"Kabut apa ini sebenarnya?" gumam Sheila saat kabut gelap mulai memenuhi jalanan di kota Malang. Bersamaan dengan itu orang-orang menjerit histeris. "Gelap, semuanya gelap. Kita tak bisa keluar dari hotel!"
Mereka sekarang berada di kamar hotel. Sepertinya sedang terjadi kekacauan di luar sana. Hal itu membuat mereka tak bisa berbuat banyak.
"Kenapa?" tanya Galuh.
"Aku bisa melihat suara, pita-pita itu semuanya berwarna gelap. Kita tak bisa keluar," ujar Sheila.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Ririn.
Galuh masih memeluk Agi yang sedang gemetar. Mata Agi melirik ke kabut yang ia lihat dari kaca jendela. Kabut itu seolah-olah sedang mencari-carinya. Dengan wajah ngeri Agi kemudian mendekap Galuh lebih erat. Menyadari ketakutan itu, Galuh berusaha menenangkan Agi dengan mengusap-usap punggungnya. Yuyun juga berada di dekatnya. Melihat bagaimana dengan penuh perhatiannya Galuh menemani Agi, Yuyun turut senang. Kakaknya ternyata sudah punya orang yang bisa menjaga dirinya.
"Mas Agi, kau harus kuat. Sadarlah!" ucap Yuyun yang panik melihat kakaknya gemetar.
"Kau tak apa-apa, tenanglah!" ujar Galuh.
"Bagaimana dengan Windi dan yang lainnya?" tanya Sheila. "Aku khawatir dengan mereka."
"Kau tak perlu mencemaskan Windi. Dia lebih tangguh dari kelihatannya," jawab Galuh. "Sekarang ini, aku lebih khawatir Agi daripada yang lain."
"Aku juga khawatir dengan suamiku," ucap Sheila. "Aku tahu suatu saat nanti hari ini akan datang. Aku tak bisa menggunakan ponsel, sinyalnya mati. Aku tak tahu kabar anakku bagaimana. Trus, telpon hotel juga tak berfungsi."
Ririn mencoba ponselnya. Ia melihat di simbol sinyal hanya terlihat tanda silang. Artinya tak ada servis operator. Semuanya benar-benar lumpuh. Komunikasi lumpuh. Tiba-tiba lampu padam. Listrik mulai lumpuh juga. Sekarang tak ada penerangan yang bisa mereka jadikan teman.
"Bagus, sekarang listrik padam," gerutu Ririn.
"Selimuti aku!" pinta Agi. "Aku bisa merasakannya. Dia datang."
Yuyun segera mengambil selimut setelah itu menutupi Agi dengannya. Galuh ikut membungkus tubuh Agi dengan selimut. Galuh tak tahu bagaimana caranya lagi untuk bisa menolong Agi. Yuyun juga tak mengerti tentang keadaan kakaknya tersebut. Apa yang membuatnya bisa sampai seperti itu? Dada Galuh terasa sakit melihat penderitaan yang didapati oleh Agi. Ingin rasanya ia menghapus penderitaan itu. Tapi bagaimana?
Mungkin pertanyaan terbesarnya adalah kemana Kesadaran Bumi yang dulu pernah menemuinya? Kemana kakek-kakek yang memberikannya kekuatan yang tak diinginkannya ini?
"Aku ingin keluar sebentar," ucap Galuh.
"Mbak Gal, mau kemana? Kita aman di sini!" sergah Ririn.
Galuh menggeleng. "Ada yang harus aku lakukan. Kalian tunggu aku, jaga Agi!"
"Tenanglah, Mas Agi bisa aku jaga," ucap Yuyun. "Kau pasti punya urusan yang ingin kau selesaikan."
Galuh hanya mengangguk. Sepertinya Yuyun lebih tahu tentang apa yang ada di pikiran kekasih kakaknya tersebut. Sifat Galuh mirip dengan sifat kakaknya, ada sesuatu yang pasti disembunyikan. Seolah-olah orang lain tidak boleh tahu beban yang sedang dia pikul.
Sheila sepertinya paham apa yang sedang terjadi. Dia memberi isyarat kepada Ririn agar tenang. "Biarkan dia. Aku tahu Galuh pasti punya rencana. Bukan begitu?"
Galuh mengangguk sambil tersenyum. Tanpa berpikir panjang, dia segera pergi keluar dari kamar hotel. Dia sendiri tak tahu hendak kemana. Ia hanya ingin mencari tempat yang sunyi. Tempat yang bisa dia gunakan untuk berbicara dengan Kesadaran Bumi. Dia tahu pasti ada suatu cara yang bisa dia gunakan untuk menolong semua orang. Tetapi bagaimana?
KAMU SEDANG MEMBACA
ECHO [end]
Fiksi IlmiahAgi mengalami kecelakaan pesawat ketika ia masih kecil yang mengakibatkan ia harus berpisah dengan ibunya. Dia selamat ditolong oleh Kesadaran Bumi sekaligus diberikan kekuatan yang luar biasa. Waktu berlalu ketika dia bertemu lagi dengan perempuan...
![ECHO [end]](https://img.wattpad.com/cover/132415338-64-k735016.jpg)