Malam ini Hanna duduk termenung di dalam kamarnya, menatap lurus ke arah layar komputer memandangi email-email yang masuk. Sejenak dia menimbang, lalu berjalan menuju sudut kamar, kearah lemari pakaiannya.
Hanna membuka lemari pakaian, mengeluarkan apa yang menurut dia perlu, lalu setelah menjajarkan semua keperluannya di spring bednya yang cukup luas, Hanna menggapai koper travel memasukkan semua pakaian dan lain- lain yang dia perlukan.
"Haruskah aku lari dari semua ini? Haruskah aku menerima tawaran ini atau... ahh... betapa semua jadi terasa sulit sekarang. Kenapa aku belum mampu beranjak dari kenangan? Bahkan menatap realitapun aku masih enggan. Allah... hamba sungguh tersiksa, hamba mohon petunjuk-Mu". Untaian doa yang penuh dengan kesedihan serta rasa yang entah bagaimana dekat dengan kata 'putus asa' terucap dalam hati Hanna.
Hanna menuruni anak tangga, melihat keseluruh sudut ruangan rumahnya yang sudah sepi, kedua orang tuanya sudah terlelap. Hanna melihat ke arah jam dinding diruang tamu tepat jam 01:30 WIB. Dia kemudian menyalakan lampu ruang makan dan menuju sedikit kebelakang kearah kamar mandi, Hanna kemudian menyalakan keran dan mengambil wudhu. Entah mengapa malam ini dia ingin bertahajud. Dia ingin mengadu, memohon ampun dan minta diberi petunjuk.
Dengan khusuk Hanna mendirikan sholat sunah tahajud, ada kedamaian yang mengiringi hatinya. Hanna menangis sejadinya, tangis yang tidak pernah dia bagi pada siapapun, tidak pada kedua orangtuanya sekalipun. Dia ingin melangkah, dia ingin pergi dari semua ini, dia ingin memulai babak baru bagi dirinya, tanpa embel-embel kisah percintaan lagi. Dia harus berubah dan itu adalah perubahan yang harus membuatnya lebih baik.
Maka setelah sholat tahjudnya selesai, Hanna membongkar ulang pakaiannya, koleksi baju tangan panjangnya dia perbanyak sementara koleksi tangan pendeknya dia lengkapi dengan beberapa Cardigan. Ya, Hanna memutuskan untuk berhijab. Dia memutuskan untuk berubah, dan keputusan ini adalah sungguhan.
"Besok aku akan beli perlengkapan lainnya, jilbab yang akan aku pakai." Gumamnya pada diri sendiri.
Sebenarnya dia masih menimbang - nimbang mengenai email itu, email tentang penerimaan beasiswa S2nya ke Korea, dia sedikit ragu meminta izin pada mama dan papanya. Dia masih memiliki waktu kurang lebih dua minggu lagi untuk memberi jawaban kepada pihak Universitasnya.
Masih banyak waktu untuk berfikir. Batinnya. Lalu dia kembali beranjak tidur.
***
"Sayang..., sayang...."
Tok...tok... took...
Hanna mengerjapkan matanya berulang kali, masih saja sulit rasanya untuk tersadar, tapi samar-samar dia mendengar ketukan pintu dan juga suara mama yang memanggilnya.
"Hanna sayang.... ayo bangun, nak. Kita subuh bareng yuk." Ajak mamanya masih di depan kamar Hanna. Suara mama yang penuh dengan kasih sayang dan kesabaran.
Hanna memaksakan tubuhya untuk bangun, duduk sebentar disisi tempat tidurnya untuk sekedar mengumpulkan kesadaran yang masih menolak untuk datang.
"Ya, ma... aku segera keluar." Sahut Hanna kemudian.
"Oke sayang, mama sama papa tunggu ya..." jawab mama sambil berlalu dari depan pintu kamar putri semata wayangnya.
Sebenarnya mama sangat khawatir dengan keadaan putrinya, begitu juga dengan papa. Anak mereka jadi tidak suka senyum, sering kedapatan menangis diam-diam. Hati mereka sebagai orang tua sungguh teriris melihat situasi yang seperti ini. Kekhawatiran itupun semakin menjadi manakala setiap ditanya, , putri mereka hanya menjawab bahwa dirinya baik-baik saja. Hanna yang dulu ceria dan selalu terbuka kepada mereka, kini menutup diri.
Mama berjanji pada dirinya, apapun yang putrinya minta mama akan mengabulkannnya asalkan senyum serta keceriaan putrinya bisa kembali.
Mama dan papa menunggu Hanna penuh dengan cemas diruang keluarga, papa yang pagi itu mengenakan baju koko putih dengan detail sulaman sederhana warna senada dan kain sarung yang juga putih selalu menatap kearah kamar Hanna begitu juga mama yang mengenakan mukena dengan warna broken white.
Pintu kamar terbuka, secercah kelegaan terpancar dari wajah kedua orang tua Hanna. Hanna keluar dari kamarnya melangkah dengan cepat, dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
"Ma, pa..., maaf ya kalian jadi menungguku." Sapanya.
Mama membelai lembut rambut putri kesayangannya. Begitu juga papa.
"Tidak apa - apa Hanna." Ucap papa
"Kamu cepat ambil wudhu ya..." mama menambahkan yang dijawab dengan annggukan dan senyum kecil.
Hanna bergegas mengambil wudhu setelah itu dengan agak terburu - buru dia mengenakan mukenanya. Mama dan papa hanya tersenyum melihat tingkah putri mereka yang menurut mereka terlalu enerjik. Tak bisa pelan.
"Pelan-pelan aja Hanna, mama sama papa nggak tinggalin kamu kok..." canda mama.
Hanna terkekeh pelan.
"Iya, ma.. aku sampe lupa deh, buru-buru gini kayak mau ditinggal." Timpalnya masih dengan tawa.
"Yuk, kita mulai sholatnya pa." Ucap mama kemudian. Maka dimulailah sholat berjamaah mereka. Setelah selesai, mama sudah bersiap-siap untuk membersihkan rumah. Kegiatan pagi hari yang tidak pernah bisa ditinggalkan mama meski mereka sudah memiliki asisten rumah tangga yang kerap kali gesit dalam membantu, tapi, ya begitulah mama. Mama tetap ingin memastikan bahwa segala keperluan suami dan putrinya lengkap serta rumah dalam kondisi terbaik.
Hanna selalu mengagumi mama, kadang Hanna berpikir apakah nanti dia mampu menjadi seorang istri seperti mama dan lagi-lagi kenangan yang menyakitkan itu muncul. Tanpa dia minta, tanpa tahu waktu. Hanna menahan tangis sekuat tenaga, tidak ingin kesedihan ini dia perlihatkan pada orang tuanya.
Hanna kembali teringat akan email yang dia baca semalam, tentang tawaran itu, ya, beasiswa itu. Haruskah hari ini dia bahas pada orang tuanya atau nanti saja. Sejujurnya Hanna sangat bimbang kini, bicara sekarang atau nanti, hanya itu yang terputar di dalam kepalanya .
"Ma, aku mau pergi jalan-jalan ya ke Mal dulu." Pamitnya pada mama yang sedang memasak bersama Mbok Nah.
"Kamu mau jalan-jalan?" tanya mama hampir tak percaya.
"Iya, ma. Kok mama kaget gitu?" tanya Hanna sambil menghampiri mama.
"Nggak kok, mama cuma heran. Biasanya kalau kamu nge- mal kan pasti sama Donita." Kilah mama, tidak ingin dia melihat putrinya kembali bersedih.
Hanna memandang mama sejenak kemudian tersenyum dan menggamit tangan mama dan mencium punggung tangannya.
"Hanna pamit ya, ma. Mbok Nah..."
"Iya, Non Hanna.... hati-hati, non". Balas Mbok Nah.
***
Hanna menulusuri satu persatu toko hijab yang berada di Thamrin City, kembali menimbang sekali lagi dengan kebimbangan yang masih menggelayut namun dia juga enggan mundur.
Dia memilih hijab-hijabnya yang akan dia jadikan sebagai identitaas barunya, dia sudah sangat jengah melihat bayangnya sendiri dalam cermin. Sungguh sangat menyedihkan. Dia tidak lagi ingin menyedihkan seperti ini.
"Abhi, sosok itu... sepenting itukah dia sehingga dapat mengacaukan hidupku? Merampas semua mimpiku? ". Lagi-lagi Hanna marah dalam hati. Dia benci seperti ini. Dia harus pergi dari semua ini.
Hanna kembali melangkahkan kakinya menelusuri blok-blok toko baju juga hijab disana, sibuk memilah-milah mana yang kira-kira tepat dengan kepribadiannya. 4 jam penuh Hanna menghabiskan waktunya untuk berbelanja keperluan barunya, dan dia merasa sudah cukup. Selepas sholat ashar di musholah yang berada disana, Hanna memutuskan kembali ke rumah, membenahi segalanya. Tak terkecuali hatinya.
"Aku akan melangkah sejauh apapun itu agar aku bisa membuangmu dari hati dan pikiranku...."[]
![Annyeonghaseyo, Korea! [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/124642620-64-k524585.jpg)