"Aku tidak berani menatapmu, karena itu bisa membuatku luluh kembali." -Aleta
___________________________
"Udah basi Ta! Lo gak perlu nyesel! Udah kejadian juga kan?!" Syifa menghela nafas kemudian menepuk bahu Aleta "Jangan terlalu ambil pusing Ta.. Kalau lo emang gak suka dan terus ngerasa berdosa? Katakan yang sejujurnya di depan semua orang!"
Syifa berjalan bersisiran dengan Aleta menuju gerbang utama sekolahnya.
Ini hanya untuk memancing perhatian Angga, karena tidak mungkin mereka tiba-tiba datang tanpa alasan lagipula di parkiran sangat ramai apalagi ini baru bel pulang.
"Aleta.." panggil seseorang yang suaranya sudah tidak asing lagi di dengar.
Aleta maupun Syifa menoleh kearah sumber suara, tanpa diketahuinya tiba-tiba tubuh cowok jangkung itu sudah ada dihadapan mereka berdua.
"Kenapa?"
"Gue antar pulang ya?" tawar Angga dengan raut wajah terlihat sangat senang.
"Mmm.. Nggak usah A.. An.. Anggi eh--" sebisa mungkin Aleta menunjukan wajah bingungnya agar perannya benar-benar sempurna.
"Angga," jawab Angga cepat dengan kekehan kecil.
"Iya.. Angga, gue bareng Syifa,"
Angga mengacak rambut Aleta gemas, dia baru menyadari jika Aleta sangat lucu ketika gugup. Kini tatapan Angga beralih pada Syifa "Lo bisa pulang sendiri kan Syif?"
Syifa menghela nafas, berusaha menetralkan raut wajahnya yang tidak bersahabat "Ck! Oke deh.. dari pada gue disini jadi obat nyamuk!" balas Syifa kesal menyilang kedua tangannya didepan dada lalu beralih menatap Aleta "Gue balik duluan ya Ta," setelah mengatakan itu Syifa melemparkan tatapan tajamnya pada Angga "Jangan coba godain Aleta! Jagain sahabat gue! Awas kalau gue dengar kabar Aleta yang nggak baik!"
Apa maksud Syifa berkata seperti itu? Dia pikir Aleta tidak bisa jaga diri? Dia pikir Aleta mudah tergoda?
Dahi Aleta menyerngit, ingin sekali mengumpat sahabatnya yang asal jeplak ini.
Setelah mengatakan itu, Syifa langsung berlalu dari hadapan Aleta dan Angga.
"Ayo," kemudian Angga menggandeng tangan Aleta sampai ke tempat parkiran, dimana motornya itu berada.
Aleta menurut ketika tangannya sudah ditarik oleh Angga.
Saat sudah sampai diparkiran, seketika tubuh Aleta membeku tidak berniat melepaskan pandangannya dari pemilik mata coklat milik seseorang yang dia sayang, melihatnya saja sudah membuatnya rindu apalagi menyapanya?
Mulutnya sangat sulit untuk menganga. Oke mungkin terdengar lebay! Tapi sungguh Aleta sangat merindukannya.
Angga dari tadi sudah melepaskan genggamannya dengan Aleta sebelum Samudra datang. Ya.. Seseorang itu adalah Samudra, cowok yang Aleta cintai.
Angga sedang mengeluarkan motornya dari parkiran itu.
Aleta baru sadar ke dunia nyata ketika Samudra telah mengalihkan pandangannya terlebih dahulu.
"Nganter pulang pacar Ga?" tanya Samudra yang sedang menyender pada mobilnya sambil mengutak-atik ponselnya.
Mata Aleta mulai panas, tenggorokannya terasa kelu apalagi keringat dingin yang terus mengucur dipelipisnya. Aleta benar-benar tidak menyangka dengan pertanyaan konyol itu!
Angga yang mendengar itu merasa tidak enak hati, apalagi jika dipikir-pikir dia telah merusak hubungan orang lain.
"Lo sendiri Sam? Si Reza mana?" Angga sengaja mengalihkan topik pembicaraan, saat selesai mengeluarkan motornya Angga langsung menaikan motornya lalu memakai helm.
"Biasalah, si Reza lagi nyariin si Syi-"
"Syifa udah pulang!" potong Aleta cepat kemudian naik dan duduk dijok motor belakang Angga.
Angga menyalakan mesin motornya, lalu mengklakson; setidaknya untuk memberi tanda pada Samudra kalau dia pulang duluan.
Setelahnya motor Angga sudah tidak terlihat lagi diparkiran.
Samudra menghela nafas, mengacak rambutnya kasar "Sial! Aleta makin cantik!"
-----
Angga mematikan mesin motornya ketika sudah sampai di depan rumah Aleta.
"Ma-mampir dulu yuk Ga?" tawar Aleta terbata-bata sekaligus gugup entah karena apa.
"Boleh nih?" Aleta mengangguk.
Kemudian mengepalai Angga berjalan kearah pintu depan rumahnya, namun belum sempat sampai Aleta menghentikan langkahnya membuat Angga juga ikut berhenti. Aleta membalikan tubuhnya menghadap Angga.
"Ada apa?"
"Angga.. Gue boleh tanya?"
"Silahkan.." Angga mengacak rambut Aleta kemudian tersenyum.
Aleta menatap Angga lekat-lekat, Angga memang tampan, sangat manis, ramah, sopan, dan baik hati. Namun tetap saja soal perasaan memang tidak bisa berbohong.
"Angga beneran pacar Aleta?" tanyanya sehati-hati mungkin, semoga Angga tidak mencurigainya.
Pertanyaan Aleta membuat Angga lebih memilih bungkam. Di satu sisi Angga sangat senang sudah memiliki Aleta tapi disisi lain dia telah melupakan perasaan Samudra yang pastinya sangat sakit merelakan orang yang disayanginya. Angga merasa dirinya sudah seperti orang jahat, dan dia baru menyadari itu.
Namun tidak mau berpikir panjang, Samudra pasti lama-kelamaan akan bisa melupakan Aleta begitupun sebaliknya. Ketika Aleta sudah ingat semuanya mungkin dengan berjalannya waktu dia bisa menerima keadaan.
Angga menarik sudut bibirnya keatas "Kenapa Ta?"
Aleta menggeleng kemudian tersenyum "Nanti bantu gue buat ingat semuanya ya Ga,"
Lama-kelamaan senyum diwajah Angga pudar.
"Kenapa Ga? Gue salah ngomong ya?"
"Nggak," Angga tersenyum kembali.
Kalau Sam bisa selingkuh sama siswi baru, kenapa gue nggak? Aleta tersenyum picik, memikirkan sebuah rencana yang sempurna untuk kedepannya.
♥♡♥
See you the next part
KAMU SEDANG MEMBACA
ALETA
Teen Fiction[END] Selamat berimajinasi untuk hubungan Aleta dan Samudra. Copyright, 2017.
