Chanyeol merasa panik tak tertahankan ketika Baekhyun memeluknya erat dengan tubuh yang bergetar. Ia bergegas menjalankan mobilnya dan menyalip kendaraan lain dengan cepat. Sampai dikediamannya, Baekhyun masih bergetar. Chanyeol keluar dengan Baekhyun yang menempel seperti koala di tubuhnya. Ia langsung membawa langkahnya ke kamar.
Chanyeol mendudukkan dirinya pada tepi ranjang, mencoba melepas pelukan Baekhyun tetapi pelukan Baekhyun justru semakin erat dengan isak tangis yang menggema.
"Sayang.. biarkan Ayah melihatmu."
"..."
Tubuh Chanyeol ikut bergetar seiring gelengan ketakutan yang terasa dari diri Baekhyun. Ia mengusap sepanjang punggung hingga pinggang Baekhyun menenangkan. Bibirnya juga tak tinggal diam; mengecupi kening hingga pucuk kepala Baekhyun sambil sesekali membisikkan kata-kata sayang.
"Ssshh.. tak apa, Baekhyun, kau tak sendiri." Chanyeol mencengkram erat sisi tubuh Baekhyun yang mendekapnya semakin erat.
Tubuh Baekhyun melemas, pegangannya pada kemeja Chanyeol pun terlepas. Hal itu Chanyeol jadikan kesempatan untuk memberi jarak keduanya tapi yang didapatkannya justru mengejutkan. Baekhyun yang seketika tergolek lemas dan tak sadarkan diri.
"Baekhyun? Baek?" Chanyeol tak ingin panik, Ia menepuk-nepuk perlahan pipi Baekhyun tanpa ada balasan apapun. Saat itu juga rasa paniknya tak dapat lagi dihindari, "Baekhyun!"
Chanyeol bergerak cepat membaringkan tubuh Baekhyun pada ranjangnya. Mengganjal kakinya dengan sebuah bantal hingga posisinya lebih tinggi dari jantung. Setahu Chanyeol itu dipercaya guna melancarkan pernapasan. Ia juga melepaskan rompi, tali pinggang dan segala aksesoris yang bersifat mengikat tubuh.
Chanyeol kembali mengusap kening hingga kepala Baekhyun, merasakan keringat dingin yang masih mengalir. Ia menunduk berbisik, "Sayang, sadarlah.."
Chanyeol meremas sebelah tangan Baekhyun sambil menghembuskan napas hangatnya pada punggung tangan tersebut. Tak lama kemudian Baekhyun tersadar, mengerjapkan kedua matanya lemah sambil menatap kehadiran Chanyeol di sisinya.
"Sayang.. kau bisa melihat Ayah?"
Baekhyun mengangguk sekali dan kembali memejamkan matanya saat ia merasa pening dan pandangannya tampak kabur. Alisnya bertaut erat dengan lipatan kening yang semakin tercetak.
"Pusing, hm?" Tanya Chanyeol tenang. Ia masih terus mengusap kepala Baekhyun. "Hey, buka matamu perlahan."
Baekhyun menurutinya, membuka matanya perlahan dan menatap langit-langit kamar Chanyeol yang redup. Chanyeol menyodorkan segelas air putih yang selalu tersedia di nakasnya. Ia membantu Baekhyun untuk bangkit dan bersandar pada beberapa tumpukan bantal di punggungnya.
"Lihat Ayah." Baekhyun menoleh, mengikuti setiap kata-kata Chanyeol.
"Hanya lihat Ayah." Chanyeol juga turut menatap Baekhyun yang hanya bisa mengedipkan matanya sayu. "Jaga kesadaranmu, Baekhyun."
Chanyeol penasaran dengan apa penyebab Baekhyun kembali menangis tetapi ia merasa ini bukan saat yang tepat untuk menanyakan hal tersebut. Maka dari itu ia hanya bangkit; mengambil sebuah handuk dan air hangat serta sepasang pakaian ganti untuk Baekhyun. Ia melucuti pakaian Baekhyun tanpa ragu, sementara Baekhyun hanya kembali memejamkan matanya saat Chanyeol mulai mengusap tubuhnya dengan handuk hangat.
Chanyeol bukannya tak bergairah, ia hanya ingin bersikap gentle disaat-saat seperti ini. Setelah selesai, giliran dirinya yang berganti pakaian.
Biarlah keduanya beristirahat dalam dekapan yang lain.
~•~
"Paman! Kenapa Paman melakukan hal jahat seperti tadi pada Baekhyun?" Baru saja Jong In menutup pintu utama, Daehyun sudah merajuk sambil melemparkan sepatunya asal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Daddy; PCY [Completed][GS]
FanfictionUntuk putriku apapun kulakukan, satu-satunya wanita yang kucintai di sisa hidupku. Permintaannya akan selalu kukabulkan, termasuk- -memuaskannya.. come to me, Baekhyun-ah.
![Daddy; PCY [Completed][GS]](https://img.wattpad.com/cover/113078738-64-k253747.jpg)