Pencarian

795 59 0
                                        


   Pagi ini Abhi telah tiba di bandara Internasional Incheon, dia dijemput oleh jasa penjemputan hotel kenamaan di Seoul, Abhi menikmati perjalanannya menuju hotel. Dia tidak dapat menyingkirkan Hanna sama sekali dari pikirannya, Abhi bahkan telah mengatur jadwalnya selama empat hari di Korea.

   "Waktuku tak banyak", pikirnya. Sesampainya di hotel, Abhi memutuskan untuk istirahat sejenak, perjalanannya benar–benar telah membuatnya kram.

   Sore harinya Abhi mulai mencari tahu keberadaan Hanna melalui petugas hotel yang dia tanyakan mengenai stasiun TV tempat Hanna bekerja. Dia hanya menanyakan alamat itu saja dan dengan senang hati sang petugas memberi ide tentang menggunakan taksi daripada bus.

   "If you wanna fast, just use taxi to this address. Everybody knows where is this placed."

   "Thank you..."

   Balas Abhi, kemudian meminta petugas hotel untuk memanggilkan taksi untuknya. Sepanjang perjalanan dada Abhi berkecamuk, banyak ketakutan dan keraguan yang tidak pernah ada muncul hari ini.

   Bagaimana jika Hannanya tidak mau melihatnya, bagaimana jika Hannanya telah memiliki penggantinya. Abhi menepis segala kemungkinan–kemungkinan itu karena dia tahu betul bahwa Hannanya bukan wanita yang gampang menjatuhkan pilihan.

   Taksi berhenti tepat didepan lobi gedung stasiun televisi, Abhi keluar dan memilih berada di seberang tak jauh dari lobi, dia memilih duduk dikursi yang memang ada untuk bersantai. Lama Abhi menanti dan sosok yang dinantinya tiba kini memasuki gedung tersebut. Abhi menatap jam tangannya, tepat jam 18:30 KST. Abhi menghapal jam kedatangan Hanna.

   10:30 KST, Hanna kembali keluar dari gedung itu, Abhi memperhatikannya dari kejauhan. Abhi mulai membuntuti Hanna yang berjalan kearah halte bus dan menunggu busnya disana, Abhi tetap menjaga jaraknya tidak mau terburu–buru diketahui kehadirannya oleh Hanna.

   Hannanya tetap menarik seperti dulu namun kini dia terlihat sedikit lebih modis dari sebelumnya. Makin terlihat cantik, tadinya Abhi ingin mengikuti sampai ke tempat tinggal Hanna, tetapi Abhi mengurungkan niatnya. Hari ini cukup sampai disini saja, dia tidak ingin jerih payahnya rusak karena ketidak sabarannya.

   Hanna mengecek ponselnya, kini ditatapnya pesan singkat kemarin malam dari Min Ho yang akhirnya di sambut dengan khayalan tingkat dewa oleh Donita.

   "Wuaaaahhhh.... Aku nggaak nyangka bangetttt kamu bakalan jadian dengan selebritis seperti diaaa... aku iriiiii.... Masyaa Allaaahh... luar biasaaa.. jangan lupa, kamu tanya ya sama dia mau jadi mualaf atau nggak gitu...." Pekik Donita kegirangan dengan khayalan tingkat dewanya.

   "Dia hanya bilang bahwa aku masih hutang satu penjelasan lainnya dan sabtu malam aku akan ke kantormu, Ta. Bukan bilang kalau dia mau jadi pacar aku."

   Geleng Hanna hampir frustasi dengan sikap Donita.

   "Itu kan awalnya, Han... taktik pendekatan namanya..."

   "Aduh, kamu ya.. ya nggaklah. Dia itu selebritis paling terkenal nggak cuma di Korea aja tapi.."

   "Iya aku tahu, Han... Makanya tadi aku bilang Masya Allah..."

   Diakhiri kerlingan genitnya. Hanna menyerah. Dia akan selalu kalah jika Donita sudah mengeluarkan jurus khayalan tingkat dewanya.

   "Apalagi penjelasan yang diinginkan Min Ho darinya? Bahkan dia sampai menanyakan hal yang cukup peribadi pada pembicaraan mereka yang baru pertama kali. Masa iya... aduuh... sudah termakan khayalan tingkat dewanya Donita", batinnya.

Annyeonghaseyo, Korea! [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang