Keluarnya ECHO ke langit disertai dengan ledakan di Gunung Arjuno membuat orang-orang terkejut. Hampir saja mereka mengira Gunung Arjuno bakalan meletus. Sosok makhluk besar seperti burung raksasa terbang melayang-layang di langit kota Malang. Agi berada di punggung makhluk tersebut. Bentuknya yang besar tak bisa membuatnya bersembunyi dari apapun. Kini secara terang-terangan ECHO muncul, membuat kepanikan di beberapa tempat.
Sementara itu dari markas TNI AU yang ada di Lapangan Udara Abdul Rahman Saleh dengan sigap langsung menangkap signal yang diterima dari pantauan radar. Melihat makhluk itu kembali mengudara membuat mereka sedikit cemas. Tentunya mereka tak menginginkan burung besi yang lain menjadi korban, mengingat bagaimana ketangguhan makhluk tersebut dalam menumbangkan burung-burung besi milik TNI AU.
Tak berapa lama kemudian tiba-tiba ECHO menghilang di radar. Kejadian yang cukup mengejutkan itu tentu saja membuat kepanikan. Radar-radar dinyalakan, satelit-satelit pun mulai aktif melacak kalau-kalau ketemu makhluk itu lagi.
Garry yang berada di fasilitas militer merasa tak percaya dengan apa yang dia lihat. Ruang isolasi hancur, ada lubang menganga yang cukup besar terlihat di atasnya. Anaknya sanggup menjebol kaca anti peluru yang tebalnya 15cm. Sebenarnya anak itu bisa saja menghancurkan kaca ini kapan saja. Dia tak menyangka Abisoka yang dulu berbeda dengan Abisoka yang sekarang. Dengan bantuan alien, anak itu telah memiliki kekuatan yang cukup mengerikan.
"Abisoka. Kau telah dewasa nak. Andai aku bisa mendidikmu dengan baik. Sebenarnya apa yang aku lakukan tidak salah," gumam Garry. Dia menyipitkan mata saat mendongak melihat lubang menganga itu. "Lihatlah, karenamu akan ada kekacauan yang lebih besar lagi. Tetapi tak mengapa. Sebentar lagi semuanya akan siap."
"Prof?!" panggil Rio. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Rio tampak kebingungan melihat reruntuhan ruang isolasi. Ruangan itu benar-benar hancur. Serpihan-serpihan kaca tampak berantakan ke sana kemari.
"Tak ada. Kita tetap harus menggunakan alat itu ke tingkatan selanjutnya. Aku ingin di sini sebentar menikmati ini. Putraku itu, sekarang bukan anak yang penakut lagi," kata Garry sambil menaruh tangannya ke belakang. Dia sedikit menoleh kepada Rio. "Menurutmu kenapa manusia takut?"
"Manusia takut karena ada enzim di otak yang mempengaruhi pikiran mereka. Selama produksi enzim itu bisa ditekan, maka mereka tak akan takut," jawab Rio.
"Kau tidak salah. Orang banyak mengartikan yang namanya takut. Kalau yang namanya takut itu sesuatu yang bisa dilihat dan dirasakan, maka ketakutan itu lebih dari sekedar pembentukan enzim. Ketakutan itu ada di dalam semua DNA makhluk hidup. Kegelapan yang menyelubungi setiap jejak memori yang ada di alam semesta sebelum cahaya terbentuk. Setiap makhluk hidup baik itu hewan dan tumbuhan memiliki ketakutan, mereka menggambarkan ketakutan mereka dalam berbagai cara.
"Tumbuhan menggambarkan ketakutan mereka dengan meranggas. Menghindari cahaya. Atau bertingkah yang tidak wajar, misalnya saja menunduk, meskipun sebenarnya mereka sehat. Binatang, mereka juga menggambarkan rasa takut bermacam-macam. Bertingkah lebih buas atau lebih banyak diam dan bersembunyi. Ketakutan yang lebih besar lagi adalah kematian. Siapapun yang merasakan ketakutan yang mendekati kematian, maka mereka lebih baik ingin mengakhiri semuanya dengan kematian. Rio, apa yang paling kau takutkan?"
Rio menelan ludah. Kata-kata Profesor Garry kali ini berbeda dengan kata-kata biasanya. Apakah sang profesor sedang ingin mengajarinya tentang filosofi?
"A-aku takut terhadap anjing," jawab Rio.
Garry tersenyum kepadanya. "Seandainya tidak ada anjing di dunia ini, memangnya kamu tidak takut kepada yang lainnya?"
"Ehm, tidak juga sih Prof. Mungkin iya."
"Ketakutan terbesar manusia itu ada pada kematian. Mereka sangat takut akan hal itu. Melebihi apapun. Terlebih jika mereka mengetahui kalau kematian itu benar-benar sudah ada di depan mereka. Kau akan berusaha untuk tetap hidup apabila di depanmu ada anjing gila. Dengan segala cara kau akan melawannya kalau tak bisa melarikan diri. Itu adalah sifat yang alami. Aku juga akan melakukan hal itu. Pasrah dan kematian itu bedanya tipis. Dengan pasrah orang bisa saja akan dimatikan saat itu juga. Tetapi bertahan hidup, ngotot untuk tetap hidup, itu berbeda lagi. Orang-orang yang ingin tetap hiduplah yang akan menjadi pemenangnya. Aku tak menyangka saja anakku sudah berada di tingkat itu. Dia akan selamat. Atau boleh kubilang aku tak membutuhkannya lagi," ucap Garry. Dia merogoh sakunya, lalu mengeluarkan sebatang rokok.
KAMU SEDANG MEMBACA
ECHO [end]
Science FictionAgi mengalami kecelakaan pesawat ketika ia masih kecil yang mengakibatkan ia harus berpisah dengan ibunya. Dia selamat ditolong oleh Kesadaran Bumi sekaligus diberikan kekuatan yang luar biasa. Waktu berlalu ketika dia bertemu lagi dengan perempuan...
![ECHO [end]](https://img.wattpad.com/cover/132415338-64-k735016.jpg)