"Kau mungkin tahu perasaanku, kau mungkin tahu pikiranku, namun kau tak pernah memperdulikannya hingga setiap sudut hatiku terasa bimbang. Hanya seluruh tingkahmu yang membuatku makin bingung."
-Naila Evangeline-
-----------------------------------------
"Nih novel kesukaan lo..." ucap Noel tiba-tiba, membuat fokus Naila pada Hidrokarbon, materi Kimia yang diajarkan barusan menjadi buyar. Naila menatap cowok yang sedang berdiri tepat di depannya sambil memasang cengiran lebar menunjukkan sebuah novel yang berjudul Don't Judge a Girl by Her Cover, salah satu novel dari enam seri Gallager Girls karya Ally Carter.
"Lo dapet di mana?" tanya Naila berbinar.
"Gue nitip ke bokap gue..." jawab Noel sembali mendudukkan pantatnya di kursi yang berada tepat di samping Naila.
Naila menatap novel itu sambil mengulas senyuman manis, susah sekali untuk mendapatkan novel itu walau memang novelnya tidak seterkenal Harry Potter atau Twilight, tapi novel itu cukup membuat orang yang membacanya terhanyut. Apalagi Naila merasa kalau dia sedang melaksanakan salah satu adegan dari novel tersebut, seperti sekarang ini menyembunyikan jati diri aslinya.
Gadis itu menatap cowok yang masih mengarahkan pandangannya padanya dengan penuh haru.
"Thanks ya No, tapi ini harganya berapaan? Kalau bokap lo nyarinya di luar negeri pasti harganya kisaran enam dollaran."
"Udah, nggak usah dipikirin. Gue emang pengen beliin lo, gue kasian terakhir kali ngeliat lo lemes cuma karena novelnya kehabisan di gramed." Ucap Noel sembari menepuk-nepuk ringan bahu Naila.
Inilah yang membuat Naila bimbang akan perasaannya, Noel selalu perhatian padanya. Selalu membantunya di kala apapun, dan selalu 'ada' untuk dirinya. Tapi Noel tidak pernah mengatakan apapun. Apa benar yang dikatakan oleh Rafa kalau Noel memiliki orang lain di lubuk hatinya yang terdalam? Kalau pun ada seharusnya Naila juga mengetahuinya.
Teet...
Bel panjang berbunyi, jam istirahat yang kedua telah selesai dan memasuki jam mata pelajaran terakhir hari ini. Noel pun kembali ke tempat duduknya diikuti anak-anak lain yang mulai memasuki kelas. Jam pelajaran terakhir hari ini adalah Bahasa Indonesia, namun sepertinya Pak Raden tidak hadir karena Bu Widya, guru yang bertugas untuk piket hari ini masuk ke kals mereka, XI IPA 2.
"Anak-anak coba ibu minta perhatiannya sebentar..." ucap Bu Widya sambil mengetuk meja tiga kali agar suasana kelas yang agak riuh itu bisa mereda dan memfokuskan diri pada informasi yang akan disampaikan olehnya.
"Hari ini Pak Raden tidak bisa masuk, karena beliau sedang keluar kota. Jadi ibu diberikan pesan, kalau kalian bisa mengambil tugas di kelas XI IPA 3 pada ketua kelasnya. Nanti setelah ibu keluar ketua kelas di kelas ini langsung dilaksanakan ya..." lanjut Bu Widya.
"Iya Bu..." ucap Sean, cowok bertubuh jangkung, berkulit kuling langsat, dan berambut hitam kecokelatan, serta berkaca mata yang telah dipilih menjadi ketua kelas sejak beberapa bulan lalu.
"Kalau begitu ibu permisi, kerjakan tugas dengan baik ya..."ucap Bu Widya sambil perlahan menurunkan kakinya dari mimbar kelas.
Setelah Bu Widya keluar, kelas mulai riuh kembali. Kelas XI IPA 2 memang tak jauh berbeda dengan kelas lain, kalau ada kesempatan emas untuk bebas seperti ini mereka tidak akan menyia-nyiakannya, walau mereka hanya bisa sekedar bercanda, ngerumpi, sampai ngomongin idol mereka terutama anak K-Popers yang duduk tepat di pusat kelas. Kalau orang yang sekedar lewat di sekitar mereka pasti telinganya langsung terkontaminasi oleh nama-nama idol seperti Xiumin, Sana, Seulgi, Mingyu, Jun, ataupun sepatah dua patah bahasa Korea, seperti jeongmalyo?, daebak!. Dan itu untuk kesekian kalinya mengkontaminasi telinga Sean, saat cowok itu berjalan ke arah Naila.
"Aduh, kalian ini ribut banget! Nanti gue panggilin Taehyung sama Jungkook buat nyumpel mulut kalian!" ucap Sean dengan nada keras.
Namun bukannya malah diem geng cewek-cewek itu malah tertawa terbahak-bahak dan membalas kata-kata Sean.
"Bagus banget malah kalo lo panggilin, nggak perlu bayar tiket konser mahal-mahal lagi..." ucap Lisa, bersemangat. Ia adalah salah satu dari sekian orang yang menamai dirinya Army (fans BTS) di sekolah.
"Ah, lo nyahut aja. Kalau lo gue yang nyumpel mau?" sergah Sean sambil menyeringai.
"Ih, ogah..." sahut Lisa begidik. Sean tersenyum puas, ia kemudian melanjutkan langkah kakinya ke arah Naila.
"Nai..." ucap Sean membuat Naila menoleh secara spontan.
"Lo aja gih, yang ke kelas IPA 3. Lo kan sekertaris, kerjaan gue masih numpuk." Pinta Sean sambil menunjuk ke arah tumpukkan kuisioner penilaian guru di atas mejanya yang diberikan oleh Bu Wijaya tempo hari.
Naila mengangguk, cewek itu kemudian memasukkan novel yang baru saja dibacanya ke dalam tas. Namun ketika Naila berdiri Noel langsung mencegatnya.
"Biarin gue aja yang ke sana..." ucap Noel.
"Nggak apa-apa kok No, aku aja..." balas Naila, tapi Noel menatapnya dan menggeleng.
"Nggak, lo duduk diem di sini. Gue aja yang kesana!"
***
A/n: Halo semuanya...
Maaf ya aku updatenya telat, tapi sebagai gantinya aku update hari ini tiga kali dengan waktu yang berbeda. Part ini belum aku dedikasikan ke siapa pun karena belum ada kandidat yang sesuai kriteria.
Kalau kalian pengen didedikasiin silahkan follow aku, vote, dan komen pada cerita ini. Di tunggu ya...
Btw, untuk yang merayakan hari natal, selamat natal untuk kalian semua yeiy....
Marry Christmas ✨🎄🎉🎊
Salam unyu
Intantien♥
26 Desember 2017
KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Detention
Genç KurguBerawal dari sebuah kecerobohan kita bisa mengalami sesuatu di luar dugaan. Berawal dari sebuah kesombongan kita bisa mengalami sesuatu di luar prediksi. Berawal dari sebuah keikhlasan kita bisa mengalami sesuatu yang luar biasa. Ketika hati lebih...
