Chapter 4

3K 143 0
                                        

Saat ini Reina sudah berada di dalam tengah barisan. Matahari begitu sangat terik. Tapi Reina tak memperdulikannya. Ia sibuk mengobrol dengan temannya. Bergosip ria, tak memperdulikan beberapa anggota yang beberapa kali menegur Reina dan menyuruh perempuan itu untuk diam.

Sampai suara Retna membuatnya yang sedang asik berbincang  menoleh ke arah Retna dan merasa terganggu.

"Rein, gue mau ngomong sama lo," mimik Retna begitu serius membuat Reina yang merasakannya bergidik seram.

Jarang-jarang Retna seperti itu, mengingat Retna adalah salah satu teman Reina yang selalu membuat sebuah gurauan dan selalu membuatnya tertawa terbahak. Retna juga teman Reina yang paling dekat dengannya. Mengingat sifat mereka sekilas mirip.

"Ya udah diㅡ"

"Berdua!" ucap Retna penuh penekanan, memotong ucapan Reina yang ingin berbicara di sini saja.

"Terserah lo aja deh."

Retna menggeret Reina ke belakang, meminta izin kepada osis yang berjaga dan beralasan pergi ke toilet sebentar walaupun harus memohon karena tidak diperbolehkan ditemani.

♡♡♡

"Rein gue mau bilang sama lo." ada jeda waktu selama beberapa detik sebelum Retna menjelaskan apa yang ingin ia katakan.

Ngomong-ngomong soal tempat. Mereka sudah berada di depan gudang yang jaraknya jauh dari lapangan dan begitu sunyi dan sepi.

"Udah deh Ret, nggak usah banyak basa-basi, lo mau ngomong apa sih, sampe kita di depan gudang yang serem ini."

Memang sebenarnya gudang yang berada di dekat mereka ini memiliki rumor. Bahwa di sini ada arwah gentayangan. Jadi jika mereka melewati atau dihukum di sini pasti ada yang mengganggu.


Walaupun itu hanya rumor yang faktanya saja mereka tidak tahu. Tapi Retna tak memperdulikannya.

"Sebenernya, apa alasannya sih lo selalu ngebully.... Reno?" tanya Retna dengan suara tak suka.

Sempat ada beberapa detik juga Reina mencerna apa yang Retna tanyakan. Mengernyit bingung dan mencoba mengartikan maksud dari Retna mengatakan hal itu. Padahal mereka sendiri sudah sering merendahkan lelaki bernama Reno itu.

Tapi mengapa Retna baru menanyakannya sekarang? Sampai akhirnya Reina tertawa terbahak dan menunjuk-nunjuk wajah Retna yang menatap sinis dirinya.

"Lo kayaknya suka deh sama Reno, sampe peduli gitu, bilang aja kali kalo suka. Gue jomblangin deh. Tapi BTW level lo rendah juga yah," ucapan Reina yang begitu menyakitkan membuat Retna menggeram.

Plak

Retna dengan kesal menampar pipi kanan Reina, membuat pipi yang tertampar terlihat memerah. Jadi bisa diketahui seberapa rasa perih yang Reina rasakan, bukan?

"Kalo ngomong bisa nggak dijaga? Suka?!"

"Bukan itu, lebih tepatnya gue saudara tiri dia," jawab Retna to the point.

Ia sangat kesal mendengar kalimat yang Reina ungkapkan. Apa sebegitu jijiknya kah? Sampai-sampai Reina mengungkapkan kalimat itu. Rendah? Memang benar-benar perempuan di hadapannya ini, keterlaluan.

"Terus kalo lo saudara tiri dia, lo mau berpihak sama dia? Mau juga dibully sama gue?!" kini suara Reina menjadi lebih tinggi, mulai terpancing emosi.

"Iya kenapa?! Nggak suka gue berpihak sama dia?!"

Mereka saling bertatapan tajam, tak ada yang mau saling mengalah, mulai sama-sama tersulut emosi. Melupakan hubungan persahabatan mereka yang sempat terlihat seperti sebuah sepasang kaos kaki.

"Lagian gue udah males main sama geng yang ALAY kaya gini, K.A.M.P.U.N.G.A.N tau nggak?!"

DONT GOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang