More Closer

636 56 0
                                        

Kali ini Hanna menyempatkan berkunjung ke Itaewon, tepatnya distrik Yongsan - gu untuk melihat mesjid terbesar di Seoul. Hanna kemudian mengikuti sholat ashar berjamaah di mesjid yang sanggup menampung jamaah hingga delapan ratus orang. Hanna mengagumi mesjid ini yang berada di tengah kota dan dekat dengan basis militer Amerika Serikat di Korea.

Selesai sholat Hanna memutuskan untuk mengelilingi bangunan yang terdiri dari tiga lantai ini yang masing-masing terbagi untuk wanita dan pria, Hanna mengagumi arsitekturnya yang indah. Mereka menyebut mesjid ini dengan Seoul Central Mosque, yang sebenarnya memiliki nama dalam bahasa Arab yaitu Si'ul Al-Markaz.

Lama Hanna mengamati orang yang berlalu lalang di mesjid ini sambil duduk bersandar di dekat pintu keluarnya. Dia merasa senang mengamati kesibukan orang-orang yang baru saja menyempatkan diri untuk bersujud kepada Allah, terasa damai dihati. Tiba-tiba saja ponsel Hanna berbunyi, dirogohnya ponsel itu dari saku celana lalu dilihatnya ternyata pesan pendek dari Min Ho.

Lee : Kau ada di mana sekarang? Ayo kita bertemu.

Hanna : Aku baru saja selesai sholat di Seoul Central Mosque. Kamu di mana?

Lee : Tunggu saja di sana, aku akan kesana.

Hanna : Apa kamu akan menyamar lagi kali ini Min Ho Ssi?

Tak ada balasan dari Min Ho untuk Hanna, akhirnya dia memutuskan untuk menunggu Min Ho sambil masih mengamati orang-orang disekitarnya. Angannya melayang ke pekerjaannya bersama Kim PD yang semakin meraih rating yang tinggi, tidak jarang Hanna mulai disapa di jalan oleh orang-orang yang tidak dia kenal yang menyebutnya 'gadis berkerudung' yang membuat Hanna mengulumkan senyumnya. Dua puluh menit berlalu, ponsel Hanna kembali berbunyi.

Lee : Aku sudah datang.

Mata Hanna sibuk mencari sosok jangkung itu yang ternyata berdiri di seberang jalan. Hanna melambaikan tangannya namun Min Ho tidak membalasnya membuat Hanna jadi menyesal melambaikan tangan ke arahnya. Dasar sombong, Hanna memaki dalam hati.

Hanna berdiri dari duduknya tapi sosok itu kemudian berlari kecil menghampiri Hanna lalu berdiri tepat di hadapan Hanna.

"Apa yang kau lakukan disini dari tadi?"

Hanna merapikan barang bawaannya dan juga tasnya.

"Aku sholat dulu tadi di sini, sayang rasanya sudah lama di Korea tapi belum mengunjungi mesjid ini."

"Setelah itu apa?" Tanyanya penuh selidik.

"Aku memandangi mereka yang baru keluar dari mesjid. Aku senang melihatnya."

"Kau aneh, Hanna yaa.." Hanna tertawa kecil, lalu kembali menjawab.

"Mungkin iya, tapi aku senang. Itu membuat hatiku damai."

Min Ho mengerenyitkan dahinya, lalu kembali bertanya.

"Kenapa membuatmu senang?"

"Hmmm... apa yaa..., aku senang ketika melihat wajah mereka yang baru saja selesai sholat atau berdoa, wajah mereka terlihat begitu bersih dan damai."

"Begitu ya?"

"Coba sini kamu perhatikan bapak tua itu yang baru keluar... perhatikan...dengan senyum lembutnya, dengan wajah pasrahnya bukankah terlihat begitu damai?"

Min Ho termenung sejenak memperhatikan orang tua itu. Terlihat damai memang seperti tidak punya beban hidup. Mengapa seperti itu? Mengapa dia bisa terlihat begitu pasrah sementara dunia ini semakin gila dengan segala tekanan yang ada? Batin Min Ho berkata pada dirinya sendiri.

Min Ho jadi semakin penasaran dengan kepecayaan yang dianut oleh gadis yang disukainya, juga dengan segala pencitraan negatif tentang kepercayaan itu.

"Jelaskan padaku mengenai kepercayaanmu." Min Ho kembali membuka pembicaraan kembali.

"Apa yang kamu tahu tentang kepercayaanku, tentang Islam?" Hanna balik bertanya pada Min Ho, lama Min Ho menimbang jawaban sebelum akhirnya apa yang dia pikirkan dengan apa yang dia ucapkan bertolak belakang.

"Apa aku boleh mengajakmu pergi makan?"

Hanna mengangguk menyisakan binar bahagia dimata Min Ho.

Hanna dan Min Ho menyambangi restoran halal tak jauh dari mesjid, Murree Muslim Food nama restoran tersebut menyediakan makanan halal khas Korea lengkap dengan banchannya.

Ini adalah makanan halal pertama yang disantapnya. Tidak buruk pikir Min Ho, makanan seperti ini ternyata tidak mengurangi rasa enak apalagi dia menyantap ini semua dengan wanita ini. Wanita sederhana, berpenutup kepala, cerdas dan membawa damai di dalam hatinya.

Degup jantungnya mulai terasa lebih cepat, segera saja Min Ho menundukkan kepalanya berpura-pura serius dengan makanannya agar kegugupannya tidak terlihat oleh wanita yang berada tepat di depannya ini.[]


Lauk Pauk

Annyeonghaseyo, Korea! [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang