BAB XXXIII - UJUNG JALAN -

404 36 25
                                    

Beberapa bulan telah berlalu. Tak ada yang berubah. Perusahaan masih dalam kondisi mencoba bangkit kembali setelah dtinggal beberapa investor di beberapa anak perusahaan. Untung saja perusahaan induk yang di pegang Moon dan cabang perusahaan yang di pegang Milo di California masih sangat mampu menopang kerugian di beberapa anak perusahaan.

Kerja keras Ronov yang meninggalka. Meja operasi dan jam mengajarnya membuahkan hasil. Beberapa investor penting dapat di pertahankan.

Hasil kerja Dein juga tak kalah memuaskan, ia mampu menangani segala sanksi denda atas pemutusan kontrak dan kerugian finansial yang terjadi karena runtuhnya karir Dain di duni perartisan.

Sedangkan sang artis sendiri masih berada di sebuah villa yang baru dibeli Moon yang sengaja diperuntukkan untuk sang anak yang tengah depresi berat. Villa nan asri itu berada di sudut terpencil di pulau Bali. Ada Jill dan  Puspa yang menemani.

Ah, Jill. Ia memutuskan untuk mengambil cuti di perkuliahannya di Korea untuk dapat menemani Dain dalam masa pemulihan.

Kondisi Dain sendiri berangsur-angsur membaik. Walau sesekali ia masih berteriak histeris di kala malam hari ketika ia mulai berhalusinasi dengan kedatangan Keiry dan Fairy.

Ia selalu saja mengatakan bahwa seringkali Fairy datang ke kamarnya untuk menemaninya tidur.

Puspa berusaha sebaik-baiknya untuk memulihkan kondisi Dain. Ia melakukan berbagaimacam terapi kepada keponakannya itu. Hypnotherapy pun pernah ia lakukan padanya. Hanya saja efeknya belum begitu memuaskan.

Tapi ia tak pernah menyerah. Sekali pun ia tak pernah berpaling kepada keponakannya yang sehari-harinya hanya berdiam diri di tepi kolam renang dengan alunan musik classic yang ia putar.

Tak ada senyum..
Sepata dua kata...
Lalu pandangan yang kosong...

Meskipun Jill mengerjainya dengan mengejutkannya dari belakang, ia sama sekali tak terkejut. Hanya berpaling, memandangi Jill dengan penuh tanya...lalu kembali memandang lurus kearah siluet puncak gunung yang terukir di pemandangan taman belakang villa.

******














"Dia tidur siang?" Tanya Dein yang baru saja sampai.

"Iya. Barusan" jawab Jill yang mengekori sanga kekasih untuk mengintip Dain dari balik pintu kamarnya.

"Tante Puspa??" Tanya Dein lagi sembari melonggarkan ikatan dasi di lehernya.

"Market. Sama mbak Kus belanja buat persediaan makanan" Jill kembali mengekori Dein yang berjalan ke arah ruang tengah.

"Dain bisa tidur pakai obat tidur lagi?" Dein membuang jas dan dasinya ke atas sandarab sova ruang tengah yang menghadap langsung ke kolam renang dan taman belakang villa.

"Hypnotherapy. Tante Puspa ngelakuin itu lagi. Ia khawatir soal dosis obat tidur kak Dain yang makin lama makin meningkat" jawab Jill juga khawatir bila mengingat hal itu.

"Hhhhh...." Dein menghempaskan tubuhnya ke atas sova. Ia mendongakkan kepalanya hingga menyentuh sandaran sova.

"Kamu nggak apa-apa?" Tanya Jill yang melihat kelelahan pada raut wajah kokoh itu.

"Aku capek... Ini nggak ada habisnya..." Eluh Dein sambil memejamkan matanya.

"Mau ku bikinin sesuatu??" Tawar Jill.

Dein tak langsung menjawab. Ia perlahan mengangkat kembali kepalanya. Menatap Ji sekian detik kemudian.

"Aku butuh vitaminku.." ucapnya sambil menarik tangan Jill hingga gadis itu duduk di bangkuannya.

TWINKLE LITTLE BROMANCE (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang