Pagi ini meja makan nampak sepi. Hanya Dein, Dain dan Jill yang sarapan pagi ini. Ronov, Papi Dain dan Dein sudah berangkat pukul 3 pagi tadi karena ada callingan operasi dadakan.
Sedangkan Moon, tiba-tiba saja badannya mendadak deMam sejak kejadian Dain ngamuk kemarin malam. Alhasil Moon masih tidur di jam sarapan anak-anaknya.
Nggak ada sepakata kata apa pun yang keluar dari mulut Dein, Dain atau pun Jill. Hingga mereka selesai sarapan pun kebisuan itu masih menghias walaupun ketiganya berjalan keluar halaman rumah berbarengan.
Dain langsung berjalan menuju motornya dan berangkat terlebih dahulu. Sedangkan Jill, pagi ini ia memilih diantar sopir kesekolah, walalupun ada Dain yang selalu membocengnya.
Hanya saja sejak sejak mendengar pengakuan Dain kemarin, ada perasaan nggak nyaman kalau Jill berada di dekat Dain.
Begitu mobil Jill berangkat, giliran Dein yang kini masuk ke dalam mobil. Karena motor Dein mengalami kerusakan parah lantaran semoat jadi bulan-bulannan preman bayaran Yoga kemarin, alhasil untuk sementara Dein harus di antar jemput sopir naik mobil yang biasanya di pakai mbok nor atau mbak kus kepasar.
Istilahnya mobil yang sekarang dinaiki Dein desebut mobil rumah. Sedangkan mobil yang dipakai oleh Jill itu mobil keluarga. Jenis mobilnya memang lebih bagus mobil yang dipakai Jill karena mobil itu digunakan untuk antar jemput tamu yang daTang kerumah.
Keseluruhan, keluarga Dein dan Dain memiliki 4 mobil. Masing-masing untuk Mami dan Papinya, satunya mobil rumah dan terakhir mobil keluarga. Sisanya ada 2 motor, milik Dain dan Dein.
Dari cara mereka yang berangkat menggunakan kendaraan sendiri-sendiri ini pun sudah nampak jelas seperti apa situasi ketegangan diantara ketiganya.
***
Begitu Dain sampai disekolah ia langsung menuju ke rumah kaca. Tempatnya menghabiskan waktu dalam ketenangan sekaligus mengamati berkembangan beberapa Tanaman yang ia Tanam sejak kelas X.
Langkahnya sempat terhenti di ambang pintu rumah kaca begitu melihat ada Keiry yang tengah berjongkok dan mengamati beberapa tunas Tanaman yang baru tumbuh beberapa minggu.
Dain sempat merasa dilema. ada rasa bimbang antara ia harus masuk atau melangkah pergi begitu saja sebelum Keiry menyadari kedaTangannya.
Mau sampai kapan ia meninggalkan Keiry terus-terusan. Meninggalkan orang yang selalu menyukainya sejak dulu. Akhirnya dengan sedikit ragu-ragu Dain melangkah perlahan mendekati Keiry.
" tunasnya nggak rusak kan?" Tanya Dain begitu berdiri tepat di belakang Keiry.
Keiry nampak sangat terkejut. Buktinya ia langsung terduduk dari jongkoknya. Perlahan ia mendongak kearah Dain.
Seketika itu juga maTanya terbelalak nggak percaya melihat Dain. Bukan karena kedaTangan Dain yang tiba-tiba dan mengagetkannya, tapi juga karena wajah Dain yang nampak biru-biru dan memar.
"Dain...." desis Keiry.
"sorry. Kaget ya?" kata Dain sambil mengulurkan Tangannya menawari bantuan Keiry untuk berdiri.
Keiry sempat terdiam sesaat sambil memandangi Tangan Dain yang menjulur kearahnya. Namun detik berikutnya ia membalas uluran Tangan Dain dan perlahan bangkit.
"lo...lo nggak apa-apa?" Tanya Keiry nampak cemas begitu melihat dengan jelas memar dan biru-biru yang ada di wajah Dain.
Dain sempat mencureng nggak paham, namun detik kemudian senyum kecut pun mencuat dari ujung bibirnya.
" gue nggak apa-apa kok" kaTanya kemudian.
"tapi bonyok gitu. Gue pikir Cuma Dein yang bonyok, tapi liat lo lebih bonyok lagi..kayaknya yang lebih parah lo deh kondisinya" kata Keiry.

KAMU SEDANG MEMBACA
TWINKLE LITTLE BROMANCE (Completed)
Любовные романы(Cerita Ini Dipindahkan Ke Fixxo. Temui aku dan semua karya terbaruku disana ya gays) kembar identik tak selamanya selalu sama. ada dua otak yang memiliki pemikiran yang berbeda. Watak pun jelas sangat berbeda. Apa jadinya bila keduanya memiliki du...