Sudah satu minggu berlalu hubungan Aleta dan Samudra kian hari kian membaik. Tidak ada lagi perlakuan kasar Samudra. Tidak ada lagi pura-pura tak mengenal. Terkadang juga mereka pergi dan pulang sekolah bersama.
Syifa dan Sonya yang melihat itu merasa amat bahagia. Karena rencana mereka tentu tidak sia-sia.
Sonya memasukkan potongan siomay kedalam mulutnya "Gimana sama Aleta?"
"Maksud lo?" Kenapa Sonya tiba-tiba menanyakan Aleta, padahal sudah jelas-jelas tadi pagi ia melihat Aleta sedang tertawa dengan Samudra.
"Dia masih marah gak sama lo, soal kejadian di Cafe seminggu yang lalu?"
"Mungkin."
"Kok, mungkin?"
"Semenjak kejadian itu sampai sekarang pun Aleta kayak gak mau kenal lagi sama gue,"
"Lo, belum jujur?"
Syifa menggeleng.
"Bodoh!" Umpat Sonya yang harus sabar menghadapi kekanakan Syifa.
"Kok bodoh, sih?!"
"Pasti lo gak pernah niat nyapa dia duluan, kan?"
Syifa mengangguk. Yang dikatakan Sonya memang benar.
"Harusnya lo yang nyapa duluan dan minta maaf karena yang mulai rencana ini kan lo, Aleta mana tahu!"
"Oke deh, gue ngerti."
-----
"Pulang sekolah mampir ke rumah gue yuk..?"
"Ngapain?"
Aleta tersenyum lebar "Gue pingin masakkin buat lo,"
Boleh juga, selama ini kan Samudra belum pernah mencicipi masakan dari Aleta.
"Nanti aku tunggu di mobil ya, kamu langsung masuk aja."
Aleta tertawa, Samudra yang melihat itu menyerngit bingung.
"Kenapa?"
Geli rasanya mendengar aku-kamu dengan tingkah sok manis Samudra. Meski ini bukan pertamakalinya tapi tetap saja terasa aneh.
"Sejak kapan Samudra mengubah panggilan ke Aleta jadi aku-kamu dengan nada sok manis."
"Biar kamu senang."
Aleta menatap heran. "Dari awal kita pacaran sampai sekarang pun baru akhir-akhir ini ada kata aku-kamu. Bahkan lo gak pernah rayain anniversary kita."
"Gue gak akan berubah Ta, gue tetap Samudra yang dulu. Soal anniversary, nanti akan kita rayakan setelah resmi menikah."
"Ngaco!" Aleta mencubit lengan Samudra gemas. Samudra mengaduh kesakitan, tapi Aleta tidak perduli.
Aleta melingkarkan tangannya pada salah satu tangan Samudra kemudian bersandar di bahunya. "Jangan pernah abaikan gue lagi, Sam.."
Rahang Samudra mengeras, apa Aleta benar-benar sakit hati akan hal itu?
Samudra mencium puncak kepala Aleta. "Jangan pernah nangis karena gue lagi."
Aleta tersenyum kecil, bahkan ia melupakan fakta bahwa mereka sedang berada di taman belakang sekolah.
"Sam, kita masih di area sekolah, nanti kalau sampai ketahuan pacaran di lingkungan sekolah gimana?" Aleta mengangkat kepalanya kemudian bangkit berdiri dan menarik tangan Samudra "Ayo belajar biar gak bego kayak barusan."
Samudra langsung bangun "Iya, Sayang."
Pipi Aleta mulai memanas. Samudra sialan! Selalu bikin pipi gue blushing. Kan malu.
Aleta menunduk "Gue ada pelajaran olahraga, jadi harus ganti baju, bye..." setelah mengatakan itu Aleta berlari kecil ke kelasnya. Meninggalkan Samudra disana, sendirian.
Samudra tahu Aleta pasti salah tingkah. Karena siang bolong begini di sekolahnya mana ada jam pelajaran olahraga. Bukannya sehat, yang ada merusak kulit.
-----
"Syif, gue mau ngomong." Reza memang sengaja berdiri di pintu kelas Syifa karena ingin mengatakan hal penting.
"Ya-yaudah ngomong aja..." aduh bego! Kenapa gugup gini, sih?! "Syifa dengerin kok."
"Tipe cowok lo kayak gimana?"
"Kok Reza nanyanya gitu?"
Ya abisnya gue bingung, tiba-tiba ditolak sama lo. Apa gue kurang menarik?
"Nanya doang.." jawabnya sambil menggaruk tengkuk, merasa sedikit canggung ketika berbicara langsung.
"Tipe cowok Syifa yang satu keyakinan, satu agama, sholeh, sayang sama Syifa dan orang tua Syifa, baik, lebih tinggi dari Syifa, punya masa depan, pokoknya gitu deh."
Jangan-jangan si Reza nanya ini karena....
"Za maaf ya, alasan Syifa nolak Reza waktu itu karena Syifa shock ditembak langsung sama cowok. Selama ini kan Syifa terlalu sibuk sama dunia Kpop dan gak terlalu perduli sama urusan cinta."
Reza tersenyum lalu mengangguk. "Gue pikir karena gue jelek."
"Nggak kok, nggak! Reza itu tampan kulitnya putih lagi, malah Syifa suka."
Menyadari mulutnya telah berbicara lewat batas, Syifa langsung membekap mulutnya lalu merutuki dirinya sendiri dalam hati.
"Lo suka sama gue?"
"Za, gue lupa belum ngerjain tugas kimia. Duluan ke kelas ya." Syifa menepuk bahu Reza lalu berjalan tergopoh-gopoh ke dalam kelas.
Gue bakal rubah rasa suka itu jadi cinta. Reza tersenyum, sangat puas dengan alasan sekaligus jawaban Syifa.
♥♡♥
See you the next part
KAMU SEDANG MEMBACA
ALETA
Fiksi Remaja[END] Selamat berimajinasi untuk hubungan Aleta dan Samudra. Copyright, 2017.
