Mungkin tidak ada yang lebih menyakitkan daripada dikhianati.
Hari dimana Abhimanyu jujur padanya, yang membuatnya benar-benar hancur. Hancur lebur tidak berbentuk lagi hingga tidak ada lagi sisa bagi rasa itu lagi, cinta.
Lelaki yang dikiranya akan menjadi sandaran jiwa, nyatanya harus pergi dari hidupnya. Pernikahan yang bahkan sudah di depan matapun lenyap menyisakan luka di hati kedua orang tuanya. Ternyata statusnya sebagai tunangan Abhi tidak menjamin apa-apa.
Semuanya tidak menjamin apapun, kata-kata dan janji-janji serta lamanya waktu mereka pacaran-pun tidak cukup untuk dapat menahan Abhi agar tidak jatuh kepelukan wanita lain.
Hanna merasa benar-benar kalah, dan banyak lagi ternyata yang merangkum pada satu kesimpulan bahwa dirinya tidak cukup berharga bagi Abhi. Dia telah salah dalam menilai lelaki itu, salah karena membiarkan dirinya percaya pada Abhi.
Berat baginya untuk tetap bertahan, dia ingin lari tapi kemana? Ingin sembunyi tapi, bagaimana? Sehingga ketika kampusnya menghubungi terkait beasiswanya, tanpa pikir panjang dan berdiskusi lagi dengan kedua orang tuanya Hanna mengambil kesempatan ini untuk menjauh dari semuanya.
Hanya sahabatnya yang dia beritahu dari awal dan disambut dengan suka cita oleh Donita.
"Horeeeeeeee....!!" Teriaknya di WhatsApp Chat dengat icon wanita menari tango.
"Hmm... dasar Donita. Dia sangat ekspresif memang".
"Kamu akan sangat senang di sini, Han... kamu pasti bisa move on." Lanjutnya lagi.
"Nggak usah di Korea juga aku yakin bisa move on kok, Ta." Balas Hanna kali ini menyertakan icon smile dengan pipi merah.
Baginya, ini adalah sebagian dari perjuangannya bukan pelariannya untuk melupakan Abhi. Walaupun berat dan tipis sekali batasan niatnya antara berjuang untuk maju dan berlari dari sakit hati, Hanna percaya penuh bahwa Allah akan menuntun hatinya ke arah yang paling baik.
Hanna mulai membenahi dirinya. Tidak hanya hatinya, mimpinya atau cita-citanya untuk dapat meneruskan S2, namun juga imannya. Dia ingin hijrah karena ini adalah momentum baginya. Bukan kebetulan Allah memberikan cobaan ini padanya, Allah telah menyentil hati dan hidupnya agar lebih mengingatnya, memberi ruang di hatinya sebagaimana seharusnya. Allah adalah tujuan hidup itu sendiri yang beberapa saat telah diduakannya dengan kehadiran Abhimanyu yang lebih bertahta di hatinya.
Ya, sentilan Allah padanya telah membagunkan dia dari mimpi yang cukup panjang. Hanna memutuskan untuk berjilbab sekarang, ingin dia menjalani perintah Tuhannya yang telah lama tidak digubrisnya, disambut dengan sukacita serta dukungan penuh dari kedua orang tuanya.
"Aku ingin berjilbab, ma... pa.... Aku ingin hijrah kepada yang lebih baik."
Katanya malam itu diruang keluarga mereka. Mama dan Papa tersenyum lembut, lalu mama menghampirinya dan membelai rambut hitam sebahu anak gadisnya.
"Kamu yakin, sayang?" Tanya papa menegaskan keseriusan anak perempuannya.
"Inshaa Allah, yakin pa." Jawab Hanna mantap.
Lalu Hanna pun menceritakan mengenai beasiswanya untuk melanjutkan S2nya di negeri ginseng, kali ini disambut dengan keterkejutan, kebanggaan sekaligus kekhawatiran orang tua terkasihnya. Namun, Hanna berhasil meyakinkan kedua orang tuanya dengan baik.
"Papa sama mama nggak usah khawatir, Hanna akan baik – baik saja. Di sana kan ada Donita. Aku nggak sendirian." Ujar Hanna yang diikuti tatapan lega dari keduanya.
Beberapa hari setelahnya, Hanna mempersiapkan segalanya yang diperlukan untuk bekal pendidikannya di negeri ginseng itu yang di bantu oleh mama. Hanna pun mengikuti serangkaian tes dan wawancara dilakukannya di kedutaan Korea serta membayar jaminan yang ditetapkan kedutaan Korea sebagai syarat utamanya agar dapat tinggal di sana. Sampai pada hari kebrangkatannya mama dan papa selalu mendampinginya, kali ini tiba di bandara mama dan papa melepas putri mereka satu-satunya dengan haru. Hanna pun memeluk keduanya dengan meneteskan air mata.
"Aku akan kangen sekali sama mama dan papa. Aku akan sering menghubungi kalian. Love you, ma..... pa..." Katanya sambil memeluk keduanya dengan erat. Sedih rasanya jauh dari mereka, tapi hati Hanna telah mantap untuk menyapa negeri ginseng sebagai tempat tinggalnya yang baru untuk beberapa tahun ke depan.
Sebelumnya mama sempat protes dengan kebrangkatannya karena menurut mama akan terlalu lama Hanna di sana sebelum kuliahnya di mulai.
"Lima bulan lagi, kan Han... kamu kan bisa berangkat awal Januari tahun depan toh, perkuliahan kamu baru akan dimulai bulan Maret."
"Iya, ma. Tapi, aku ingin jalan-jalan dulu di sana. Hitung-hitung membiasakan diri dengan sekitar sambil melancarkan bahasa." Jawab Hanna yang cukup meyakinkan hati mama juga papa.
Disisi lain Abhimanyu, dia semakin tersiksa dengan keputusannya meninggalkan Hanna. Bagaimana mungkin dia akan mampu menjalani hidupnya dengan wanita lain. Bagaimana dia mampu menghabiskan sisa hidupnya dengan wanita yang tidak dicintainya.
Hanna telah membuangnya. Dia membuang segalanya tentang aku, bagaimana dia bisa tidak lagi membalas pesan singkatku, tidak lagi mau mengangkat teleponku bahkan saat aku menjemputnya di kantor dia tidak mau menemuiku. Mengapa kamu seperti ini, Han... Lamun Abhi.
"Kok bisa sih lo nggak jadi nikah sama Hanna, man?!"
Pertanyaan Aldi, teman kampus Hanna juga Abhi membuyarkan lamunanya sekaligus menambah perih luka di hatinya.
Sederet pertanyaan yang sama bermunculan tidak hanya yang kasak-kusuk melainkan yang secara terang-terangan seperti ini sudah berkali-kali dia hadapi.
"Ya bisalah. Kenapa nggak bisa?" Jawab Abhi sekenanya dengan sikap sok cuek yang dia tampilkan. Ini bukan salah Hanna, ini salahnya namun hatinya terlalu kecil untuk mengakuinya di hadapan Aldi.
"Ya, man... gue kaget aja lo nggak jadi sama dia. Soalnya gue kan tahu gimana lo berjuang setengah mati buat dapetin hati Hanna. Apalagi waktu lo telepon gue bilang kalo lo akhirnya akan nikah sama dia dalam waktu tiga bulan lagi. Eeh.. undangannya malah udah beda nama, beda foto juga, kagetlah gue."
Cerocos Aldi. Yang tidak disambut oleh Abhi.
"Yang jelas, perempuan ini beda dari Hanna. Dia bisa mewujudkan apa yang nggak bisa gue dapet dari Hanna. That's it."
"Man..., I never thought that you're kinda jerk too." Kata Aldi sambil menggelengkan kepalanya. Lalu pergi meninggalkan Abhi yang hanya tertunduk.
"Yes, I'm a jerk". Batinnya.
Hanna aku mohon tunggu aku, aku akan kembali padamu. Kembali hatinya berkata.[]
![Annyeonghaseyo, Korea! [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/124642620-64-k524585.jpg)