Bab IV - Jill -

713 45 7
                                    



Dein terus melirik kearah Jill yang tengah berusaha memakan sarapannya. Sebenarnya Jill nggak nyaman karena dari tadi Dein tengah menatapnya dengan tajam. Tapi ia berusaha untuk tetap makan dan berpura-pura untuk santai.

Pikiran Dein masih di penuhi berbagai macam pertanyaan tentang kemunculan Jill yang untuk seminggu ini akan tinggal dirumahnya. Walaupun semalam Maminya sudah menjelaskan semua alasan keberadaan Jill dirumahnya secara jelas. Tetap saja, keberadaan Jill di dalam ruanng lingkup kehidupannya membuatnya sangat tidak nyaman.

Mungkin itu pastinya dirasa berbeda untuk si Dain.

Keberadaan Jill di rumah malah membuatnya semakin betah dirumah. Terbukti sedari tadi Dein dapat melihat adik kembarnya itu sibuk ngajak Jill ngobrol dan sesekali mengambilkan Jill lauk ini-itu yang di sajikan di atas meja makan.

Dein mendengus sedikit jengah melihat tingkah kembarannya yang pasti akan merubah aura abu-abu di kehidupannya menjadi warna-warni tiap kali dia bertemu Jill.

Dan kenapa selalu hanya Jill yang bisa membuatnya berwarna-warni, kenapa nggak Keiry?

toh Keiry juga anaknya nyenengin. Nggak kalah sama Jill, walau pasti nyenenginnya itu sangat berbeda.

Jill itu nyenengin soalnya dia bisa diajak main layaknya cowok. Secara di balik rambut lurus sepingganya yang selalu digerai bebas, kulit putih bersihnya yang nyenengin orang tiap ngeliatnya, dan juga wajah ayu nan judesnya itu, ada jiwa petualang dan sedikit pemberontak layaknya seorang cowok.

Berbeda dengan Keiry. Keiry itu ibarat boneka porselin yang sangat sedap dipandang. Lembut dan halus struktur wajahnya selalu memamerkan wajah ramah nan sendu yang membuat hati semua cowok gemas. Rambut sepunggungnya yang selalu di tata sedemikian cantiknya membuatnya selalu tampil anggun walau pun hanya dalam balutan celana jeans dan kaos oblongnya.

Sesaat ujung bibir Dein terangkat membentuk senyuman kecil saat mengingat sosok Keiry.

"Ngapain lo senyum-senyum ndiri?" Tanya Dain yang duduk tepat di depannya.

Dein tersadar. Dia langsung melirik kea rah Dain dan mengubat dengan cepat ekspresi wajahnya.

" Nggak kenapa-kenapa. Gue udah kenyang. Mam, Pap Dein jalan dulu!" pamit Dein kemudian hendak berdiri.

"Kenyang makan apa saying. Mami liat sedari tadi piringmu Cuma isi nasi putih. Ditambah lagi sedari tadi kamu nggak keliatan nyuapin makanan kedalam mulutmu" kata Moon membuat Dein menghentikan gerakannya.

Ia lalu menunduk melihat piringnya yang memang hanya terdapat segumpal nasi putih yang berantakan tersebar kesepenjuru sudut piring.

"Haiiissst..." Dein mendesis sambil menundukkan kepalanya sedikit malu.

"Bufffsstt...hihihik..." terdengar cekikikan sesorang yang saling bersautan dengan orang lain.

Dein langsung menoleh kearah sumber suara. Terlihat Dain dan Jill tengah cekikikan kecil menanggapi kelakuan konyol Dein.

Dein langung menyeret kursinya dengan keras, menyadarkan Jill dan Dain dari cekikikannya. Mereka serempak langsung diam. Dein kembali duduk dan mulai merapikan nasinya. Nggak lupa kini dia mulai mengambil lauk yang ada di meja makan.

Bagi Dein ini benar-benar memalukkan. Dan dia sebel banget soalnya hal memalukan itu terjadi di hadapan kedua orang yang paling menyebalkan baginya.




***




Dain menyeruput moccacino hangatnya sambil sesekali membalas chatingan para anggota boybandnya. Sebenarnya libur terlalu lama dari kegiatan keartisannya membuat Dain bosan setengah mati.

TWINKLE LITTLE BROMANCE (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang