersamaku pasti kita bisa merasakan nyamannya tidur dikasur empuk ini bersama". Gumam Zahra yang sudah terbaring menatap langit-langit sembari menikmati kenyamanan tempat tidurnya.
Zahra kembali mengingat wajah Ibunya, wajah teduh saat ia tinggalkan seperti tergambar dilangit-langit kamar.
Seketika bayangan itu buyar saat Zahra mendengar riuh beberapa orang begitu sibuk seperti menyiapkan sesuatu, suaranya terdengar dari balkon kamarnya, dengan segera Zahra bangkit dari pembaringannya dan berjalan menuju balkon kamar, Zahra mengedarkan pandangannya mengarah kebawah sana, terlihat situasi yang beberapa orang sedang sibuk menata sebuah taman dengan dekorasi perpaduan warna merah muda dan putih, sungguh indah, bahkan beberapa kursi yang tersusun rapi juga disarungi dengan kain yang berwarna putih dan merah muda, diatas rerumputan yang hijau telah ditaburi dengan mawar putih itu sangat mengagumkan.
"Ehhmm.." Suara seseorang dibelakang sana sedikit mengagetkan Zahra, ternyata Ratna yang berjalan menghampiri Zahra dengan menjinjing setelan kebaya putih dan kain batik coklat sebagai bawahannya terlihat begitu elegan dan sangat kekinian, Ratna meletakkan kebaya itu di hamparan tempat tidur dimana Zahra tadi berbaring, lalu menghampiri Zahra.
"Oiia cantik, lebih baik kamu istirahat karena besok kamu harus bangun pagi ya." ucap Ratna sambil menuntun Zahra menuju kasurnya.
"Setelah sholat subuh aku bakalan bantu kamu untuk bersiap." lanjut Ratna kemudian.
Zahra mengerutkan keningnya karena tak mengerti apa yang dimaksud oleh Ratna, kenapa dia akan membantunya bersiap. "Bersiap untuk apa ? " tanya Zahra polos.
"Amsyong.. " Ratna menepuk jidatnya sambil tertawa gemas melihat kepolosan Zahra.
"Bersiap untuk pernikahan kamu dong, masa Kamu gak tau sih?".
'Ya tau sih, tapi apa secepat ini ? ' batin Zahra.
"Ahh iya" balas Zahra seadanya, karena dalia tau menolakpun sudah tak boleh.
"Yaudah Aku tinggal dulunya, pokoknya Kamu harus istirahat." pamit Ratna. Zahra hanya membalas dengan anggukan.
Zahra mengangkat kebaya yang terjuntai diujung tempat tidur, memandangnya hingga takjub dengan kemewahan kebaya itu, payet yang terpasang di beberapa bagian menambah apik dan elegan kebaya itu, jika ditanya soal harga sudah pasti harganya sangat mahal.
Bahkan Zahra pun tak pernah mengimpikannya diusia 17tahun akan melaksanakan pernikahan dengan seseorang yang sama sekali tak dicintainya dan menurutnya calon suaminya itu lebih pantas menjadi Ayahnya dari pada suaminya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Love
Short StoryProses Revisi.. #25ShortStory (11-03-2018) #12ShortStory (13-03-2018) #1TentangCinta (06-06-2018) 17++,, Dewasa. Ini tentang hati, tentang detak jantung yang berdegup kencang bila melihatmu, tentang hati yang kacau bila jauh darimu, inilah CINTA. Se...
