1

7.9K 247 3
                                        

Masih amatiran nih😂 yuk dibaca, kalo ga suka ga bakal di next dah😂😂
.
.
.

Suara gemuruh hujan masih setia menemani dua insan yang terjebak dalam lingkaran obrolan yang sama. Topik yang sebetulnya sudah membuat mereka jenuh, namun entah mengapa, selalu gagal untuk benar-benar mereka sudahi.

"Sha, ayolah," ucap Aldi sambil terus mengaduk jus jeruknya yang sudah dipesan sejam yang lalu. Es di dalamnya bahkan sudah mencair sepenuhnya.

"Apa sih, Ald? Apa?" Gadis itu menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop di hadapannya. Jemarinya masih lincah mengetik draf skripsi yang mengejar tenggat semester akhir.

"Kamu tinggalin dulu tugasnya. Aku lagi ngomong, Sha," pinta Aldi. Ia melepas sendok pengaduknya, lalu menumpu dagu, memfokuskan seluruh atensi pada gadis di depannya.

Salsha menghela napas pendek. Ia berdeham, lalu melipat layar laptopnya perlahan demi menghargai sang kekasih. "Kamu mau ngomong apa, hm?"

"Aku minta kamu jauhin dia, Sha," ucap Aldi, suaranya merendah, menatap lurus ke dalam manik mata Salsha.

"Dia siapa maksud kamu? Karel?" Salsha melempar pandangan keluar jendela kafe yang buram oleh embun hujan. "Ayolah, Ald. Dia itu temen kampus aku. Dia yang selalu ada buat bantu aku di saat kamu sibuk dan ga punya waktu."

Aldi tahu siapa Karel. Ia mengenal pemuda itu sebagai salah satu sahabat Salsha di kampus. Namun, entah mengapa hati Aldi selalu mendadak sensitif setiap kali nama itu berkelindan di antara mereka.

"Aku kenal Karel, Sha. Aku tahu gimana dia mandang kamu," bisik Aldi berat. "Dia suka sama kamu."

Salsha menatap Aldi tak percaya. "Aldi, jangan kayak anak kecil, deh. Kamu bilang gitu seolah-olah aku bakal gampang berpaling dan ninggalin kamu. Enggak, Ald."

Bagi Salsha, kecemburuan Aldi terkadang terasa tidak masuk akal. Di matanya, Alvaro Maldini adalah sosok kekasih yang matang—seorang manajer muda yang mandiri dengan masa depan cerah. Namun saat berada di hadapannya seperti ini, dengan rambut yang sedikit berantakan karena cemas, Aldi kerap bertingkah seperti remaja yang takut kehilangan dunianya.

"Aku cuma takut, Sha. Takut apa yang aku pikirin bakal jadi kenyataan," lirih Aldi, tatapannya melembut, menyiratkan kecemasan yang nyata.

Melihat gurat lelah dan cemas di wajah kekasihnya, runtuh sudah kekesalan Salsha. Ia meraih jemari Aldi, menggenggamnya hangat. "Udahlah, Ald. Kita udah dewasa, ga seharusnya mendebatkan hal kayak gini lagi. Kamu ngeraguin aku?"

"Justru karena kita udah dewasa, Sha. Aku gamau kamu pergi. Aku gamau kehilangan kamu." Suara Aldi melemah, hampir menyerupai bisikan penuh permohonan.

Salsha mengamati wajah Aldi dengan saksama. Ada yang berbeda. Kekasihnya yang biasa tampil tenang dan cenderung dingin di tempat kerja, hari ini tampak begitu rapuh. "Kamu kenapa, sih? Kok tumben jadi sesensitif ini? Ada masalah di kantor?"

Deg.

Aldi tertegun. Di dalam benaknya, ia kembali mengagumi betapa gadis itu selalu bisa membaca perubahan emosinya bahkan sebelum ia sempat bercerita. Perlahan, Salsha melepas genggaman tangan mereka untuk menyesap hot chocolate yang mulai mendingin.

"Kamu kenapa? Kok malah diem? Bener, ya, tebakan aku?" Salsha meletakkan kembali cangkirnya ke meja, mengulas senyum tipis yang menenangkan.

Aldi menghela napas panjang, mengusap wajahnya gusar. "Aku gapapa. Cuma agak pusing sama Papa. Belakangan ini dia limpahin semua urusan pekerjaan kantor ke aku."

"Aldi, ayolah. Papa kamu lakuin itu biar kamu terbiasa. Beliau mau kamu pinter bagi waktu," sahut Salsha lembut. Senyumnya tak pudar, berusaha menyalurkan energi positif pada pikiran Aldi yang sedang semrawut.

"Tapi gara-gara itu waktu aku buat kamu jadi makin habis, Sha." Aldi mengacak rambutnya frustrasi.

Benar dugaan Salsha, kekasihnya sedang didera tekanan. Lucunya, Aldi merasa bersalah kekurangan waktu untuknya, padahal sore ini mereka sedang menghabiskan waktu senja bersama di kafe ini.

"Jangan berpikir kayak gitu," potong Salsha lembut namun tegas. "Aku emang kadang kesal kalau kamu sibuk kerja. Tapi bukan berarti kamu harus ikut kesal sama Papa kamu. Aku malah bangga punya pacar pekerja keras kayak kamu."

Aldi menatap Salsha lekat-lekat. "Sha, aku sayang banget sama kamu. Tolong jangan pergi demi laki-laki lain yang punya lebih banyak waktu buat kamu. Maaf ya, aku bahkan ga pernah bisa bantu kamu nyelesaiin tugas akhir."

Salsha terkekeh geli, meraih tangan Aldi lagi. "Udahlah, Ald, gapapa. Kan masih ada Steffi yang selalu siap bantu aku di kampus. Kamu fokus aja sama karier kamu. Tapi inget, jaga kesehatan. Aku ga bakal maafin kalau kamu sampai jatuh sakit."

Mendengar perhatian itu, senyum Aldi akhirnya terbit kembali. "Oke, janji. Aku bakal jaga kesehatan, dan kamu... jaga hati kamu cuma buat aku." Ia balas menunjuk Salsha dengan kerlingan jahil.

"Haha! Jelas dong," tawa Salsha pecah, merasa gombalan Aldi sedikit berlebihan namun berhasil mencairkan suasana. "Tapi bukan berarti kamu bebas, ya! Jangan coba-coba genit sama sekretaris baru kamu yang di kantor itu." Salsha sengaja memelototkan matanya, berpura-pura galak.

"Waduh, serem juga," canda Aldi dengan senyum mengejek. "Iya, Sayang, janji. Walaupun sekretaris aku yang itu emang lumayan cantik, sih..."

"Ih, Aldi! Terserah kamu, deh! Pacarin aja sana!" Salsha langsung memalingkan wajah sambil memanyunkan bibirnya kesal.

Tawa Aldi menyembur bebas melihat reaksi menggemaskan itu. "Ya ampun, bercanda, Sha. Jangan dikerucutin gitu bibirnya, nanti aku ikat baru tahu rasa."

"Kamu jahat, malah diketawain!" Salsha memukul pelan lengan Aldi, meski rona merah di pipinya tak bisa disembunyikan.

"Udah, yuk pulang. Hujannya udah reda tuh," ajak Aldi sambil beranjak dari kursi. Ia mengulurkan tangan, merangkul pundak Salsha hangat saat mereka melangkah bersama menuju pintu keluar.

Sore itu, kecemasan yang sempat menggantung di antara gemuruh hujan luruh begitu saja, tertinggal di sudut kafe saat mobil mereka perlahan membelah jalanan kota yang basah.

----------------------------------------------------
Yuhu maafkan kegabutankuu, maaf kalo masih banyak kesalahan, sesungguhnya ini hanyalah iseng semata. *wkwkwk apaan sih.
.
.
.
Ditunggu voment nya gengs😍💛

Understanding (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang