Part 26

176 12 0
                                        

"Aku ingin.. kita putus"yoonji tersentak seketika menoleh ke arah jimin yang memejamkan matanya.

Ia sudah yakin kalau jimin akan mengatakan ini padanya. Yoonji tidak sanggup lagi, ia rasanya ingin menangis, dadanya sesak dan nafasnya terengah seperti seseorang yang kehilangan oksigennya. Namun ia mencoba menahan semuannya, ia tidak ingin terlihat lemah di depan jimin.

"Arra.."jimin menatap kaget ke arah yoonji.
"Aku tahu kau akan mengatakan ini.."lanjut yoonji sambil membalas tatapan jimin. Namun dengan segera yoonji memandang arah lain.

"Aku tidak akan tanya kenapa kau memutuskanku... asalkan kau bahagia dengan keputusanmu aku akan menerimanya"ucap yoonji mengingat kembali bayangan jimin yang di cium oleh seorang yeoja.

Jimin tersentak ketika mendengar perkataan yoonji. Yoonji bilang jimin bahagia? Tentu saja sangat tidak bahagia. Ia harus melakukan ini bukan demi kebahagiaannya tapi kebahagiaan orang yang jimin sangat cintai siapa lagi kalau bukan yoonji yang berstatusnya kini menjadi mantan.

"Sunbae aku harap kau juga bahagia"jimin berdiri dan melangkah pergi meninggalkan yoonji.

Yoonji yang melihat jimin pergi lagsung mengeluarkan air matanya yang sudah tadi ia tahan di iringi dengan suara tangis kecilnya. Setelah tangisnya mereda ia berdiri dan meninggalkan taman tersebut untuk pulang ke rumah.

**************
Yoonji datang pagi-pagi sekali di sekolah. Ia orang pertama yang datang pagi ini. Yoonji kini tengah latihan basket di lapangan sekolah. Sebenarnya bukan latihan, ia hanya ingin beban pikirannya berkurang saat ia di sibukkan dengan sesuatu.

Hingga sekolah mulai ramai dengan kedatangan siswa-siswi di sekolahnya yoonji masih enggan untuk menghentikan aktifitasnya.

"Yoonji-ah istirahatlah.. kau sudah latihan terlalu lama.."ucap seokjin mendekat dan menyodorkan sebotol air pada yoonji.
"Gomawo.."ucap yoonji menerimanya dan segera minumnya dengan haus. Ia sangat haus sekali. Bahkan pagi tadi perutnya belum di isi dengan makanan ataupu air putih. Yoonji menyerahkan botol itu ke tangan seokjin dan langsung kembali dengan aktifitasnya yang sempat terhenti.

"Yya.. yoonji-ah.. kau tidak boleh bermain lagi"ucap seokjin menangkap bola basket yang sempat yoonji akan memasukannya ke ring.

"Tapi hari inikan kita mau tanding.. aku harus tampil maksimal.."ucap yoonji yang terengah.
"Kau sudah sangat bagus latihan basketnya... dan sekarang berhentilah... simpan tenagamu untuk tanding.."ucap seokjin.
"Hanya sebentar lagi.."
"Menurut atau aku akan panggil pelatih untuk mengomelimu.."dengan bahu lemas yoonji terpaksa menghentikan aktifitasnya dan langsung pergi kekelas meninggalkan yoonji yang mulai mengejarnya.

"Sebenarnya kau ini kenapa?"tanya seokjin duduk menghadap yoonji.
"Memangnya aku kenapa?"tanya yoonji.
"Sepertinya kau sangat berambisi untuk menang"
"Tentu saja..."
"Tapi kau keterlaluan.. jangan memaksakan tubuhmu itu.. nanti kau bisa sakit.."ucap seokjin.
"Aku tidak akan sakit semudah itu.."

******************

"Jimi-ah ayo kita lihat pertandingannya.."ucap namjoon semangat sambil menarik tangan jimin menuju lapangan.

Jimin duduk di samping namjoon sambil sesekali memandang  yoonji yang tengah berkumpul dengan pelatihnya.
"Sepertinya anggota perempuan dulu yang akan tanding"fikir namjoon yang di angguki oleh jimin.

Yoonji dan timnya mendengarkan pelatihnya yang sedang berbicara mengenai pertandingan.

"Yasudah ayo kita mulai permainannya"ucap wasit tersebut.

Semua pemain berkumpul di lapangan dan memulai untuk bertanding.

Yoonji yang sudah siap langsung mendrible bolanya dan mengiringnya ke ring lawan dan menshootnya dengan melompat tinggi. Semua yang selolah di tempat yoonji langsung bersorak gembira ketika yoonji memasukkan bolanya ke ring.

Skor demi skor kini berubah-ubah sampai skor mereka sama dan kini babak terakhir dalam permainan. Kini semua para pemain harus bermain dengan lebih keras lagi mengingat skor mereka sama. Begitupun dengan para penonto yang begitu tegang dan serius dalam menonton pertandingannya.

