Tok, tok!! Tok, tok, tok!!
Jill mengetuk pintu kamar Dein berkali-kali, tapi tetap saja nggak ada jawaban. Akhirnya Jill memutuskan untuk membuka pintu.
Pintunya nggak dikunci.
Jill perlahan mendorong pintu itu. Ruangan didalam kamar Dein nampak gelap. Ia akhirnya membuka pintu itu lebar-lebar lalu celingukan mencari sosok Dein di kegelapan kamarnya.
"dien..." painggil Jill sambil meraba-raba tembok mencari tombol saklar.
Nggak lama tombol itu ketemu dan Jill pun menyalakan lampu kamar.
Seketika itu juga ruangan yang gelap gulita menjadi terang. Barulah ia dapat melihat sosok Dein.
Dein ternyata tengah duduk dilantai dan bersandar di tempat tidurnya dengan kaki kanan ditekuk sebagai sandaran Tangan kanannya yang menjuntai, sedangkan kaki kirinya dibiarkan selonjoran begitu saja, sedang Tangan kirinya nampak terkulai lemas disamping badannya.
Jill diam sambil mengamati Dein yang nampak sangat kacau. Buktinya dia sama sekali belum menganti pakaian usai pulang dari rumah sakit. Ia masih mengenakan pakain yang kembarannya dengan Jill.
Pandangan Dein pun nampak kosong kearah lantai. Perlahan Jill mendekati Dein lalu duduk melipat kakinya di depan Dein.
"kamu nggak ganti baju?" Tanya Jill.
Manik mata Dein melirik kearah Jill. Kemudian wajahnya pun terangkat.
" lo sendiri?" Dein balik Tanya sambil menarik kemeja kembaran yang masih di pakai Jill.
"aku tadi abis nganter kamu kerumah, pergi lagi beli bubur ayam buat kamu. Jadi nggak sempet ganti baju" jawab Jill sambil menyodorkan bungkusan plastik yang berisi bubur ayam hangat di dalam sterofom.
" seharusnya kamu tadi mandi terus ganti baju biar seger" lanjutnya.
"lo nggak usah repot-repot"sahut Dein ketus.
"aku nggak repot. Lagian Tante nyuruh aku pulang kan biar bisa jagain kamu sama ngurusin kamu. Cepet makan gih, diluar dari tadi ujan deres. Jadi pas kan, mumpung masing anget cepeTan dimakan" kata Jill sambil membukan bungkusan bubur ayam itu.
"pergi gih!" kata Dein mengusir Jill.
Jill menghentikan gerakaknya. Lalu menatap Dein.
"apa?" Tanya Jill yang merasa sepertinya ia salah dengar.
"pergi" ulang Dein singkat.
"kenapa ...aku kudu pergi?" Tanya Jill terbata-bata seakan nggak percaya Dein mengusirnya.
Senyum garing pun muncul di wajah ayu itu.
"gue bilang pergi!! Sentak Dein yang lantas menendang bubur ayam yang di bawa Jill hingga tercecer dilantai dan menghantam tembok.
Jill pun sontak kaget dan terjingkat dibuatnya. Ia lalu menatap Dein penuh Tanya.
Dein membalas tatapan Jill dnegan sorot mata tajam. Jill mulai sadar the devil Dein muncul, ia tau dari aura yang nampak suram di wajahnya.
Ia perlahan berusaha memegang Tangan Dein berharap dengan cara itu ia Mampu menenangkan Dein. Namun naas Dein yang sudah kehilangan kesabaran langsung mencengkeram Tangan Jill dan menariknya untuk ikut bangkit dari duduk bersamanya.
"gue bilang pergi!!" sentak Dein sambil berusaha menggeret paksa Jill untuk pergi.
Jill meronta dengan cepat ia Mampu melepas cengkraman Dein pada pergelangan Tangannya.
" kamu ini kenapa sih?" Tanya Jill sambil mengelus-elus pergelangan Tangannya yang terasa sakit lantaran cengkraman kuat Dein.
Dein berbalik dan menatap tajam Jill.

KAMU SEDANG MEMBACA
TWINKLE LITTLE BROMANCE (Completed)
Romance(Cerita Ini Dipindahkan Ke Fixxo. Temui aku dan semua karya terbaruku disana ya gays) kembar identik tak selamanya selalu sama. ada dua otak yang memiliki pemikiran yang berbeda. Watak pun jelas sangat berbeda. Apa jadinya bila keduanya memiliki du...