The Game (8) : The Jakenstein's Pride

31.4K 879 22
                                        

"Bisakah kau diam?"

Javier menatap Tiara yang masih meracau tak jelas sambil menatap bintang dari jendela. Sejak mereka pulang ke hotel dalam keadaan mabuk, sebenarnya Javier sudah ingin tidur, tapi Tiara, gadis manis ini sepertinya tidak ingin tidur dan dengan jahatnya membuat Javier juga tak bisa tidur akibat suaranya yang oh-so-wow.

"Aku tak bisa diam, Javiewooaaah"

Mata tajam Javier mendelik kearah Tiara yang secara tiba-tiba melengkingkan suaranya. Entah berapa botol anggur yang dihabiskan Tiara malam ini, tapi Javier menduga Tiara meminum sekitar tiga sampai empat botol anggur sendirian, terbukti dari besarnya nominal angka di bill yang dibayar Javier tadi.

Javier menghela napas pelan, baru hari kedua berlibur bersama Tiara, Javier sudah menghabiskan uang sekitar 8 ribu dollar. Untung saja mereka hanya seminggu di Los Angeles. Tak bisa Javier bayangkan jika mereka berlibur selama satu bulan seperti yang disarankan Jeremiah padanya.

Bisa-bisa, perusahaan Noarch bangkrut bahkan sebelum Javier bisa mengambil kembali sahamnya dari Winn Group.

Ah! Javier tersentak. Memikirkan saham membuatnya teringat akan tujuannya berlibur kesini.

Netra hitam Javier menatap Tiara yang sudah duduk dijendela besar yang terbuka lebar dan menyanyi dengan sedihnya bak pemeran utama dalam opera sabun. Tersenyum sinis, Javier melangkahkan kakinya menuju ke arah Tiara.

Ini saatnya dia melaksanakan rencananya pada Tiara!

Javier menaikkan sebelah alisnya. Tiara sedang duduk di bibir jendela besar yang terbuka; menunjukkan seberapa tinggi lantai yang mereka tempati sekarang. Sejenak, pikiran jahat untuk mendorong Tiara dari jendela merasuki pikiran Javier. Tapi jika itu dia lakukan, Javier akan mempunyai masalah yang lebih jauh lagi karna terlibat dalam kasus pembunuhan.

Jadi dia mengurungkan niatnya.

Lagipula.. Siapa yang mau membunuh gadis manis yang sedang mabuk ini? Mungkin psikopat pun akan berpikir dua kali untuk melakukannya.

Javier menyentuhkan tangannya di bahu Tiara, "Ayo masuk. Kau bisa kedinginan jika terus disini"

Tiara menoleh lalu tersenyum sedih, tangannya terulur menuk-nepuk pipi Javier lalu dengan gaya bak pemeran melankolis, dia terisak kecil sambil menutup mulutnya dengan satu tangan.

"Aku tak akan pergi sebelum Eugene ku datang. Aku harus menurunkan rambut panjangku untuknya.."

Javier membelalakkan matanya terkejut, "Oh. Jadi kau Rapunzel sekarang?"

Tiara mengganggukkan kepalanya pelan.

Javier hanya terkekeh kecil lalu membalikkan badannya pelan. Sebut saja dia sudah tertular penyakit gila Tiara, atau dikarnakan Javier yang juga sedikit mabuk sekarang, tapi tidak ada salahnya kan jika dia ikut permainannya Tiara?

"Lupakan saja Eugene-mu itu, Rapunzel. Kemarilah." Ujarnya sambil menahan tawa.

"Tidak, Frankenstein. Aku akan tetap menunggu Eugene"

Tunggu.. Apa?! Alis Javier berkedut kesal. Dia Frankenstein? Entah sejak kapan Frankenstein ada di dalam cerita Rapunzel. Tadinya Javier berniat akan mengambil peran penyihir jahat, lalu berencana mengutuk sang Rapunzel untuk jatuh cinta padanya.

Tapi ternyata... wajahnya lebih cocok jadi Frankenstein.

Dengan pelan dan berbahaya, Javier mengendap-endap kearah Tiara yang membuat gadis itu terkekeh seperti anak kecil. "Tidak Frankenstein. Jangan dekati aku" Kata Tiara sambil berlari menjauh dari jendela.

THE GAME ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang