Part 28

532 12 0
                                    

Kata sambutan dan perkenalan lukisan oleh Chanyeol dimulai. Para yeoja berkumpul disetiap sudut membentuk kelompok mendiskusikan tentang ketampanan CEO muda itu. Tepuk tangan yang meriah setelah Chanyeol menyelesaikan kata sambutan, selanjutnya beberapa lukisan bertema aphrodite di pajang diatas panggung.
"beberapa waktu lalu saya mendapatkan inspirasi dari seseorang, menggunakan wajah nya sebagai tema untuk karya ku. Tuhan begitu sempurna menciptakan nya dan dengan cara yang indah pula mempertemukan kami"
*sreettt
Kain merah disetiap frame terbuka menampilkan lukisan Chanyeol. Semua mata terpanah, terlebih dengan sangat teliti wajah itu seperti terukir di kanvas.
Chanyeol puas dengan ekspresi yang ditunjukkan setiap orang dibawah panggung. Layaknya merasa sudah seharusnya beginilah sebuah karya dipandang.
"wajah yang begitu menawan dan indah dan dia nyata berada diantara kita" lanjut Chanyeol dengan nada jenaka.
Semua orang mulai berdiskusi dan melihat sekeliling, mencari sosok misterius yang nyata digambar itu.
*sreeett
Tampilan tv LCD di sebelah kanan panggung membuat suasana tercengang. Tampilan setengah badan seorang anak yang duduk di sofa.
Itu Baekhyun, memandangi keindahan panorama didepan nya membuat mata nya berbinar senang. Tapi karena janji nya ke Chanyeol harus duduk diam selama 15 menit membuat dirinya tertahan untuk gak melemparkan diri ke kaca jendela didepan nya. Rasanya Baekhyun ingin membawa pemandangan itu kepelukan nya.
Jari Baekhyun mengetuk ngetuk lutut nya, menghitung waktu sampai menit ke lima belas.

Ballroom dipenuhi dengan tatapan kagum dan iri. Siapa yang gak kaget ternyata objek lukisan mahakarya itu datang dari seorang namja berupa cantik dan manis. Lekukan hidung nya yang mancung, warna mata yang coklat kemerahan, dan bibir tipis nan mungil. Coat jas yang dipakai terlihat sangat ramping dan pas dikenakan.
"kamera bagus, semua tersorot tanpa terlewat" pikir Chanyeol senang.
Tiba tiba layar lcd mati membuat suara kecewa para penonton ricuh.
"karya lukisan ini akan ada metode nya dan di acara selanjutnya akan ditampilkan dengan baik dihadapan para guru dan rekan, selamat menikmati acara dan karya disini. Saya pamit undur diri" diakhiri dengan bungkukan sopan, Chanyeol turun dari panggung segera menuju ke studio nya.
Baekhyun sudah lengket seperti cicak dikaca itu. Serasa terbang saat mendekati panorama dari gedung setinggi ini. Belum lagi angin AC diruangan meniup tepat ke kepala Baekhyun, semua terasa fresh.

*dipdipklik
Baekhyun menoleh mendengar pintu terbuka. Mendapatkan Chanyeol didepan sana dengan senyum yang gak biasa.
"ayo kita makan siang" ajak Chanyeol sambil mengangkat satu tangan nya.
Baekhyun segera berjalan dan meraih tangan Chanyeol dan keluar lagi dari ruangan itu.
"apa kerjaan Chanyeollie dah siap?"
"hm. Hampir siap, hanya saja aku lapar"
"oohh kita akan kemana ?"
"restoran gangnam"
"tempat steak kemarin?"
"hm"
Baekhyun diam diam mengulum senyum, sifat kekanakan nya membuat nya lupa soal kesakitan beberapa waktu lalu. Dengan polosnya dia lupa dengan rencana kabur dari Monster.

Jina mengetuk ngetuk pulpen diatas meja, terasa sesak seharian didada nya mengingat kembali kejadian itu. Berharap itu hanya mimpi buruk sebagai bunga tidur saja. Menutup mata nya dan berputar dikursi kerja nya.

