Entah kenapa bibirku mengukir senyuman setelah Zian berkata seperti itu. "Tapi aku nggak suka kalo kamu cium aku ditempat umum kayak gini, apa lagi pakai baju Osis seperti ini, berarti status kitakan pelajar" protesku.
"Ohh.. Berarti kalo lagi nggak ditempat umum, misalnya kayak dikamar, Gue bebas dong ngapa-ngapain Lo" ucapnya sambil menyunggingkan tawanya.
"Ya nggak gitu juga kali, awas aja kalau Kamu minta lebih" Aku sedikit mendorong bahu Zian lalu diikuti tawa dari kami berdua.
"Boleh dong" goda Zian sambil mengerlingkan matanya.
"Enggak !" kataku judes, sambil mencubit pipinya, Zian meringis kesakitan. "Yaudah buruan Kita pulang Zi"
Zian kembali menjalankan mobilnya yang tadi sempat terhenti karena permintaanku.
Rumah terasa sepi saat tidak ada lagi tawa dari Ray yang asyik bermain ataupun tangisan dari Key yang kehausan minta susu, kini aku tidak ada lagi teman bermain dirumah karena Kak Gibran dan kak Ratna sudah pindah kerumah baru mereka, sedangkan kak Raka sedang mengantarkan kak Clara memeriksakan kandungannya, dan ditambah lagi dengan Zian yang pergi untuk latihan basket bersama teman-temannya, tadi Zian mengajakku untuk ikut melihatnya latihan tapi aku menolaknya karena aku tidak kenal dengan teman-teman disekelilingnya pasti akan membuatku seperti orang bodoh nanti, lalu aku memutuskn untuk kedapur membantu Mbak Sumi menyiapkan makan malam.
"Ehh.. Non Ariana, ada yang bisa Mbak Sumi bantu Non? ".
"Enggak kok Mbak, malah Aku yang mau bantuin Mbak Sumi masak".
Aku melihat Mama mertuaku yang baru saja kedapur untuk membuat sesuatu, aku mencoba menawarkan diri untuk membantunya tapi yang ada Dia masih bersikap sinis terhadapku.
"Saya nggak perlu bantuan kamu, sebenarnya tempat kamu memang pantasnya disini. Didapur!!" ucap Mama Lisna, yang entah sengaja atau tidak sengaja, teh panas yang berada dicangkir tengah dipegangnya menumpahi tangan kananku yang terulur untuk memberikan gula kepadanya.
Aku merintih kesakitan kulitku terasa terbakar, sedangkan Mama Lisna langsung pergi begitu saja setelah meletakkan cangkir bekas teh itu diatas meja makan, Mbak Sumi dan beberapa pelayan yang panik bergegas menghampiriku dan membantuku mengobatinya.
"Ya ampun Non, tangan Non Ariana jadi luka begini" ucap Mbak Sumi, memang terjadi ruam memerah dipunggung telapak tanganku, dengan cepat Mbak Sumi memberikannya obat, lalu melilitkan kain perban disekitaran lukaku.
"Udah nggak papa, yang lain pada lanjutin kerjaan aja" kataku yang membuat pelayan lainnya bubar, kecuali Mbak Sumi.
"Mbak.. Aku mohon jangan kasih tau ini sama Zian dan yang lainnya ya" pintaku.
"Tapi Non ?".
"Udah pokoknya Mbak Sumi jangan bilang apa-apa ya, Ariana mohon". Aku benar-benar memohon kepada Mbak Sumi agar tidak memberitahukan yang terjadi kepada Zian ataupun Papa Alvano.
"Baiklah Non" ucap Mbak Sumi, setuju.
Aku kembali kekamar setelah Mbak Sumi selesai mengobati tanganku, Aku duduk di tepian ranjang sambil sesekali mengipas luka yang terbalut perban ini dengan buku LKS ku.
Terdengar suara pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok Zian yang terlihat begitu kelelahan, keningnya begitu basah karena keringat yang bercucuran, dia langsung merebahkan tubuhnya disofa, dengan cepat Aku menyembunyikn buku LKSku dibalik punggungku Aku berusaha menutup-nutupi tanganku yang terluka tadi agar tidak timbul pertanyaan dari Zian, yang tidak Aku inginkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Love
Cerita PendekProses Revisi.. #25ShortStory (11-03-2018) #12ShortStory (13-03-2018) #1TentangCinta (06-06-2018) 17++,, Dewasa. Ini tentang hati, tentang detak jantung yang berdegup kencang bila melihatmu, tentang hati yang kacau bila jauh darimu, inilah CINTA. Se...
