Saat ini Reno sedang belajar dikamarnya dengan tshirt hitam dan celana hitam training. Sampai suara pintu kamarnya diketuk.
Tokk!! Tok!!
Reno langsung membukanya. "Reina?" Karena Reno bingung. Mengapa Reina bisa berada disini?
Brukk!!
Reina memeluk Reno dan membuat mereka terjatuh dengan posisi Reina berada diatas Reno.
"Reno maafin gue...!!" Sambil terisak. "Kenapa Rein?" Masih dengan pikiran yang bingung. "Reno gue sayang sama lo...!! Jangan tinggalin gue!!" Reno memejamkan matanya sebentar dan kembali membukanya.
"Iya Rein, gue nggak akan ninggalin lo kok," walau itu tak akan bisa. Karena keputusan Hena tetap harus meninggalkan Indonesia. Reina menyingkir dari Reno dan duduk disebelah Reno yang sedang membenarkan bajunya yang sedikit kusut.
"Lo bohong!! Katanya lo cinta sama gue. Tapi kenapa lo malah pergi ninggalin masalah sih?!" Dan memukul lengan Reno tak ada henti. "Gue benci sama lo?!" Teriaknya Reno memeluk Reina walau dadanya terasa sakit. Karena Reina yang memukul dadanya.
"Gue juga cinta sama lo Rein."
Flashback On
Saat ini Reno sedang berada diruang makan rumahnya. Dengan Hena. "Reno mama mau bicara sama kamu," Walau mata Reno hanya kemakanan tapi telinganya sudah mendengarkan dengan baik ucapan Hena.
"Reno mama berencana pindah dari indonesia," dan membuat Reno terkejut. "Mama aja sana aku pengen disini," ucapnya tak perduli. "Tapi kamu anak mama, kamu harus ikut dengan mama," Bentak Hena.
"Itu sih terserah mamah aku gak perduli, dan yang terpenting aku masih sekolah disini," masih dengan mengaduk nasi dan lauk. "Nggak Reno, kamu harus ikut mama," paksa Hena. Hena ingin menyelesaikan masalahnya disana.
"Mah, aku tau mama pusing, tapi... Kalo mamah pergi ninggalin masalah itu nggak pernah bisa mah. Kalo mama kabur dari masalah. Bukannya mama lebih lega tapi masalah lain bertambah!!" Kali ini amarah Reno tak terbendung.
"Aku cape mah, terserah mama mau apa, aku udah gak nafsu makan aku kekamar dulu," Reno langsung pergi meninggalkan Hena yang bingung. Harus bagaimana menjelaskannya. Dan kalian tahu. Pada saat itu Reina ada diruang tamu. Ruang yang bersebelahan dengan ruang keluarga dan ruang makan.
Flasback Off
Reina menyenderkan punggungnya ditembok. Dengan tubuh yang bergetar, menangis. Menangisi hidupnya dan orang yang ia sayang.
"Rein maafin gue, gue juga nggak tau kalo ini terjadi," suara Reno melemah. "Lo nggak usah deket gue lagi gue benci sama lo. Lo tau kan gue itu nggak mau ditinggalin sama orang yang gue sayang, tapi lo malah melakukannya dengan sengaja," Reina bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Reno yang frustasi.
Reno mengacak rambut hitamnya. Ia menghela nafas lelah. Reno bangkit berjalan menuju laci meja kecilnya yang berada disebelah kasurnya. Mengambil foto dua orang dewasa. Yang satu lelaki dan yang satu perempuan dengan perut yang sudah buncit.
Mereka terlihat bahagia. Tiba-tiba saja satu tetes air keluar dan membuat foto kusam itu sedikit basah. "Mah, aku nggak mau hidup kaya gini, aku cape mah," Reno menaruhnya kembali mengusap dengan kasar air matanya.
