Alhamdulillah peringkatnya terus naik, terimakasih untuk kalian semua yang selalu setia nungguin kelanjutan cerita Ariana dan Zian, tanpa kalian cerita ini nggak ada apa-apanya 😊😊🙏🙏
"Nggak usah berterima kasih Bu, Saya yang salah" ucap Ratna, menyesali kecerobohannya. "Oiia, itu bukannya suplemen untuk Ibu hamil? Maaf kalau boleh Saya tau sudah berapa bulan usia kandungan Ibu? " tanya Ratna kemudian.
"Bukan, ini untuk anak Saya" balas siIbu sambil tersenyum karena Ratna menduga jika dirinya hamil.
Ratna ikut tertawa kecil. "Saya kira-".
"Ibu, ayo kita pulang" ucap seseorang yang membuat ucapan Ratna tadi terpotong, dan juga membuat Ratna mematung.
"Adek.. " gumam Ratna dan masih terdiam mematung hanya mulutnya saya yang berbicara.
Membuat orang tadi memandangnya, dan begitu kaget saat melihat jelas wajah Ratna. "Kak Ratna" ucapnya lalu berlari memeluk Ratna.
"Ri, Kamu kemana aja? Kami semua nyariin Kamu, Ri" ucap Ratna memeluk adik iparnya, erat.
"Syukur Ri, Kamu sudah bertemu keluargaMu" ucap Ibu Kumala, ya.. Wanita paruhbaya yang Ratna tabrak tadi adalah Ibu Kumala, saat mengambilkan obat milik Ariana diapotek, tanpa sengaja Ratna menabraknya.
Ariana melepaskan pelukkannya. " Kak, kenalin ini Ibu Kumala, Ibu Kumala ini yang sudah nolongin Ariana, Kak" jelas Ariana.
"Tarimakasih Ibu sudah sangat baik, Saya bersyukur Allah telah mempertemukan Kita disini" ucap Ratna lalu menghapus air matanya, Ratna terharu dengan kejadian ini dan akhirnya dirinya bisa menemukan Ariana.
"Kak kenapa ada disini, siapa yang sakit? " tanya Ariana kemudian, yang membuat Ratna terkesiap mengingat keberadaannya disini karena Zian.
"Ayo ikut Kakak, Ri" ucap Ratna yang berjalan didepan dan diikuti Ariana bersama Ibu Kumala.
Cinta tau dimana Rumahnya, maka Cinta tau dimana Dia harus kembali pulang, dan pada hatimulah Aku terakhir berlabuh ~Ariana~
"Zian.." panggilnya dari ambang pintu membuat Zian, Raka, Gibran dan Clara menoleh kesumber suara, yang membuat mereka begitu terkejut tak percaya terutama Zian, Ariana berlari menghampiri Zian yang duduk ditepian tempat tidur setelah selesai makan.
"Ini beneran Kamu? Aku nggak mimpikan?" ucap Zian seperti orang ling-lung, sementara Ariana tak dapat membalas pertanyaan lelaki yang dirindukannya, lelaki yang selalu hadir dimimpinya, karena Ariana tak dapat lagi membendung air matanya, ia terisak dipelukkan suaminya. "Kak Gibran, bilang jika ini bukan mimpi" ucap Zian kemudian.
Namun tak ada yang menjawab ucapan Zian karena mereka merasakan hal yang sama, sama terkejutnya dan tak percaya. Ariana menarik nafasnya dalam, lalu menghapus air matanya, ia juga melepaskan pelukkannya dan menangkup kedua pipi Zian.
"Enggak, Kamu nggak mimpi Zi" ucapnya, lalu menghapus air mata Zian. "Kamu kenapa seperti ini ? Kamu juga terlihat kurus, Zi" ucap Ariana mengusap pelan punggung telapak tangan Zian yang terbalut perban lalu menciumnya lembut, air matanya tak henti-hentinya mengalir.
Zian menarik Ariana kepelukkannya. "Aku begini karena Kamu, jangan pergi lagi sayang, please jangan pergi, Aku nggak bisa tanpa Kamu, Aku nggak bisa. Kehilangan Kamu seperti kehilangan separuh nyawaku, Ri" ucap Zian dan begitu erat memeluk Ariana seakan tak mau melepaskan pelukkan itu agar Ariana tak jauh lagi darinya.
"Sudah waktunya Allah menginginkan kalian bertemu" gumam Raka.
"Untung tadi Aku menabrak Ibu Kumala yang membuat obat milik Ariana pecah dan berserakan" ucap Ratna.
"Semoga tidak ada lagi perpisahan yang membuat kalian sakit" sambung Gibran.
"Obat ? Ariana? " ucap Zian melepaskan pelukkannya. "Kamu sakit? " tanya Zian, yang malah disambut senyuman kecil dari Ariana.
Ariana menarik tangan Zian dan meletakkan telapak tangan Zian pada diperutnya yang memang belum terlihat membuncit. "Sekarang nggak perlu nunggu perutku membesar, tapi Aku mau mengatakannya jika ini gara-gara Kamu, Zi" ucap Ariana, sambil mengingat kejadian dan kata-kata Zian dipagi indah itu, pagi yang seakan tidak perbah bisa dilupakannya seumur hidupnya.
Dengan cepat Zian mencerna ucapan Ariana hingga dirinya terbelalak tak percaya. "Ka-Kamu hamil? " tanya Zian.
Ariana mengangguk. "Iya, ini anak Kita, Zi" ucap Ariana.
"Ya Allah, akhirnya.. " ucap Zian ingin sekali mencium Ariana namun itu diurungkannya mengingat mereka disana tidak hanya berdua.
"Ohh iya, Kamu masih ingat dengan Ibu itu? " ucap Ariana sambil menunjuk kearah Ibu Kumala.
Zian memang berusaha mengingatnya namun memang diriny tak mebgingat apapun tentang Ibu yang berdiri disamping Ratna. "Maaf, Aku tidak mengingatnya" ucap Zian.
"Dia Ibu Kumala, waktu itu Kita bertemu dengan Ibu Kumala di Bis saat akan pulang kerumah Ibu, Ibu Kumala saat itu sedang hamil" jelas Ariana, Zian memutar kembali memorinya dan mulai mengingatnya. "Ibu Kumala yang selama ini udah bantiun Aku, Zi. Keadaan kini berbalik saat ini Aku juga sedang hamil dan Ibu Kumala membantuKu" lanjut Ariana.
"Terimakasih Bu, sudah menolong istri Saya, Saya tidak tau jika tidak ad Ibu bagaimana istri Saya" ucap Zian.
"Iya terimakasih Bu, beruntung masih ada orang baik seperti Ibu yang mau perduli pada orang lain" ucap Gibran.
"Sudah selayaknya sesama manusia Kita harus tolong menolong" balas Ibu Kumala.
"Kak, Aku mau cepat keluar dari sini, Aku mau pulang" ucap Zian.
"Tapi Lo baru sadar, Zi" ucap Raka.
"Iya Kamu belum sembuh benar Zi" sambung Gibran.
"Aku sudah menemukan obatku, dan hanya Dia yang bisa membuatKu sembuh" ucap Zian sambil menatap wanita yang berdiri disampingnya.
"Baru sembuh sok-sok'an gombal Kamu, Dek" ucap Ratna.
"Iya, nggak ingat apa dikamar uring-uringan nangis, Aku mau Ariana, Aku mau Ariana, kayak anak kecil yang minta permen tapi nggak dikasih" ledek Clara sedikit memperagakan gaya Zian saat itu.
"Masa iya sih Kak, Zian seperti itu? " tanya Ariana tak percaya.
"Enggak" balas Zian menggeleng sambil tersenyum malu.
"Yaudah, Kakak urus administrasinya dulu biar Zian bisa cepat pulang" ucap Gibran.
"Sayang, tapi Aku mau Kamu ikut kerumah Ibu Kumala dulu, nanti Aku ceritain ke Kamu bagaimana keluarga Ibu Kumala " ucap Ariana sedikit berbisik pada Zian.
Zian tersenyum mengangguk.
•••
Setelah Gibran selesai mengurus semuanya, mereka ikut mengunjungi rumah Ibu Kumala yang memang begitu kecil, Ariana sudah menceritakan semuanya pada Zian bagaimana kehidupan keluarga ini sehari-hari, serta tentang pekerjaan Ibu Kumala dan suaminya.
"Om, Om juga nggak mau bawa Aku ikut dengan Om? Namaku juga Ariana, Aku nggak mau pisah dari Kak Ariana" ucap gadis kecil itu dihadapan Zian.
"Gimana sih Dek, masa panggil Kak Ariana, Kakak. Tapi panggil Kak Zian, Om" protes Ibu Kumala pada anaknya.
"Kan sebentar lagi Kak Zian punya adek bayi jadi panggilnya Om, Bu" balas Ariana kecil.
"Yaudah kalau gitu panggil Kak Ariana sekarang tante ya" pinta Ibu Kumala, dan Ariana kecil mengangguk setuju.
Zian sedikit membungkuk agar lebih dekat dengan Ariana kecil. "Kamu nggak perlu takut ya, Om akan bawa Kamu pulang kerumah Om, sama tante Ariana, tante Ratna, Om Gibran, Om Raka dan tante Clara. Kamu mau kan? " tanya Zian.
"Mau" ucap Ariana kecil girang dan mengangguk cepat.
Bukan hanya Ariana kecil, tetapi Zian juga mengajak Ibu Kumala dan Pak Hardi, sebenarnya Gibran dan Ratna mau mempekerjakan Ibu kumala dan Pak hardi dirumahnya namun Zian menolaknya karena Zian maunya jika Ibu kumala dan pak hardi bekerja dirumah Papanya pasti Papanya, menyetujuinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Love
Short StoryProses Revisi.. #25ShortStory (11-03-2018) #12ShortStory (13-03-2018) #1TentangCinta (06-06-2018) 17++,, Dewasa. Ini tentang hati, tentang detak jantung yang berdegup kencang bila melihatmu, tentang hati yang kacau bila jauh darimu, inilah CINTA. Se...
