Getaran ponsel disaku baju Hanna mengejutkannya. Kali ini dia melihat kearah ponsel tertera nama di sana Lee saja untuk mewakilkan Lee Min Ho, dia takut jika menuliskan lengkap namanya akan membawa masalah dikemudian hari. Hanna meminta ijin kepada Kim PD untuk menerima telepon diluar ruangan, Hanna berjalan menuju tangga darurat yang terbilang agak sepi sehingga aman untuk menerima telepon dari selebritis yang membuatnya ngeri dengan gosip yang mungkin akan datang padanya.
"Hmmm..." Sapa Hanna ditelepon, masih malas berbicara pada Min Ho.
"Hmmmm.... hanya itu? Ini aku.."
"Aku tahu Lee Min Ho Ssi, ini kamu, lalu apa?" balas Hanna dingin makin menyulut emosi Lee Min Ho. Tidak pernah dia diperlakukan begini oleh wanita.
"Yaa...!! dengar ya, kau berhutang penjelasan padaku. Sekarang keluarlah aku sudah diluar. Van-ku berwarna Hitam, aku parkir disudut gedung. Mengerti?!" lalu dia memutus telepon, berusaha menyelamatkan harga dirinya.
Hanna terlihat jengkel. Kalau saja ini bukan urusan yang menyangkut acara malam itu, dia pasti sudah memperingatinya secara tegas agar bersikap lebih sopan dan memintanya untuk tidak pernah lagi menghubunginya.
Hanna kembali keruang Kim PD dan meminta waktu sejenak untuk keluar gedung, setelah Kim PD mengatakan ya, Hanna baru meninggalkan ruangan dan bergegas menemui Min Ho.
Hanna mengetuk Van satu kali, dua kali dan yang ketiga masih tak ada jawaban, akhirnya Hanna memutuskan pergi. Baru saja Hanna membalikan badan, kaca mobil Van hitam itu terbuka.
"Hanna Ssi... mau kemana kau?" Sapa si pemilik Van itu dengan gaya dingin. Hanna benar–benar jengkel dibuatnya. Aduh, kalau saja kamu tahu, Donita... artis idola kamu itu menyebalkan kamu pasti akan berhenti ngefans sama dia, batin Hanna
Hanna memperlihatkan wajah judesnya kali ini. Lee min Ho membesarkan matanya terkejut melihat ekspresi Hanna.
"Dimana kau dapatkan ekspresi galak begitu? Itu sangat tidak cocok dengan wajahmu." Min Ho berusaha mencairkan suasana, dia agak menyesal karena sudah terlalu ketus kepada Hanna.
Hanna yang masih jengkel tetap menatap Min Ho dengan kesal tidak menanggapi candanya, lalu Min Ho mengajaknya masuk ke dalam Van-nya namun ditolak Hanna.
"Aku diluar saja. Tidak baik laki–laki berdua dengan wanita di dalam mobil." Jelas Hanna kepada Lee Min Ho yang menambah rasa terkejut lainnya serta mengusik hatinya kecilnya. Secara harga diri, Min Ho merasa terluka sebagai lelaki dewasa, dia tidak pernah mendapat tolakan dari wanita, malah sebaliknya dia yang sering menolak mereka namun kali ini dengan alasan yang menurut Min Ho klise dia ditolak mentah–mentah dari gadis yang baru semalam dia lihat secara jelas.
"Di dalam mobil ini ada supirku dan manajerku, kau tidak akan sendiri." Jelas Min Ho menanggapi kata–kata Hanna.
"Dan mereka semuanya laki–laki, hanya aku nantinya satu–satunya wanita di dalam mobil-mu. Aku tidak mau. Tidak terima kasih aku di sini saja." Jawab Hanna tegas.
Min Ho menatap tidak percaya gadis di depannya, dia begitu sombong. Aah, tidak. Dia tidak sombong hanya memiliki prinsip. Prinsip yang cukup tegas. Lama Min Ho menatap gadis itu lalu akhirnya memutuskan mengalah demi untuk melihatnya lebih lama.
"Baiklah Hanna Ssi, terserah padamu saja. Aku saja yang keluar." Min Ho membuka pintu Van-nya, dia menurunkan satu kakinya sedang kaki lainnya tetap berada didalam mobil.
Hanna mundur selangkah agar tidak terlalu dekat dengan selebriti angkuh ini.
"Kau berhutang penjelasan padaku tentang kenapa kau tidak mau menjabat tanganku kemarin".
Hanna balas menatapnya lalu mengalihkan pandangan ke sekelilingnya, Hanna bingung bagaimana harus menjelaskan pada Min Ho. Hanna menimbang agar Min Ho dapat mengerti penjelasannya.
