Kantin siang itu terlihat ramai. Agi sudah berada di salah satu mejanya sambil menghela napas. Sudah dua cangkir kopi yang ia habiskan siang itu, kalau ia pesan secangkir lagi bisa-bisa perutnya bakal kembung. Siang hari ini ia punya janji bertemu dengan Galuh. Gadis itu pasti akan ke kantin bukan siang ini? Pastinya sih. Lagipula dosen-dosen di kampus hampir semuanya pasti ke kantin untuk sekedar makan siang, kecuali mereka yang membawa bekal.
Beberapa mahasiswa terlihat bergerombol di sudut ruangan, mereka ketawa-ketiwi membahas berbagai persoalan. Sebagian di antara mereka ada yang berdiskusi. Mungkin cuma Agi saja di kantin itu yang tidak punya teman. Tetapi tak masalah, ia sudah terbiasa dengan semua ini. Sendirian merupakan temannya sejak dulu, semenjak ia datang ke kota ini juga ia sendirian. Tak ada siapapun yang menemaninya. Kalau orang lain memiliki teman manusia, mungkin hanya dia saja yang memiliki teman yang namanya kesendirian
Sudah satu jam dia duduk. Tak ada tanda-tanda Galuh akan pergi ke kantin. Haruskah ia menemui Galuh di ruang dosen? Dia sangat ingin membicarakan perihal makhluk asing itu dengan Galuh. Dia tak mau menghubungi orang yang ada di kartu nama itu, ia ingin bisa berbicara langsung dengan orang-orang yang sama-sama memiliki kekuatan ajaib. Kesal menunggu dia pun pergi.
Langkah kakinya menuntunnya menuju ke ruang dosen tempat fakultas MIPA. Tak jauh dari kantin tempat ia duduk selama satu jam lebih tadi. Sesampainya di sana ia berdiri sejenak melihat sekeliling. Beberapa orang lalu lalang di tempat itu dengan urusan mereka. Sementara itu para dosen terlihat sedang sibuk di dalam ruang dosen. Kemudian Agi melihat Galuh dari luar. Kaca jendela yang ada di ruang dosen itu membuatnya bisa melihat apa yang sedang dikerjakan gadis itu di dalam sana.
Hari itu Galuh memakai kerudung abu-abu. Dia tampaknya sibuk. Ah, iya. Dia sibuk. Kenapa pula aku harus memaksa dia untuk menemuiku? Bodoh sekali aku.
Ada sedikit rasa penyesalan di dalam dirinya. Mungkin dia egois, setiap orang pasti punya urusan mereka sendiri-sendiri lalu kenapa ia harus memaksa bertemu dengannya? Lagipula ia tak perlu menyalahkan Galuh kalau tak ingin bertemu dengannya. Matanya terpejam. Pikirannya mulai membuat sebuah radar yang bisa memantau semua pikiran manusia yang ada di tempat itu. Kemampuan psikokinesis yang dia miliki mulai bekerja.
"Bisa-bisanya aku sibuk hari ini, mana harus menyusun modul lagi. Seminggu ini sepertinya aku harus berkutat kepada penelitian, ingin rasanya aku segera menyelesaikan thesisku," terdengar suara Galuh melalui pikiran.
Agi membuka matanya. Dia melihat wajah Galuh yang sepertinya tertekan. Agi memusatkan pikirannya untuk melihat pikiran Galuh lebih dalam lagi. Dia melihat sesuatu yang lain, Galuh tampak seperti ketakutan.
"Sebenarnya aku ada janji siang ini, tetapi aku tak bisa melakukannya. Aku takut kekuatankulah yang menyebabkan dia seperti ini sekarang. Fokus Gal, fokus. Kau tak boleh melakukannya lagi. Biarlah dia marah kepadaku karena aku tak menepati janji, asalkan aku tak membuat orang lain celaka. Semoga dia bisa memaafkanku. Ah, walaupun tak memaafkanku juga tak apa-apa," ucap Galuh dalam pikirannya.
Pemuda itu menutup kekuatannya. Dia mengangguk paham. Galuh hari ini tak ingin diganggu. Memang ada raut wajah kecewa tetapi paling tidak, entah kenapa ia bisa lega melihat gadis itu hari ini meskipun tak berbicara kepadanya. Dia menyentuh jantungnya yang berdenyut kencang.
"Baiklah Prof, aku tak akan mengganggumu. Aku akan cari kesempatan lain," gumam Agi. Dia pun kemudian berbalik melangkah pergi. Sepertinya hari ini ia tidak beruntung. Dia berharap lain kali ia bisa berbicara dengan Galuh.
* * *
Secangkir kopi panas tersaji dengan uap mengepul dari atas permukaannya yang berwarna gelap. Pagi yang cerah dengan sinar matahari menembus kaca jendela tempat Johan bekerja. Di meja kerjanya terdapat tumpukan naskah yang sudah selesai ia baca dan pelajari. Sebagian ia corat-coret untuk dikoreksi dari berbagai kesalahan. Ini kopi dia yang ketiga. Sambil menatap langit yang cerah perasaannya resah. Bukan karena tidak ada awan, bukan pula karena sinar matahari yang panas menyengat, melainkan sesuatu dari kejauhan yang mampu ia rasakan. Di atas mejanya terdampar beberapa artikel yang dia unggah dari internet, sebagian ada gambar-gambar berserakan. Di atas kursi ada sebuah surat kabar yang memberitakan headline tentang penampakan makhluk luar angkasa yang ditumbangkan oleh pesawat TNI AU dengan judul yang cukup membuat orang tertarik "KITA TIDAK SENDIRI DI DUNIA INI".
KAMU SEDANG MEMBACA
ECHO [end]
Science FictionAgi mengalami kecelakaan pesawat ketika ia masih kecil yang mengakibatkan ia harus berpisah dengan ibunya. Dia selamat ditolong oleh Kesadaran Bumi sekaligus diberikan kekuatan yang luar biasa. Waktu berlalu ketika dia bertemu lagi dengan perempuan...
![ECHO [end]](https://img.wattpad.com/cover/132415338-64-k735016.jpg)