Beberapa bulan kemudian.
Kaki Jill baru saja turun dari minibus rombongan sekolahnya ketika seorang Oppa ganteng berlari menghampirinya.
"Oppa udah dateng?" tanya Jill begitu Ji Wook berdiri di hadapannya.
"Hu uh. Baru saja" Ji Wook mengangguk sambil menunjuk mobil yang ia tunggangi bersama beberapa juri lainnya.
"Wah. Kenapa aku jadi deg-deg an gini ya. Padahal dulu di Surabaya pas Oppa jadi juri aku biasa aja" Jill melangkah berjajar dengan Ji Wook.
"Hahaha...kamu harus melakukannya dengan baik dan penuh kerja keras. Agar bisa menang kali ini" ucap Ji Wook berusaha menfasihkan bahasa Indonesianya.
Jill tersenyum mendengar aksen dan tatanan bahasa yang ji Wook ucapkan masih saja berantakan. "Siap, Oppa!!" sanggupnya.
"Ok! Kita berpisah disini. Aku...akan pergi dengan juri lainnya. Semangat!!" ucap Ji Wook sembari melangkah mundur dengan membawa kepalan tangannya untuk menyemangati Jill.
Jill mengangguk sambil membalas kepalan tangan itu. Ia kemudian kembali ke dalam rombongan sekolahnya dan melangkah menuju gelanggang arena pertandingan yang berada di salah satu stadium milik sebuah universitas ternama di daerah Depok.
"Jilla!" panggil seseorang begitu Jill akan memasuki pintu masuk gedung olahraga itu.
Jill berbalik dan mendapati Wian, sahabat kekasihnya, tengah melambaikan tangannya tinggi-tinggi sambil berlari dari kejauhan.
Jill menyunggingkan senyum lebarnya menyambut kedatangan Wian.
"Kak Wian!" sapanya girang melihat sosok yang hampir setahun ini tak dapat ia lihat
"Wah... lo makin cantik aja!" puji Wian.
"Wahahahaha..bisa aja" tawa Jillan meledak karena ia sama sekali tak menyangkat akan mendapatkan gombalan garing dari sahabat pacarnya itu.
"Ketawa dia..hahaha" Wian ikutan tertawa. " Turnament juga nih?"
"Iya kak. Kak wian sendiri?"
"Gue baru aja kelar kelas dan sekarang mau nonton lo tanding" jawab Wian.
Ah, benar Wian kan memang kuliah di universitas ini.
Jill mengangguk mengerti. " Ya udah ayuk masuk!" ajaknya yang kemudian melangkah masuk kedalam gedung.
###
"Gimana pertandingannya" tanya Dein di seberang panggilan video call itu.
"Kan elo udah gue kirimin video tandingnya si Jill. Dia menang kok dapet nomer satu!" jawab Wian.
"Terus anaknya sekarang dimana? Gue telfonin nggak di angkat"
"Dia lagi ngerayain sama temen-temennya di samping lapangan tuh. Eh tapi ada yang aneh, ada cowok bule sipit gitu yang keliatan akrab banget sama cewek lo!" ucap Wian sembari mengganti pengaturan kameranya menjadi kamera belakang HP.
Kini Dein bisa melihat sang kekasih dari kejauhan yang tengah mengobrol seru dengan Ji Wook. Ada kalung medali emas yang menggantuk di lehernya.
"Siapa tuh cowok? Lo kenal?" tanya Wian penasaran.
"Oh dia. Itu Ji Wook kalo nggak salah. Nggak kenal, Cuma pernah ketemu sekali"
"Lo nggak cemburu?"
"Enggak. Jill udah pernah jelasin semua kok. Dia itu orang yang pernah nolongin Jill pas kecopetan di Surabaya"
"Oooh... Eh, elo kapan balik lagi ke Indo?" tanya wian yang kembali memutar menu kameranya menjadi kamera depan lagi.
"Masi lama lah kayaknya"

KAMU SEDANG MEMBACA
TWINKLE LITTLE BROMANCE (Completed)
Romance(Cerita Ini Dipindahkan Ke Fixxo. Temui aku dan semua karya terbaruku disana ya gays) kembar identik tak selamanya selalu sama. ada dua otak yang memiliki pemikiran yang berbeda. Watak pun jelas sangat berbeda. Apa jadinya bila keduanya memiliki du...