Dia kembali berjalan dan menuju tempat tidurnya. Hari ini ia sangatlah lelah. Ingin sekali saja hidupnya penuh dengan kebahagiaan. Tapi itu tak akan bisa. Karena itu telah terjadi. Karena bom itu sudah meledak dan membuat seluruh kota menjadi hancur. Hanya seseorang saja yang masih hidup. Yaitu adalah dirinya.
Dan tiba-tiba saja dirinya mendapat ide. Ia langsung membuka laci meja kecil yang berada disebelah tempat tidurnya. Mengambil foto dua orang dewasa dan buru-buru mencari Hena.
Ia menemukannya dikamar Hena. "Mas kenapa kamu ninggalin kita sih... Hiks... Reno butuh perhatianmu mas...," Hena menangis dengan sangat deras sambil memegang kertas yang sepertinya adalah surat.
Reno berjalan dengan pelan. Ia memeluk Hena dari belakang. "Mah maafin Reno," Reno bergeser menatap Hena dan menghapus air mata Hena.
"Ini bukan salahmu nak. Ini salah mama karena mama bodoh telah membiarkan papa mu menjadi milik sahabat mama sendiri yang merebut orang yang mama cinta," Hena memeluk Reno dengan kasih sayang.
"Maafkan mama yah nak selalu mengabaikanmu," Reno tersenyum dan mengangguk. "Ternyata mamah baru sadar anak mamah sudah besar. Kamu sangat tampan sekali. Seperti papahmu, bolehkah mama mencium pipimu?" Reno tersenyum dan kembali mengangguk.
Cup
Hena mencium pipi Reno. Dengan penuh kasih sayang. "Mama ingat kamu masih kecil, selalu memanggil papamu, tapi papamu tak datang-datang. Sampai akhirnya kamu memilih mencari tahu dan kamu membenci mama," dan kembali menangis.
"Sekali lagi maafin Reno mah, aku terlalu durhaka," dan menunduk. "Tidak apapa sayang mama tau kok perasaan kamu," Hena mengelus punggung Reno. "Kamu mau baca tidak dua surat ini? Ini semua dari papamu. Yang satu khusus untukmu dan belum pernah mama buka, dan yang satu untuk kita semua. Maaf surat khususnya sobek sedikit," Reno mengangguk dan berpamitan.
Reno menduduki sofa kamarnya membuka terlebih dahulu surat khusus.
Hai nak, ini papa.
Maaf papa tidak bisa bertemu denganmu. Mungkin saat kamu sedang membaca ini kamu sudah besar.
Maafkan papa tidak bisa menjadi bapak yang baik untukmu. Ini semua papa lakukan hanya untukmu. Mungkin kamu benci dengan papa. Tak masalah, karena papa bisa merasakan jadi kamu.
Apakah kamu kenal Reina? Dia adalah gadis yang cantik cocok sekali denganmu. Dia adalah perempuan yang sempurna. Dia adalah anak sahabat papa. Saat itu dia masih berumur tujuh tahunan, umurnya pun sepantaran denganmu.
Kalo saja kamu kenal mungkin kamu sudah jatuh cinta.
Pah aku emang udah jatuh cinta sama dia batin Reno.
Dia seperti bintang. Bercahaya. Saat itu dia sedang ulang tahun. Dia memakai gaun sangat pas dengannya.
Papa sangat senang melihatnya. Ya sudah papa hanya ingin mengucapkan itu saja. Tenang saja papa akan ke---- tun---- p---- y--
Kertasnya sobek dan membuat Reno kesal. Karena ingin melanjutkan membaca akhirnya ia kembali mengambil surat yang satunya. Suratnya sangat kusam sama seperti surat sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DONT GO
Teen Fiction(TAMAT) (Warning! Belum revisi) Reina adalah cewek yang sangat terkenal di SMA BAKTHI sekolah yang sangat terkenal dengan prestasinya dan sangatlah mewah. Tetapi ia sangat memiliki otak yang pas-pasan dan orang tuanya yang memasukinya kearah model...
