BAB XXI -ABOEJI!-

435 32 8
                                    

Hp Jill berdering ketika sebuah telefon masuk disaat si pemilik masih tertidur pulas pagi itu.

Dein yang semula tengah mengambil minuman didalam kulkas melirik kearah Hp itu tergeletak. Kemudian manic matanya beralih kesosok gadis yang 2 hari belakangan ini sama sekali tak ingin keluar dari suitroom ini.

Kerjanya hanya makan lalu tidur, mandi dan makan lagi. Kemudian kembali tidur seperti putrid tidur. Tidur pulas yang seakan tak menghiraukan apapun yang terjadi di sekitarnya.

Dein menegakkan badannya, kemudian berjalan kearah Hp yang terus bordering dan tak kunjung berhenti itu.

"Halo" sapanya tanpa ragu begitu ia melihat nama yang muncul di screen Hp itu.

"Jill..?" balas di sebelah terdengar ragu.

"Dein" sambar Dein tak ramah.

"Ah, halo Dein" ucap Ji Wook di seberang dengan canggungnya.

"Ada apa?" tanya Dein sengak.

"Ah..ee..Jilla. Apa Jilla ada?" suara Ji Wook terdengar canggung.

"Dia lagi tidur. Kenapa? Ada apa?" tanya Dein makin angker lantara ia tahu kalau Ji Wook lah penyebab semua kekacauan ini.

Dia yang membawa lelaki asing yang mengaku ayah kandung Jill itu kerumah pada malam itu. Dan otomatis dial ah penyebab acara surprise indah yang ia rencanakan untuk Jill gagal berantakan.

"Tidur? Ah, baiklah. Aku akan nelfon dia lagi kalau dia sudah bangun"

"Nggak usah!" sambar Dein. " Hotel XXX. Gue tunggu lo di caffe bawah sekarang juga!" lanjutnya kemudian.

"Kenapa aku harus kesana?"

"Soalnya lo yang bikin Jill jadi berantakan kayak sekarang ini!!!" sengap Dein hilang kesabaran.

Diam diseberang.

"Jill.. apa dia.."

"Sekarang! Hotel XXX. Caffe bawah!" tandas Dein kemudian menutup telfonnya.

Ia diam sesaat dengan pundak yang naik turun dan napas yang tidak beraturan. Emosi sesaatnya membuatnya ngos-ngosan. Ia kemudian berbalik memandangi Jill yang masih saja tertidur pulas bahkan setelah ia berteriak lantang macam tadi.

Cowok ganteng itu mendecis tak percaya. Biasanya Jill paling anti dengan suara bising ketika tidur. Ia pasti akan bergegas bangun begitu mendengar suara berisik sedikit saja. Tapi sekarang...

Melihat Jill yang seperti ini membuat Dein menyadari bahwa permasalahan ini pastilah sangat membuat psikis Jill kelelahan. Maka dari itu yang ia kerjakan hanya tidur dan tidur. Sama sekali tak pernah ia lihat Jill keluar dari kamar suitroom ini.

Kakinya hanya berjalan pada rute, troli makanan, kamar mandi dan kasur. Hanya itu saja.

"Hhh..." Dein teringat, ia harus turun dan menunggu Ji Wook di caffe yang berada di lantai dasar.

Ia lalu berbalik dan berjalan kearah kopernya, memilih baju dan memakainya. Ia juga tak lupa membawa HP Jill dan meninggalkan Hpnya sebagai gantinya, sebelum ia keluar dari suitroom itu.

Ia menaiki lift yang langsung membawanya turun dari lantai 11 menuju lantai dasar. Ia kemudian berjalan kearah caffe yang berada di sisi lain lobby hotel. Sesekali beberapa karyawan yang jelas pasti mengenali sosoknya membungkukkan seperempat badannya dengan menundukkan wajah untuk menyapanya.

Dein membalasnya dengan senyuman tipis dan anggukan halus kepalanya.

Ia berjalan memasuki caffe elit dan terkesan cozy itu.

TWINKLE LITTLE BROMANCE (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang