Hanna dan Donita mengepak beberapa pakaian dan oleh–oleh untuk keluarga, teman dan kerabat.mereka sengaja hanya membawa banyak oleh–oleh karena yang mereka tuju saat ini adalah rumah.
"Han, kamu sudah ijin kepada Kim PD kalau kamu akan pulang selama liburan musim dingin?"
Hanna mengangguk sambil merapikan koper.
"Kim PD bilang acara season kali ini sudah selesai, tinggal nanti akan di buat season dua setelah musim dingin selesai."
"Wuah kebetulan sekali ya, Han."
"Iya, Ta... Alhamdulillah..." Ucap Hanna riang.
"Oya, Han... Min Ho gimana?"
Hanna tersentak mendengar pertanyaan sahabatnya. Padahal dia akan berpura–pura lupa saja memberi kabar.
"Hmmm... belum, Ta. Aku pikir aku nggak usah memberi tahunya, lagipula dia kan sedang sibuk syuting, bagaimana kalo bukan dia yang membaca pesanku?"
"Hanna.... kok kamu gitu sih?" tanya Donita dengan nada kecewa.
"Aku... Aku nggak mau memberi dia harapan, Ta."
"Kamu sudah dekat dengannya, apanya yang tidak memberinya harapan?"
"Kalaupun aku secara gamblang menerima cintanya, Ta... itu sama aja kami saling menyakiti diri masing–masing. Hubungan itu nggak akan bisa dibawa sampai ke jenjang pernikahan, kami beda keyakinan, Ta."
Donita terdiam sejenak, memang betul mereka beda iman tapi aahh... Donita jadi pusing sendiri.
"Kamu udah tanya dia mau jadi mualaf atau nggak?"
Kini Hanna yang terdiam.
"Belum, Ta... tapi memang dalam berbagai kesempatan dia banyak bertanya–tanya padaku seputar Islam."
Bola mata Donita membulat besar dan berbinar ini pertanda bahwa dia sangat bersemangat menanggapi hal yang sebetulnya kecil.
"Tuuuuhhhh kaaaaannnn....!!!" Pekiknya senang.
"Sssttttt..... jangan teriak Ta....." kata Hanna panik.
Sudah terlanjur, Donita terlanjur berjingkrak–jingkrak tak karuan.
"Itu tandanya ada jalan, Ta.... siapa tahu memang jodohnya kamu..." kata–kata Donita ditutup dengan kerlingan genit khas dirinya,.
"Duh..Allah... beri aku petunjukmu. Jika memang benar dia jodohku, maka sempurnakanlah dia seperti kehendak-Mu, jika bukan maka jauhkanlah kami. Aku berserah diri sepenuhnya kepada segala ketentuan-Mu, Yaa Rabb"'
Hanna berdoa didalam hati dengan sangat sungguh–sungguh menyangkut ini. Karena mau mengelak seperti apapun, rasa itu tidak bisa dikatakan tidak ada pada dirinya. Rasa yang diam–diam menyelinap di dalam hatinya untuk lelaki yang memiliki kaki jenjang dan senyum yang manis.
"Kini aku tersadar kalau aku sedang memikirkanmu dan aku mulai bertanya pada diriku sudah berapa lama kamu berada tidak hanya di dalam pikiranku tapi juga di hatiku. Ahh.. ternyata itu terjadi sejak pertama kali aku bertemu denganmu di kereta dulu, dan sejak saat itu kamu tidak pernah pergi"'
"Kamu sudah selesai, Han?" Tanya Donita membuyarkan lamunannya.
"Sudah, Ta. Kamu sudah cek passport dan lain–lain yang perlu dibawa? Jangan sampai ada yang tertinggal."
Lalu mereka kembali mengecek ulang apa–apa yang di perlukan untuk dibawa, setelah lengkap mereka sepakat untuk naik taksi menuju bandara Incheon.
Terbang kali ini memakan waktu yang sedikit lebih lama sekitar dua puluh jam, ini disebabkan tidak adanya direct flight menuju Jakarta. Sesampainya di Bandara Soekarno Hatta, kontan saja wajah lelah dan mata panda menghiasi wajah keduanya.
Mama dan papa juga kedua orang tua Donita sudah menunggu di terminal kedatangan, wajah mereka sangat berseri dan memeluk anak–anaknya dengan erat. Hati Hanna tak lepas dari ucapan Alhamdulillah karena bisa kembali dengan selamat dan bertemu dengan kedua orang tuanya yang diberikan Allah kesehatan. Alhamdulillah, Yaa Rabb. Batin Hanna.
Perjalanan pulang ke rumah menjadi ajang lepas rindu sesi pertama, sepanjang jalan tidak hentinya Hanna, mama juga papa mengobrol diselingi gelak tawa karena cerita–cerita lucu dari papa, betapa rasa syukurnya tidak habis untuk segala hal yang terjadi di dalam hidupnya. Allah sungguh luar biasa. Allahuakbar, Subhannallah Walhamdulillah Walaa Ilaaha Illallah. Dizkirnya dalam hati.[]
![Annyeonghaseyo, Korea! [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/124642620-64-k524585.jpg)