Saat ini Devano dan Tifanny sedang duduk di sebuah kafe yang terletak di pusat kota itu. Mereka duduk di kursi yang menghadap ke jendela dengan pemandangan jalanan ibu kota yang terlihat macet ditambah hujan yang lumayan deras.
"Kamu mau ngomong apa si Dev?"tanya Tifanny dengan nada centilnya.
"Gue gamau bertele tele, gue cuma mau selesaiin semuanya"ucap Devano dingin.
"Maksud kamu apa si Dev?"tanya Tifanny tak mengerti.
"Gue mau lo jauhin gue dan gak usah cari gue lagi!"perintah Devano tegas.
"Kamu apa apaan si Dev kita kan tahun depan mau tunangan, tapi kenapa kamu malah kaya gini?Salah aku apa Dev?Oh apa ini karena bitch itu?"tanya Tifanny emosi.
"Bitch?Siapa yang lo bilang bitch hah?"bentak Devano. Kini mereka menjadi pusat perhatian di kafe karena kebisingan yang mereka buat.
"Siapa lagi kalau bukan, Raishya Gabriella Danishra"cibir Tifanny dengan nada mengejek.
Plakk
Sebuah tamparan mengenai pipi mulus Tifanny membuat sang empunya merasakan nyeri di bagian pipinya.
"Jangan pernah sebut Raishya dengan sebutan bitch, karena sebutan bitch hanya cocok buat cewek murahan yang ngejar ngejar cowok kayak lo"peringat Devano lalu meninggalkan kafe tanpa memperdulikan tatapan pengunjung kafe lainnya.
Tifanny merasa nyeri di sekitaran pipinya. Namun rasa nyeri itu tak sebanding dengan sakit hati yang ia rasakan. Sudah jatuh ketimpa tangga itu adalah pepatah yang tepat untuk Tifanny saat ini. Selain nyeri di pipi dan sakit hati, Tifanny juga harus merasakan malu karena saat ini semua pengunjung kafe menatap ke arahnya. Merasa tak nyaman Tifanny akhirnya membayar minumannya dan langsung meninggalkan kafe tersebut.
Mobil Tifanny terus berjalan dengan kecepatan di atas rata rata. Ia tak memperdulikan orang orang di jalan raya yang sedang memakinya karena perbuatannya yang melanggar aturan itu. Tifanny merasa putus asa, selama ini semangat hidupnya hanyalah Devano seorang. Kedua orang tuanya sudah tak memperdulikannya lagi, mereka terlalu sibuk dengan keluarga baru dan pekerjaannya.
Kedua orang tua Tifanny memang sudah bercerai semenjak kembarannya -Diana- meninggal. Mereka memutuskan bercerai dan membuat keluarga baru lagi tanpa memperdulikan Tifanny. Dan sekarang hidup Tifanny hanya bergantung pada warisan kakeknya yang semakin hari semakin menipis. Keluarga kedua orang tuanya tak ada yang mau mengurusnya kecuali kakek dan nenek dari pihak ibunya yang sudah meninggal setahun yang lalu dan semenjak itu hidup Tifanny berantakan. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Devano, mantan kekasih Diana.
Semenjak itulah ia merasa hidupnya menjadi berwarna lagi. Tifanny memang baru bertemu Devano beberapa bulan kebelakang, dan sejak pertama ia langsung jatuh cinta kepada Devano. Ditambah Devano yang terus terbayang bayang oleh amanat Diana yang menyuruhnya untuk menjaga Tifanny. Namun semenjak Devano mengenal Sasha, Devano berubah. Menurutnya Devano menjadi lebih cuek dan ketus padahal sebelumnya Devano selalu tersenyum dan lembut kepadanya.
Masalahnya semakin rumit ketika ibu tirinya mulai mengusik hidupnya. Firda -ibu tiri Tifanny- terus menemuinya beberapa hari ini dan hal itu membuat Tifanny risih. Bukan hanya itu, Firda juga meneror Tifanny dan mengatakan bahwa Tifanny adalah anak jaram dan tak pantas hidup. Itu semua membuat Tifanny semakin down dan putus asa. Ia tak tau harus menceritakan masalahnya ini kepada siapa, karena biasanya ia selalu bercerita kepada Devano.
Tifanny tak pernah dekat dengan siswi manapun di sekolahnya. Bahkan bisa dibilang temannya hanyalah Devano itupun Devano terpaksa melakukannya. Sikap Tifanny yang jauh berbeda dengan Diana membuatnya sulit mendapatkan teman. Tifanny yang terlalu bawel dan suka mem-bully membuat murid di sekolahnya menjadi enggan untuk dekat dengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ma Boy
Fiksi RemajaWARNING! KETIKAN DAN ALUR MASIH BERANTAKAN DAN AKAN DI REVISI SETELAH CERITA SELESAI! SEMOGA KALIAN SUKA:))) "Mama sama papa apa-apaan si kok main jodohin aku gitu aja?Aku kan masih SMA ma, pa" -Raishya Gabriella Danishra- "Ortu gue gak salah ni? M...
