Mobil hitam milik Javier berhenti disebuah gedung pencakar langit bertulisan 'Winn Group'. Tiara menyiapkan tasnya dan melihat kesamping, bertatapan dengan Javier yang menatapnya dalam diam, kening Tiara berkerut bingung.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Tiara.
"Kau benar-benar tak ingin ikut denganku ke rumah sakit? Sebagai.. sekretaris misalnya?" Bujuk Javier lagi.
Sungguh, kalau bukan karna panggilan Trevin, Tiara akan dengan senang hati menemani Javier. Bukan apa-apa, wajah memelas Javier menggemaskan sekali. Tapi dengan tegas Tiara menggelengkan kepalanya. Apapun yang akan dikatakan Trevin, pastilah suatu hal yang pribadi.
"Tidak Javier, ini penting sekali aku tak mungkin melewatkannya" Kata Tiara.
Javier menghembuskan nafasnya lelah, "Kau hanya memberi sandi brankas itu ke Trevin kan? Kalau begitu aku akan menunggumu".
Tiara membelalakkan matanya terkejut. Mampus. Tiara lupa bahwa dia beralasan untuk memberikan kunci sandi ke Trevin."Pergi saja sana, dasar bayi" Jawab Tiara kelabakan.
Lalu secepat kilat, Tiara turun dari mobil dan membuka bagasi. Tangannya menarik koper sedang miliknya dari bagasi mobil lalu setelahnga menepuk-nepuk badan mobil Javier. Saat Javier menurunkan jendelanya, Tiara menggerakkan tangannya diudara.
"Sana pergi. daah" Kata Tiara sambil berlalu pergi untuk masuk kedalam lobi.
Javier hanya menatap punggung Tiara kosong lalu menghela napas pelan. Ditepuknya sedikit pipi kanannya sebelum menggeser perseneling mobilnya ke angka dua lalu menekan gas unuk pergi dari gedung itu.
Kalau saja ayahnya tidak sakit, dia pasti akan menunggu Tiara. Tapi kali ini sebaiknya tak usah.
♤♡♢♧
"Ada apa, Trevin? Kenapa memanggulku?" Tiara melipat tangannya di dada. Bibirnya mengerucut kesal menatap Trevin yang dibalas dengan desahan pelan dari pemuda didepannya itu.
"Duduklah" Kata Trevin sambil menunjuk sofa disebelahnya.
Tiara menurut. Gadis itu membawa kedua kakinya berjalan kearah sofa berwarna krem yang berada didepan jendela besar. Setelah duduk, Tiara menatap Trevin yang menyodorkan sebuah map biru kedepannya sambil meletakkan sekaleng soda di meja.
"Apa ini?" Tanya Tiara sambil membuka-tutup map biru yang ternyata berisi dokumen tentang anggaran dana yang diberikan oleh perusahaan Noarch.
"Lihat? Entah kenapa semakin lama pasokan dana kita menurun sampai berhenti sama sekali semalam, sampai surat penangguhan dikirim hari ini. Aku tak tahu apa ini berhubungan dengan sekaratnya ayah Javier atau keluarga Noarch yang lain sudah mengetahui penyaramanmu?" Jelas Trevin.
Tiara mengerutkan alisnya bingung, lalu menatap Trevin aneh, "Tapi sikap Javier tak berubah, kok. Dia masih sama menyebalkannya seperti dulu".
"Aku takut menyebalkan versi mu itu termasuk kenyataan bahwa dia sudah menidurimu" Trevin menyeringai mengejek kearah Tiara yang dibalas dengan gendikan bahu.
"Entah"
"Begini ya Tiara. Aku tidak mencurigai Javier. Aku mencurigai saudara-saudaranya yang lain.."
Mata Tiara menatap Trevin penasaran. Alisnya terangkat naik saat Trevin tersenyum aneh padanya, "Ma-maksudmu?"
Trevin menghela napas lalu memperlihatkan sebuah kertas berjudul penangguhan dana kepada Tiara dan menunjuk sebuah nama diujungnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE GAME ✔
RomanceTiara Winn mencoba untuk membuat seorang Javier Noarch bertekuk lutut demi perusahaannya. Tapi dia tak tahu jika Javier bukan hanya pebisnis sukses tapi sebuah dewa feromon berjalan. Seorang Noarch bertekuk lutut? Yang benar saja! Mereka berdua mamp...
