"Astaga Ayah!!" Baekhyun terperanjat ketika membuka pintu rumah utama dan mendapati kondisi mobil Chanyeol yang mengenaskan.
"Ayah! Kemari!"
Chanyeol berlari dari arah kamarnya, menuju ke tempat Baekhyun berada. Sama halnya seperti Baekhyun, ia pun terkejut. Mendekati mobilnya dan mengamati sekitar.
"Sayang, kau diam disitu, oke?"
Chanyeol berjalan perlahan menghindari pecahan-pecahan kaca yang berasal dari mobilnya. Jemarinya bergerak menyentuh sebuah guratan yang lumayan dalam. Ia mengutuk hal tersebut. Dirinya dan Baekhyun sudah siap dengan seragam masing-masing untuk berangkat memulai hari ini, tetapi apa yang ia dapat? Kesialan yang menimpanya secara tak terduga.
"Ayah.. kenapa bisa begini?"
"Ayah juga tidak tahu, tapi.. sepertinya kerusakan ini terjadi semalam."
"Maksud Ayah?"
"Semalam Ayah sempat mendengar suara seperti pecahan walaupun samar-samar, tapi Ayah pikir itu bukanlah hal yang penting. Astaga.. siapa sih pelakunya?"
"Lalu sekarang bagaimana 'Yah?"
"Kau masih ingin ke sekolah?"
Baekhyun mengangguk, "Baekkie harus mengembalikan buku Raeun."
"Baiklah, untuk sementara kita akan naik bus. Tidak masalah, kan?"
"Tak apa, ayo berangkat."
Chanyeol kembali ke dalam untuk mengambil tasnya kemudian menggendong Baekhyun hingga depan gerbang untuk menghindarinya tertancap pecahan kaca. Keduanya berjalan hingga halte walau mereka tahu mereka tidak akan sampai ke tujuan tepat waktu.
Benar saja, Baekhyun terlambat satu jam, tetapi setelah Chanyeol menjelaskan semuanya, guru pengajar pun ikut prihatin dan memaklumi. Chanyeol pun kembali ke halte dan menunggu bus yang mengarah ke kantornya. Ia juga menyempatkan diri menghubungi layanan bengkel untuk membawa mobilnya dan memeriksa kerusakannya.
Chanyeol tampak tidak fokus dengan pekerjaannya. Ia ingin buru-buru pulang dan menjemput Baekhyun, membawanya selalu bersamanya.
Chanyeol memutuskan untuk menitipkan pekerjaannya pada salah satu pegawai kepercayaannya dan bergegas ke sekolah Baekhyun. Menunggunya hingga pulang dengan rasa khawatir yang melanda.
Tiba-tiba ponselnya bergetar panjang menandakan seseorang tengah melakukan panggilan dengannya. Chanyeol melihat ponselnya dan mendapati nama Sehun yang tertera. Tanpa pikir panjang ia menjawabnya.
"Ada apa?"
"Hyung kau dimana?"
"Di sekolah Baekhyun, kenapa?"
"Tetaplah disana."
"Maksudmu?"
"Apa kalian baik-baik saja? Atau eum.. entahlah."
"Maksudmu?"
"Jadi.. benar?"
"Sebenarnya apa ingin kau katakan, Oh Sehun? Bicaralah dengan jelas. Kau tidak terdengar seperti biasanya."
"Hyung, dengar, tetaplah disana."
"Tapi aku tidak paham,"
"Lakukan saja, Hyung!"
Baru saja Chanyeol ingin memaki tetapi panggilan sudah terputus lebih dulu. Chanyeol mencerna setiap percakapan yang ia lakukan, berpikir dengan akal sehatnya dan ia pun menemukan sebuah kejanggalan.
Tapi, mungkinkah?
Di tengah pikiran kalutnya, Baekhyun muncul dengan Luhan di sampingnya. Baekhyun berlari dan memeluk Chanyeol erat, "kupikir Ayah telat lagi. Ayo kita pulang!"
"Kalian akan langsung pulang?" Luhan angkat bicara.
"Ehm ya, mungkin?" Jawab Chanyeol dengan nada bicara yang ambigu. Luhan melangkah lebih dekat dan tersenyum.
"Aku membawa mobilku, kalau begitu mari kuantar karena setahuku bus selanjutnya baru akan tiba dalam beberapa jam."
"Benarkah? Tapi--"
"Tak perlu sungkan, ayo." Luhan mengajak mereka untuk mengikutinya. Mengantarkannya sampai tujuan dengan selamat. Luhan sempat terkejut saat mendapati serpihan kaca yang masih tersebar di halaman rumah Chanyeol.
Jadi benar?
Chanyeol sempat mengajak Luhan untuk bertamu tetapi dengan sopan Luhan menolaknya dan memilih untuk langsung pulang ke kediamannya. Chanyeol dan Baekhyun pun beranjak ke kamar, mengganti pakaian dan mengisi perut kosongnya. Malam nanti Chanyeol berniat untuk mendatangi bengkel yang mereparasi mobilnya.
"Sayang, nanti malam Ayah ingin ke bengkel, kau ikut kan?"
Baekhyun menatap Chanyeol yang duduk di seberangnya, "Baekkie ingin ikut, tapi Baekkie punya banyak sekali tugas yang diberikan saat Baekkie tidak masuk kemarin."
"Lalu? Kau berani jaga rumah? Karena Ayah harus kesana untuk melihat kerusakan mobilnya agar bisa cepat diperbaiki." Chanyeol sempat tidak rela mengatakan dirinya akan meninggalkan Baekhyun secara tersirat.
"Ya sudah."
Keduanya masih bersama hingga pada saat Chanyeol mengganti busananya dan melangkah keluar. Dengan wajah tenang, Baekhyun mengantar Chanyeol hingga pintu utama walau sejujurnya ia sendiri takut hal yang buruk akan terjadi. Chanyeol pamit, tetapi setelah berjalan beberapa langkah ia berbalik.
Menarik Baekhyun dan membawanya pergi. "Kau harus ikut, apapun alasannya. Tunggu disini oke."
Chanyeol kembali masuk dan berlari ke kamarnya yang memang paling mudah untuk dituju kemudian menyambar sebuah hoodie, masker dan juga sebuah topi miliknya. Chanyeol kembali ke tempat dimana Baekhyun berdiri, ia berlutut guna memakaikan hoodie miliknya pada Baekhyun.
Baekhyun mendongak dengan wajah yang tertutup lapisan kain pelindung kepala. Tubuhnya tenggelam dalam balutan hoodie milik Chanyeol yang memang oversize. Chanyeol menangkup wajah Baekhyun dan mengecup bibirnya sekali kemudian bangkit dan meraih jemari Baekhyun.
Baekhyun menggenggam tangan hangat Chanyeol dan tersenyum tipis. Mungkin semuanya akan baik-baik saja jika Chanyeol dan Baekhyun selalu bersama dan saling menjaga. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada esok hari.
KAMU SEDANG MEMBACA
Daddy; PCY [Completed][GS]
FanfictionUntuk putriku apapun kulakukan, satu-satunya wanita yang kucintai di sisa hidupku. Permintaannya akan selalu kukabulkan, termasuk- -memuaskannya.. come to me, Baekhyun-ah.
![Daddy; PCY [Completed][GS]](https://img.wattpad.com/cover/113078738-64-k253747.jpg)