Permainan kini kembali di mulai. Seokjin mengambil bola dari arah lawan sambil mendriblenya lalu mengopernya ke arah yoonji karena memang yoonji sangat dekat dengan ring lawan.

Yoonji menerima operan bola dari seokjin dan melewati lawan dengan memutarkan badan dan melompatkan tubuhnya sambil memasukkan bolanya ke atas ring.
Semua penonton menyorakinya dan menepuk tangannya pada yooni.

"Yoonji-ah kau berhasil..."ucap seokjin berlari dan memeluk tubuh yoonji.
"Ne.. kita berhasil..."ucap yoonji membalas pelukan seokjin. Namun tak berapa lama kepala yoonji mulai pusing dan matanya mulai gelap tidak terlihat apapun.

Senyuman seokjin beralih menjadi khawatir saat tubuh yoonji hampir saja ambruk kalau bukan seokjin menahan tubuhnya dengan susah payah.

Jimim yang melihatnya langsung berlari menuju lapangan dan langsung membawa yoonji pergi keruang UKS di ikuti dengan seokjin dan namjoon.

Yoonji kini tengah terbaring di ruang UKS di iringi dengan dokter yang memeriksa keadaanya. Dokter itu keluar dari ruangannya dan mempersilahkan seokjin, jimin, dan namjoon masuk.

"Dok bagaimana keadaanya?"tanya jimin cemas.
"Dia kelelahan sangat banyak.. di tambah dia banyak memikirkan sesuatu yang berat yang membuatnya stress, dan aku pikir perutnya belum diisi sejak pagi tadi.. jadi aku menginfusnya dengan sedikit cairan.."jelas dokter itu yang membuat jimin merasa tak percaya dengan keadaan yoonji saat ini.

"Tapi dia tidak papakan dok?"tanya jimin makin cemas.
"Dia tidak papa.. tapi setelah sadar nanti tolong bawa dia ke rumahnya agar di periksa lebih lanjut"ucap dokter itu pergi meninggalkan mereka bertiga.

Jimin mendekat ke arah yoonji terbaring dan duduk di samping kasur rawat yoonji. Di genggam eratnya tangan mungil yoonji olehnya.

Seokjin dan namjoon yang melihatnya hanya memasang wajah sedih.
"Tidak papa.. nanti juga yoonji bakalan sadar.."ucap namjoon mengusap pelan pundak jimin.
"Gomawo.. pergilah.. biar aku yang akan menjaga yoonji aunbae sampai sadar"ucap jimin pelan.

"Yasudah jimin.. kami pergi dulu.."ucap seokjin keluar di ikuti dengan namjoon.
"Namjoon-ah tolong beritahu pada guru kalau aku izin pulang untuk mengantar yoonji sumbae"
"Ne.."

"Sunbae kenapa kau selemah ini..."gumam jimin. Dokter bilang dia banyak memikirkan sesuatu, Apa yoonji seperti ini karena perkataannya kemarin? Seharusnya yoonji bersykur karena ia sudah melepaskannya dan dengan bebas berhubungan dengan hoseok. Dan di tambah lagi ia belum makan dari pagi? Apa lagi ia sempat melihat yoonji latihan latihan terlalu lama di lapangan waktu pagi tadi.

Yoonji membuka kedua matanya dan melihat ruangan serba putih yang mengelilinginya dan dia merasakan tangannya tengah di genggam oleh seseorang. Dengan segera ia melihat tangan tersebut dan menggerakkan tangannya yang membuat orang yang menggenggam tangannya meboleh ke arahnya di ikuti dengan yoonji.

"Jimin?"ucap yoonji tak percaya
"Sunbae kau sudah sadar?"tanya jimin.
"Apa ada yang sakit?"tanya jimin. Yoonji yang melihatnya hanya menggeleng pelan.

"Sunbae kata dokter kau harus pulang saat sudah sadar.. aku akan mengantarmu pulang.."ucap jimin.
"Eumm.. apa aku tidak merepotkanmu?"
"Aniya... kitakan tetangga.." ucap jimin sambil memapah tubuh yoonii yang hendak berdiri.
"Jimin aku tidak papa"jawan yoonji sungkan.
"Aniya.. tubuhmu masih lemah.. biarkan aku membantumu sunbae.."ucap jimin lalu menuntun pelan tubuh yoonji menuju parkiran motornya.

Butuh waktu lama untuk sampai di tempat parkiran. Mengingat tubuh yoonji yang begitu lemah terlebih jarak antara UKS dengan halaman sekolahnya ya cukup jauh walaupum tidak terlalu jauh.
Jimin menjalankan motornya ketika yoonji sudah dudik di belakang motornya.

                          Tbc

YOONMIN:"SUNBAE SARANGHAE"Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang