Bab VII - Enough!!! -

599 29 1
                                        

Tengah malam.

Dein masih termenung, terduduk diatas tempat tidurnya sambil memandangi tas kertas berisikan baju kembar yang tadi siang ia beli bareng Keiry.

Tanpa sadar ia telah membeli baju dengan size milik Jill. Itu artinya Tanpa sadar ia memang ingin membelikan baju kembaran untuk Jill. Hal itu memang sudah nggak jadi hal yang aneh antara dia dan Jill.

Dulu, jaman masih pacaran mereka memang sering beli baju kembaran.

Dein lantas menghela napas panjang. Cukup lama baginya untuk menyadari bahwa nyaTanya perasaannya semakin dan semakin mendalam sejak Jill kembali muncul kekehidupannya.

Semula ia bener-bener pengen banget macarin Keiry dengan tujuan untuk benar-benar melupakan. Tapi sejujurnya dari awal Dein memang sudah punya perasaan sama Keiry. Perasaan suka, sayang dan kemudian berkembang menjadi cinta.

Setidaknya perasaan itu benar-benra nyata terasa di hatinya.

Namun sejak daTangnya Jill kembali dalam keseharian Dein. Saat itu lah...perasaannya ke Jill semakin menguat, bukan semakin menghilang seperti yang ia inginkan. Perasaannya ke Keiry pun semakin samar.

"Hhhh..apa yang kudu gue lakuin...?" desis Dein sambil mengusap wajahnya dengan kalud.

Sekali lagi di pandanginya tas belanjaan itu. Semakin dipandangin semakin kuat pula rasanya perasaanya pada Jill.

Ia pun melangkah kearah tas kertas yang teronggok begitu saja di samping pintu kamarnya. Mengambilnya, kemudian membawanya ikut duduk bersamanya di atas sova di sudut ruangan, dekat dengan tas kertas tadi berada.

Dikeluarkannya kedua baju yang masih terbungkus plastik itu. Dua baju yang sama persis. Hanya beda size. Dein menyisihkan size XL miliknya. Lalu memasukkan kembali size L milik Jill.

Mau nggak mau Dein harus memberikan kemeja yang tadi sudah ia beli. Lagi pula siapa lagi kalau bukan Jill. Size L, dirumah ini mana ada yang pas. Mami nya size M dan jelas kedodoran. Lagi pula kemeja seperti ini bukan stylenya Mami nya.

Sementara Dain, Dain jelas seukuran dengan Dein. Papinya? Size nya malah mungkil beda 1 size lebih besar dari Dein dan Dain.

"haaaiiiisst!!... kasikan ajalah..." runtuk Dein pusing.

Ia pun segera beranjak dari kamaranya. Turun kebawah menuju kamar Jill yang berada di lantai bawah.

***

Dimalam yang sama.

Dain tengah mengambil minum di pantry sesaat kemudian tutup botol minumnya jatuh menggelinding ke bawah meja pantry. Langsung saja Dain berjongkok untuk mencoba meraih tutup botol nakal itu, yang ternyata cukup jauh masuk kebawah meja pantry.

Saat itulah, Dein melewati pantry dan berdiri cukup lama di depan kamar Jill.

Begitu Dain berhasil mendapatkan tutup botol, ia berniat menegakkan badannya. Namun Dain mengurunkan niatnya lantara melihat Dein yang tengah berdiri terdiam di depan pintu kamar Jill.

Pintu kamar Jill memang terlihat cukup jelas dari pantry rumah. Dain kembali menyembunyikan badannya di meja pantry. Kepalanya sedikit mencongol, mencoba mengintip apa yang di lakukan Dein.

"ngapain tuh anak berdiri disitu...?" guMam Dain sangat lirih.

Dain benar-benar penasaran, apa lagi kemudian ia melihat Dein Tangah membawa kantong kertas di Tangan kanannya.

Kantong kertas cirikhas blanjaan baju kalo lagi ngemall. Dai kemudian memicingkan maTanya saat Dein mulai membungkukkan badannya dan meletakkan tas itu di depan pintu kamar Jill.

TWINKLE LITTLE BROMANCE (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang