Ali sudah terlihat mondar mandir di depan ruangan UGD. Dokter masih belum keluar dari ruangan tersebut untuk memberi kabar. Raut wajahnya begitu khawatir,walau bisa dibilang perkenalannya dengan Kakek Adi terbilang singkat,tapi Ali sudah ada rasa ibah begitu dalam untuk Kakek semata wayang. Bukan itu juga, Ali cukup kagum dengan kesuksesan Kakek Adi,di tinggal istri dan anak anaknya,tidak membuat Kakek Adi putus semangat untuk bertahan hidup. Dan inilah hasinya, memiliki dua perusahaan yang terkenal seAsia bahkan hampir mendekati seluruh dunia. 'Hamba mohon ya Allah, selamatkan Kakek Adi' Ali memejamkan matanya,walaupun bibirnya tidak bergerak namun ada bibir hatinya yang selalu memohon kepada sang maha kuasa.
Tidak lama kemudia,muncul sosok berjas putih dengan wajah yang berwibawah. Buru buru Ali menghampiri sosok itu. Pria yang memiliki name tag Dr.Ravilio Faisal ikut berjalan menghampiri Ali. "Apa anda keluarga pasien?" Tanya Dokter Ravi serius. Ali tidak tau mau menjawab apa,sedangkan dia dan Kakek Adi baru bertemu tadi. Mau tidak mau,Ali hanya mengangguk pasrah. "Begini,penyakit jantung yang di derita Pasien mungkin sudah sangat parah. Hanya ada satu cara agar Pasien bisa hidup lebih lama.." Ucapan dokter Ravi menjedah, membuat Ali semakin penasaran saja. "Membutuhkan donor jantung" Bukan main,Ali kaget. Wajah berubah menjadi pucat pasih. Pikiran tak karuan,dimana ia bisa menemukan pendonor jantung? Sedangkan biaya untuk donor jantung itu begitu mahal, namun dirinya hanya OB bahkan istrinya juga butuh biaya.
"Hem,kamu berdoa saja semoga pasien bisa sembuh tanpa donor. Kami tim dokter akan berusaha semaksimal mungkin. Oh ya pasien ini memang pasien pribadi saya, dan untuk itu biaya rumah sakit sudah sering dilakukan oleh bawahan kepercayaan pasien. Kalau begitu saya permisi, pasien akan di pindahkan ke ruang rawat inap" Kata dokter Ravi,Ali hanya mengangguk dan mengikuti Kakek Adi yang di dorong dengan bangsal Rumah Sakit menuju kamar inap yang berjarak 7 meter dari kamar inap Prilly. Ali langsung mengikuti para perawat dan suster membawa tubuh lemas Kakek Adi itu.
Setelah perawat dan suster pergi dari ruangan itu,barulah Ali duduk di samping brangkar Kakek Adi. Melihat wajah tua dan keriput di wajah Kakek Adi,mengingatkan Ali kepada Papanya. Sudah beberapa minggu ini ia tidak pernah melihat kedua orang tuanya,bahkan ia juga merindukan Kakaknya,Arzha. Ali menggenggak jemari yang dingin itu, terlihat jelas urat urat di balik kulit pucat nan keriput itu. Wajah damai begitu berseri seri saat Kakek Adi tertidur seperti ini. "Kek,Ali harus apa? Ali gak tau harus mencari donor jantung kemana?" Entah bagaimana bisa,air mata Ali tiba tiba menetes begitu saja, bukan karena kasihan,bukan. Tapi Ali merasa ibah,ia berfikir bagaimana jika Papanya yang terbaring seperti ini. Bohong jika Ali tidak menyesal dengan perbuatannya itu,tapi itu bukan kesalahannya seutuhnya. Ali sudah mencari Burhan,teman yang tidak ada tanggung jawabnya menjebak dirinya dan Prilly. Rahang Ali tiba tiba mengeras,ia marah, sungguh sangat menyesal. Tapi mau di apa lagi? Semua sudah terjadi.
Jemari lemas itu tiba tiba bergerak, Ali ysng menyadarinya sontak menghapus air mata yang menetes tadi. Kakek Ali terlihat mengerejab rejabkan matanya,menyesuaikan cahaya yang masuk di indra penglihatan itu. Kakek Adi mulai menangkap sosok tampan deng pakaian kaos hitam polos,celana jens selut dan tak lupa pula sandal jepitnya. "Kamu nungguin kakek nak?" Suara parau nan lemas itu, membuat Ali meringis dalam hati kasihan sekali ,pikirnya. "Ia Kek. Kata dokter Ravi,ada bawahan Kakek yang akan membayar semua administrasi rumah sakit" Jujur Ali. Genggaman jemari layak cucu dan Kakeknya sudah terlepas sejak Kakek Adi tersadar. "Kamu masih mudah Ali. Kamu udah kuliah kan?" Mendengar kata kata Kakek Adi membuat Ali membungkam. Memang benar Ali masih mudah,masih 19 tahun, masih kuliah tapi putus gara gara incident itu.
"Kamu kenapa diam nak?"
"Ah...hah... Ada apa kek,maaf Ali diem mikirin istri Ali yang juga di rawat di sini" Mendengar itu,sontak Kakek Adi menoleh ke arah Ali yang tersenyum lebar. "Jadi kamu sudah menikah?Tapi kamu masih kelihatan mudah seperti remaja" Sanjung Kakek Adi, yang memang benar jika Ali mirip remaja,orang Ali emang remaja kok. "Ali emang remaja kek, umur Ali 19 thn,Ali menikah karena incident itu..."
Ali menjelaskan perihal kehidupan sulitnya berawal,bukannya tidak suka, tapi Kakek Adi malah tersanjung dengan sikap tanggung jawab Ali. Kakek Adi berusaha untuk mencapi punggung Ali untuk ia tepuk. "Ali, denger Kakek. Umur Kakek udah gak lama lagi. Donor jantung itu gak akan ada. Jika suatu ketika Kakek ada apa apanya. Semua kekayaan yang Kakek punya turun di tangan kamu" Sahut Kakek Adi tegas walaupun terlihat lemas sekali. Ali sontak terkejut, bagaimana bisa ia memegang kekayaan yang luar biasa banyak ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Perjuangan Sebuah Cinta
RomansaBagaimana jika di saat kalian sedang bersungguh sungguh belajar di sebuah kampus,kalian malah mendapat accident? Saat itu Renaldo Alifarzha Axello atau nama panggilannya itu Ali begitu dengan antusias belajar mengenai dunia bisnisnya usia yang mas...