Lee Min Ho menanti penjelasanya. Menatapnya lekat penuh rasa ingin tahu yang dapat ditangkap Hanna yang pada akhirnya Hanna memberikan penjelasan yang ditunggu–tunggu oleh lelaki dihadapannya.
"Lee Min Ho Ssi, didalam agama yang aku anut ada yang namanya istilah mahram. Mahram adalah semua orang yang diharamkan untuk dinikahi selamanya karena sebab keturunan, persusuan, dan pernikahan. Dengan kata lain mahram artinya orang–orang yang merupakan lawan jenis kita, namun tidak boleh dinikahi sementara atau selamanya. Namun, kita boleh bepergian dengannya, boleh melihat wajahnya, boleh berjabat tangan dengannya dan seterusnya. Selain Mahram, hanya suamilah yang boleh melihat seorang muslimah tanpa jilbabnya juga bersentuhan dengannya. Begitulah kira – kira, Lee Min Ho Ssi."
Lee Min Ho mengangguk tanda dia memahami penjelasan panjang Hanna walau tak sepenuhnya mengerti istilah yang digunakan.
"Lanjutkan..." perintah Min Ho.
"Jadi kami hanya boleh melakukan jabat tangan dengan mahram kami saja. Dan yang boleh melihat kami tanpa jilbab adalah mahram dan suami kami saja. Begitulah kira –kira."
"Jadi, yang boleh bersentuhan denganmu hanya kalangan keluarga dan suami selain dari itu tidak boleh?" Tanyanya tak percaya dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Hanna.
"Jadi, Skinship tidak boleh selama pacaran?"
"Tentu tidak boleh." Jawab Hanna. Mengundang kebingungan dan rasa tidak percaya dari Min Ho.
"Ini sangat tak masuk akal, Hanna Ssi... bagaimana bisa pacaran tanpa skinship? Bagaimana kami menunjukan rasa cinta atau sayang tanpa adanya skinship?"
"Tentu sangat masuk akal, Min Ho Ssi. Apa yang kalian dapatkan dengan skinship? Jawab aku sejujurnya kira–kira lebih dekat dengan nafsu atau cinta saja? Setelah skinship yang katanya untuk menunjukan kasih sayang apa yang terjadi? Jika sudah terjadi semuanya hubungan yang seharusnya hanya diperuntukan bagi suami–istri yang sah, lalu ada hal lainnya yang terjadi sebagai konsekuensi dari hubungan tadi, kira–kira siapa yang paling dirugikan?" Tanya Hanna kepada Lee Min Ho yang bingung mau menjawab dari mana.
"Itu sebabnya mengapa didalam kepercayaan kami terdapat aturan yang sangat ketat mengenai ini agar menyelamatkan harga diri para wanita dari hal–hal yang dapat merusak segalanya." Tambah Hanna kembali.
"Tapi berjabat tangan adalah hal yang sangat biasa, Hanna Ssi, bagaimana mungkin dapat jatuh kepada hal tadi yang kau jabarkan?"
"Tentu bisa, semua berawal dari hal yang biasa untuk kemudian berlanjut pada hal yang tidak biasa."
Angan Hanna kembali kepada kenangan buruknya dengan Abhimanyu, lelaki yang hampir menjadi suaminya namun jatuh dengan sandungan kerikil yang mengubah jalan hidupnya kini. Hanya karena sesuatu yang dianggapnya biasa, mengantar dan menolong teman. Nyeri kembali menjalar didadanya.
"Hanna Ssi... Hanna Ssi..."
"Coba tanya saja pada dirimu, sudah berapa banyak jabat tangan dengan wanita yang berakhir pada yang lain?" Hanna berusaha mengalihkan pikirannya dengan mengajukan pertanyaan kepada Min Ho yang pada akhirnya membuat lelaki itu termenung beberapa saat sebelum akhirnya balik bertanya pada Hanna.
"Apa kau memiliki suami?" tanya Min Ho kepada Hanna yang membuat Hanna kemudian tertawa merasa lucu sekaligus ironi dengan pertanyaan sederhana dari Min Ho.
"Belum."
"Pacar?" tanya Min Ho kembali.
Lama Hanna tidak menjawab pertanyaan Min Ho, namun akhirnya dia memilih kata tidak punya. Setelah mendengar jawaban terakhir Hanna, Min Ho pamit dan mengucapkan terima kasih tentang obrolannya malam ini, sebelum dia benar–benar pergi dia mengatakan bahwa dia ingin penjelasan lain dari Hanna.[]
![Annyeonghaseyo, Korea! [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/124642620-64-k524585.jpg)