*flashback on*
Seorang anak kecil baru menginjak umur 6 tahun sudah dibebani banyak tanggung jawab. Chanyeol memiliki seorang asisten sejak kecil. Untuk menjaga semua kegiatan nya agar tetap rutin dilakukan. Sang asisten menjadwalkan kegiatan seminggu penuh dari les musik, les melukis serta les bahasa kecuali selang waktu jam makan siang Chanyeol akan beristirahat. Siang ini Chanyeol mengikuti kelas melukis, setelah membangunkan Minji Chanyeol bersiap menjalankan hari nya sampai malam tiba.
Hari itu perasaan Chanyeol diselimuti perasaan khawatir yang berlebihan dengan Minji setelah melihat luka biru di lengan kiri Minji. Saat ditanya minji hanya menjawab tidak apa apa. Selesai dari kelas melukis, Chanyeol meminta untuk pulang dulu sebelum diikutkan les piano. Saat pulang, mata Chanyeol melebar melihat Minji tergeletak dilantai dengan ayah nya memegang cambuk. Cambukan itu menyapa kulit punggung Minji dan menghasilkan darah segar dan teriakan tertahan Minji.
"APPA!!!!" panggil Chanyeol dengan suara kuat
Tentu saja kaget melihat putra nya pulang jam segini, berbalik menoleh ke Chanyeol dengan senyuman tulus menyambut putra nya.
"bukan kah seharusnya jam segini adalah kelas piano ?" tanya ayah Chanyeol
"apa yang appa lakukan ke minji, minggir aku ingin melihat adikku" rajuk Chanyeol kecil.
Ayah Chanyeol menahan nya,"dengar putra ku, dia bukan adikmu!"
"dia adikku, appa. Dia sudah disini dan besar bersama ku"
"PARK CHANYEOL! Kau anak tunggal putraku, Anak nya Park Jaejun. Chanyeol adalah satu satu nya anak dirumah ini"
"APPAA!"
"apa yang kalian tunggu, bawa chanyeol ke tempat les nya" "APPA..APPPAAA JANGAN MELUKAI MINJI.. APPA.. DIA ADIKKU" rengek Chanyeol sampai menghilang dibalik pintu.
Minji meringsut mundur sebelum sebuah kepalan menghantam kepala nya dan semua menggelap.
Membuka mata nya, minji menemukan dirinya disebuah gudang lagi. Kepala nya berdenyut dan merasa tubuh nya dingin. Minji merasa sekitar nya gelap hanya sisa sisa cahaya senja yang menerobos masuk dari celah pintu.
"Chanyeol oppaa.. aku takut..hiksss" gumam minji sambil memeluk kedua kaki nya.
Ini kedua kalinya Chanyeol melihat appa nya memukuli minji dengan keji. Terakhir kali nya bahkan kepala minji terbentur ke patung ditengah ruangan dan minji gak bangun selama 3 hari lamanya. chanyeol penasaran kesalahan apa yang minji lakukan sampai ayah nya yang biasa sangat lembut dan baik bisa murka sebegitu besarnya.
Hari berikutnya, Chanyeol diliburkan dari kegiatan karena akan ada acara dipavilion mereka. Chanyeol berdandan ala pangeran kecil dan bercermin menurunkan wajah tampan sang ayah. Chanyeol kemudian menuju kamar minji mendapatkan minji tidur diranjang nya.
"Minji-ahh..irreona-bwa" kata Chanyeol sambil menggoyang bahu minji.
"oppa.. aku ngantuk"
"bangunlah dan bersiaplah, kata pengurus rumah hari ini ada acara besar dirumah dan kita semua berpakaian rapi"
"aku capek oppa, biarkan aku tidur" "hhh..baiklah, selamat tidur pemalas"
Chanyeol keluar kamar dengan wajah kecewa nya. Berniat mengajari minji berdansa ditengah ballroom nanti seketika buyar karena minji malas. Sepeninggalan Chanyeol, minji menangis. Siapa yang gak ingin ikut ke pesta ? berpakaian bagus dan cantik ? makan hidangan yang banyak diluar sana ?
Semalam appa datang kekamar nya dan memberi peringatan untuk gak menunjukkan diri apapun yang terjadi di pavilion dan menghadiahkan sebuah pukulan kekepala minji dengan bantal.

Aphrodite statueTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang