13. Siklus Baekhyun

11.6K 508 4
                                        

Sudah 15 menit Baekhyun duduk rapih dengan sebuah pensil digenggamannya. Sebentar lagi peringatan waktu pulang akan terdengar, jadi dengan sigap ia menyelesaikan catatan pelajarannya yang tercantum di papan tulis.

Raeun--teman sebangkunya telah selesai lebih dulu, ia memasukkan seluruh alat tulisnya dan duduk rapih sambil sesekali melirik catatan Baekhyun.

"Sudah sampai mana?" Baekhyun menoleh, menunjuk asal ke arah papan tulis dan melanjutkan catatannya.

Kring.

Baekhyun dibuat gelisah karena bel pulang yang sudah menggema. Catatannya masih tersisa banyak tetapi mayoritas siswa lain telah merapihkan mejanya. Baekhyun menatap Raeun seketika.

"Raeun.."

Raeun yang tadinya sibuk mengikat surainya kini menoleh, "sudah selesai? Ayo pulang."

"Belum, masih banyak. Kau mau tidak menemaniku sampai selesai?"

"Tapi yang lain sudah pulang, Baekhyun. Kau bawa catatanku saja ya, nanti kau salin saat tiba di rumah. Jangan lupa besok kembalikan, oke?"

"Bolehkah?"

"Tentu saja, ini." Raeun menyerahkan catatannya dan membantu Baekhyun beres-beres kemudian melangkah keluar meninggalkan kelas.

Keduanya berjalan beriringan hingga tiba di gerbang sekolah untuk menunggu si penjemput. Tetapi, mungkin hari ini Baekhyun memang kurang beruntung karena Raeun dijemput lebih dulu oleh ibunya. Dengan terpaksa, Baekhyun menunggu sendirian.

Tiba-tiba sesosok laki-laki menghampiri Baekhyun dengan tas kerja digenggamannya. Ia tersenyum dan sedikit merendah menyamakan tingginya dengan Baekhyun. "Baekhyun?"

Baekhyun menoleh dan membungkuk sopan. "Oh! Selamat sore Luhan Ssaem, ada apa?"

"Ayahmu belum datang?"

"Belum Ssaem, Ssaem tidak pulang?"

"Baru saja Ssaem ingin pulang tapi Ssaem malah menemukanmu disini. Mau Ssaem antar? Karena mungkin Ayahmu belum bisa pulang dalam waktu dekat."

Baekhyun terlihat berpikir, Luhan memang salah satu pengajar yang cukup dekat dengannya, tetapi ia mau pulang bersama Chanyeol. Chanyeol pun telah berpesan pada Baekhyun untuk selalu menunggunya.

"Maaf Ssaem, tapi Ayah berpesan untuk menunggunya. Eum.. bisakah Ssaem menghubungi Ayah? Hanya untuk memastikan hehe."

"Sebentar," Luhan mengeluarkan ponselnya dan sedikit menjauh, terlihat sebuah percakapan muncul dari bibirnya. Sesekali ia pun mengangguk walau Baekhyun sama sekali tidak mendengar apa yang disetujui oleh Luhan.

Luhan kembali, memberitahukan Baekhyun untuk tetap menunggu Chanyeol. Luhan bilang, Chanyeol baru saja meninggalkan kantor dan bergegas menjemput Baekhyun. Dengan sangat terpaksa Luhan menitipkan Baekhyun pada salah satu satpam perempuan yang masih berjaga di pos gerbang, karena ia masih memiliki beberapa urusan di kediamannya.

Dengan bosan Baekhyun setia menunggu hingga sebuah mobil yang sangat ia kenal pun muncul menampakkan sosok Chanyeol yang berlari ke arahnya.

Chanyeol berlutut dan mengambil alih tas sekolah Baekhyun. "Sayang, maaf.."

Baekhyun hanya tersenyum dan bangkit, berjalan lebih dulu untuk masuk ke dalam mobil sedangkan Chanyeol yang bingung tetap mengikutinya.

Gas mulai dipijak dengan perlahan, "sayang.. jangan marah."

Baekhyun menoleh dan melayangkan tatapan sedih. "Kenapa Ayah lama sekali? Perut Baekkie sakit hiks."

Chanyeol meraih jemari Baekhyun, dikecupnya punggung tangan tersebut dengan penuh kasih sayang. Menggenggamnya erat dengan usapan cinta yang terus Chanyeol berikan.

"Maaf, Ayah minta maaf."

Baekhyun menunduk dan mulai menitikkan air mata merasakan rasa sakit yang terus menjalar pada perutnya. Seingatnya, ia rajin mengonsumsi berbagai jenis buah dan sayuran guna melancarkan pencernaannya tetapi mengapa sakit ini terasa berbeda.

"Ayah mohon jangan menangis, Sayang.."

"Hiks perut Baekkie.."

Chanyeol mengencangkan laju kemudinya, membelah jalan hingga tiba dengan cepat di kediamannya. Chanyeol meraih tas kerja miliknya juga tas sekolah milik Baekhyun,  menyampirkannya dengan mudah pada salah satu bahunya kemudian mengangkat tubuh lemah Baekhyun untuk dibaringkannya di ranjang miliknya.

Chanyeol melepaskan dasi dan sabuknya juga melepas ketiga kancing teratasnya, kemudian duduk pada tepi ranjang dengan jemari yang senantiasa membelai wajah Baekhyun.

"Sayang.." Chanyeol merasa tidak tega melihat tetesan air mata yang masih mengalir disepanjang pipi Baekhyun. Diusapnya perlahan dengan ibu jarinya.

Chanyeol menunduk dan mengecup kening Baekhyun. "Ssstt jangan menangis, Sayangku."

"Ayah gantikan seragammu ya?" Baekhyun mengangguk kecil dan Chanyeol dengan segera menuju ke kamar Baekhyun dan menyiapkan dua pasang pakaian untuk dirinya juga untuk Baekhyun.

Chanyeol kembali terduduk dan mulai melucuti satu persatu seragam Baekhyun hingga menyisakan pakaian dalam yang mencetak jelas bagian privasi dari tubuh putrinya. Chanyeol memakaikan kaos dan celana pendek yang ia anggap cepat untuk dipasang.

Setelah selesai, Chanyeol bangkit dan menelanjangi dirinya sendiri. Untuk saat ini, Baekhyun tidak peduli dengan apa yang disuguhkan oleh Chanyeol. Dengan cepat Chanyeol berganti dan ikut bergabung dengan Baekhyun di atas ranjangnya.

Chanyeol berbaring menyamping dengan sebelah lengannya yang ia jadikan bantal untuk Baekhyun.

"Mana yang sakit, hm? Beritahu Ayah."

Sesenggukan Baekhyun menjawab, "perut Baekkie 'Yah hiks--"

Chanyeol meraih minyak angin di nakas sebelahnya, kemudian menuangkan dan menyelipkan tangannya ke dalam kaos Baekhyun, mengelus-elus perut Baekhyun dengan lembut sembari menyalurkan kehangatan.

Chanyeol mengecupi wajah Baekhyun sambil sesekali berbisik untuk menghentikan tangisannya.

"Tidak biasanya kau menangis hanya karena sakit perut. Ada apa? Apa yang kau makan di sekolah, hm?"

"Baekkie cuma beli susu yang biasa Baekkie minum hiks tapi-- perut Baekkie langsung sakit.."

"Sshh ya sudah, Ayah disini menjagamu." Chanyeol kembali menunduk dan mengecup bibir Baekhyun hingga membuat Baekhyun menahan suara tangisnya. Tangan Chanyeol juga masih setia mengusap wilayah perut Baekhyun yang mulai menghangat.

"Sekarang tidur saja ya, Ayah akan menemanimu." Chanyeol menarik selimut hingga membungkus tubuh Baekhyun kemudian menarik tubuh mungil tersebut agar menindihnya, semakin merapat dan memeluknya. Chanyeol menggerakkan tangannya untuk selalu membelai tubuh Baekhyun hingga terlelap.

 Chanyeol menggerakkan tangannya untuk selalu membelai tubuh Baekhyun hingga terlelap

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Jangan sakit, Sayangku."

Note:

Chapter selanjutnya masih terkait sama chapter ini ya.
See you, babies!

Daddy; PCY [Completed][GS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang